Ormas Islam

Peta ormas Islam terbesar, asal-usul, dan basis massanya

Halaman ini merangkum organisasi dan gerakan Islam besar di Indonesia serta dunia. Fokusnya bukan hanya jumlah, tetapi juga asal-usul, pendiri, corak dakwah, dan cara membaca angka afiliasi publik.

Cara membaca ranking

Angka ormas tidak bisa disamakan begitu saja: ada anggota formal, simpatisan, afiliasi budaya, jaringan dakwah longgar, dan lembaga internasional.

Untuk Indonesia, ukuran paling berguna adalah afiliasi publik dalam survei, bukan hanya kartu anggota formal.

Untuk dunia, beberapa gerakan seperti Tablighi Jamaat tidak memakai sistem keanggotaan rapi, sehingga skalanya hanya bisa dibaca sebagai perkiraan.

Indonesia

NU

Afiliasi publik Muslim terbesar dalam survei nasional.

Amal Usaha

Muhammadiyah

Jaringan pendidikan, kesehatan, dan sosial yang sangat luas.

Global

Tablighi

Gerakan dakwah transnasional dengan struktur longgar.

Catatan

Tidak identik

Anggota formal, simpatisan, dan kedekatan budaya adalah ukuran berbeda.

Klasifikasi Populasi Indonesia

Afiliasi publik Muslim Indonesia

Survei yang menanyakan kedekatan responden dengan ormas Islam menunjukkan distribusi yang timpang. NU berada jauh di depan, Muhammadiyah lebih kecil dalam afiliasi survei tetapi sangat besar dalam jangkauan amal usaha, sedangkan banyak Muslim tidak menyebut ormas tertentu.

Nahdlatul Ulama (NU)

49,5% - 56,9%

Sekitar 120 - 150 juta warga/simpatisan bila dihitung dari populasi Muslim Indonesia.

Menjadi afiliasi publik paling besar di Indonesia. Basisnya kuat di pesantren, kampung, jaringan kiai, majelis taklim, dan amaliyah Aswaja tradisional.

Muhammadiyah

4,3% - 5,8%

Survei afiliasi publik lebih kecil, tetapi klaim simpatisan dan jangkauan amal usaha bisa mencapai puluhan juta.

Kuat dalam pendidikan modern, rumah sakit, kampus, panti sosial, tajdid, dakwah perkotaan, dan jaringan Aisyiyah.

Ormas lain gabungan

1% - 3%

Mencakup Persis, Al-Washliyah, Nahdlatul Wathan, LDII, Hidayatullah, PUI, Al-Irsyad, dan ormas regional lain.

Masing-masing tidak selalu besar secara nasional, tetapi banyak yang sangat kuat di wilayah tertentu seperti Sumut, NTB, Banten, Jawa Barat, atau kota-kota dakwah.

Tidak berafiliasi / lain-lain

sekitar 34% - 41%

Kelompok besar Muslim yang tidak menyebut ormas tertentu saat survei.

Dalam praktik ibadah, sebagian tetap condong pada corak NU, Muhammadiyah, Salafi, jamaah lokal, tarekat, majelis taklim, atau praktik keluarga tanpa label ormas.

Indonesia

Ormas Islam utama dan asal-usulnya

Urutan berikut bukan ranking mutlak anggota formal. Fokusnya adalah ormas yang punya pengaruh sosial, pendidikan, dakwah, atau basis massa penting di Indonesia.

Indonesia Afiliasi publik terbesar di Indonesia

Nahdlatul Ulama

Berdiri: 31 Januari 1926 M / 16 Rajab 1344 H, Surabaya

Tokoh awal: KH Hasyim Asy'ari bersama ulama pesantren seperti KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri

Corak: Aswaja pesantren, Syafiiyah, sosial-keagamaan

Lahir dari jaringan kiai pesantren, Komite Hijaz, dan kebutuhan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah di tengah arus modernisme, kolonialisme, dan perubahan politik Hijaz.

Pesantren, bahtsul masail, tahlil, maulid, tradisi kitab kuning, gerakan sosial, kaderisasi ulama, serta model Islam Nusantara.

Indonesia Ormas Islam modernis terbesar kedua di Indonesia

Muhammadiyah

Berdiri: 18 November 1912 M / 8 Dzulhijjah 1330 H, Kauman Yogyakarta

Tokoh awal: KH Ahmad Dahlan, kemudian diperkuat Nyai Ahmad Dahlan dan Aisyiyah

Corak: Tajdid, pendidikan, kesehatan, amal usaha

Berangkat dari pembaruan pendidikan, pemurnian tauhid, penguatan Al-Quran dan sunnah, serta kebutuhan membangun umat yang maju melalui sekolah, rumah sakit, dan pelayanan sosial.

Sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, Lazismu, Aisyiyah, tarjih, gerakan literasi, dan dakwah modern berbasis organisasi yang rapi.

Indonesia Kuat di Jawa Barat dan jejaring pendidikan pembaru

Persatuan Islam (Persis)

Berdiri: 12 September 1923 M / ±1342 H, Bandung

Tokoh awal: Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus; kemudian kuat melalui Ahmad Hassan dan Mohammad Natsir

Corak: Tajdid, kajian dalil, pendidikan

Bermula dari kelompok studi dan pengajian yang mendorong kembali kepada Al-Quran dan sunnah, kritik takhayul-khurafat-bidah, serta tradisi debat ilmiah.

Pesantren Persis, tradisi tarjih dalil, penerbitan keagamaan, kader dakwah, dan pengaruh pemikiran pembaruan Islam Indonesia.

