Dokter Miskin Palestina Menghadapi Penindasan
2 Agu 2026, 23.01

Dr. Mazen Rantisi, seorang dokter Palestina berusia 71 tahun yang dikenal sebagai 'dokter miskin', mengatakan bahwa ia telah mengalami penindasan fisik dan kelalaian medis sejak ditahan oleh otoritas Israel lebih dari sebulan yang lalu.
Ia dikenal karena sering membebaskan biaya konsultasi, menyediakan obat-obatan, dan mengoperasikan klinik yang menjadi tempat perlindungan bagi warga Palestina berpenghasilan rendah. Dr. Rantisi ditahan dalam sebuah serbuan fajar di rumahnya di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, pada tanggal 21 Juni.
Penahanan dan Tuduhan
Penahanan Dr. Rantisi dipicu oleh tuduhan bahwa ia menjabat sebagai ketua dewan yayasan Union of Health Work Committees, sebuah organisasi non-profit Palestina yang menyediakan perawatan medis bagi ribuan warga Palestina setiap tahunnya.
Menurut laporan, Dr. Rantisi mengatakan kepada seorang pengacara dari Komite Publik Melawan Penyiksaan di Israel bahwa pihak penjara menahan obat-obatan rutinnya selama 10 hari pertama di penjara Ofer dan masih menolak memberinya salah satu obat-obatannya.
Konteks Umum
Situasi ini menimbulkan keprihatinan tentang kondisi penjara di Israel dan perlakuan terhadap tahanan, terutama mereka yang berasal dari kalangan masyarakat sipil.
Organisasi kesehatan dan hak asasi manusia telah menyerukan agar Israel memperbaiki kondisi penjara dan memastikan bahwa semua tahanan menerima perawatan medis yang memadai.
Pelajaran dan Refleksi
Kasus Dr. Rantisi mengingatkan kita tentang pentingnya memperjuangkan hak asasi manusia dan kesehatan, terutama bagi mereka yang paling rentan.
Ia juga menekankan pentingnya solidaritas dan dukungan bagi mereka yang berjuang untuk keadilan dan kemanusiaan.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