Indonesia Basis kuat Sumatera Utara dan jaringan madrasah

Al-Jam'iyatul Washliyah

Berdiri: 30 November 1930 M / ±1349 H, Medan

Tokoh awal: Pelajar Maktab Islamiyah Tapanuli, dengan tokoh seperti Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab, M. Arsjad Th. Lubis, dan Syekh Muhammad Yunus

Corak: Pendidikan, dakwah, sosial, Aswaja

Lahir dari kebutuhan menyambungkan umat yang terpecah dan memperkuat pendidikan Islam pada masa Hindia Belanda.

Madrasah, sekolah, dakwah, amal sosial, jaringan ulama Sumatera Timur, dan kontribusi perjuangan kemerdekaan.

Indonesia Basis sangat kuat di NTB dan diaspora Lombok

Nahdlatul Wathan

Berdiri: 1 Maret 1953 M / ±1372 H, Pancor Lombok

Tokoh awal: TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Corak: Pesantren, pendidikan, dakwah regional

Bertumbuh dari Madrasah NWDI dan NBDI yang membangun pendidikan Islam di Lombok sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Ribuan madrasah, pesantren, majelis, kader guru, dan dakwah Islam di Nusa Tenggara Barat.

Indonesia Jaringan nasional dengan pembinaan warga dan masjid

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

Berdiri: 1972 M / ±1392 H sebagai YAKARI; 1990 M / ±1411 H menjadi LDII

Tokoh awal: Berawal dari Yayasan Lembaga Karyawan Islam; nama LDII ditetapkan setelah perubahan organisasi

Corak: Dakwah, pendidikan warga, pengajian terstruktur

Mengalami beberapa fase nama organisasi sebelum memakai nama Lembaga Dakwah Islam Indonesia pada 1990 M / ±1411 H.

Pengajian rutin, pembinaan keluarga, masjid, pesantren, kader dakwah, dan program kebangsaan.

Indonesia Jaringan pesantren dan dai nasional

Hidayatullah

Berdiri: 5 Februari 1973 M / ±1393 H, Balikpapan

Tokoh awal: Ustadz Abdullah Said

Corak: Pesantren, dakwah, kaderisasi dai

Bermula dari pesantren di Karang Bugis, lalu berkembang ke Gunung Tembak sebagai pusat kultur Hidayatullah.

Pengiriman dai, pesantren, sekolah, BMH, kampus, kaderisasi, dan dakwah ke wilayah pedalaman.

Indonesia Basis kuat Jawa Barat, terutama Majalengka dan Sukabumi

Persatuan Ummat Islam (PUI)

Berdiri: Akar 1917 M / ±1335 H; fusi nasional 5 April 1952 M / ±1371 H, Bogor

Tokoh awal: KH Abdul Halim dan KH Ahmad Sanusi melalui penggabungan dua arus organisasi Islam Jawa Barat

Corak: Pendidikan, dakwah, persatuan umat

Lahir dari gagasan menyatukan gerakan pendidikan dan dakwah Islam yang sebelumnya berjalan melalui organisasi berbeda.

Madrasah, pesantren, gerakan sosial, kader ulama Jawa Barat, dan kontribusi tokoh pejuang kemerdekaan.

Indonesia Jaringan pendidikan dan pembaruan Islam perkotaan

Al-Irsyad Al-Islamiyyah

Berdiri: 6 September 1914 M / ±1332 H, Batavia

Tokoh awal: Syekh Ahmad Surkati dan tokoh komunitas Arab-Hadrami di Hindia Belanda

Corak: Tajdid, pendidikan, dakwah tauhid

Berawal dari madrasah Al-Irsyad dan pembaruan pendidikan bagi komunitas Muslim urban, terutama keturunan Arab dan masyarakat luas.

Sekolah, dakwah tauhid, reformasi sosial komunitas Hadrami, dan pengaruh pada pemikiran pembaru Islam Indonesia.

Indonesia Basis kuat Banten dan jaringan pendidikan

Mathla'ul Anwar

Berdiri: 10 Juli 1916 M / ±1334 H, Menes Banten

Tokoh awal: KH Mas Abdurrahman, KH Tb. Mohammad Sholeh, KH E. Mohammad Yasin, dan ulama Menes

Corak: Pendidikan, dakwah, sosial

Lahir sebagai gerakan pendidikan Islam di Menes untuk mencetak ulama, guru, dan masyarakat berakhlak.

Madrasah, pesantren, dakwah Banten, kaderisasi guru, dan penguatan tradisi keilmuan lokal.

Garis Waktu Indonesia

Dari tajdid, pesantren, sampai dakwah kader

1912 M / ±1330 H

Muhammadiyah dan pembaruan amal usaha

Gerakan sekolah, kesehatan, dan dakwah modern menjadi model baru organisasi Islam di Hindia Belanda.

1914–1923 M / ±1332–1342 H

Al-Irsyad, Mathlaul Anwar, dan Persis

Muncul jaringan pendidikan, tajdid, dan kajian dalil di Batavia, Banten, dan Bandung.

1926 M / ±1344–1345 H

NU dan konsolidasi pesantren

Ulama pesantren membangun wadah nasional untuk menjaga mazhab, tradisi kitab, dan kepentingan umat.

1930–1953 M / ±1349–1372 H

Ormas regional tumbuh kuat

Al-Washliyah di Sumatera Utara, PUI di Jawa Barat, dan Nahdlatul Wathan di Lombok menguatkan pendidikan daerah.

1970-an M / ±1390-an H

Dakwah kader dan pembinaan warga

LDII dan Hidayatullah menunjukkan bentuk baru pembinaan jamaah, pesantren, dai, dan organisasi nasional.

Dunia

Gerakan dan organisasi Islam besar lintas negara

Daftar dunia ini menggabungkan ormas formal, gerakan dakwah longgar, NGO internasional, dan organisasi payung. Karena bentuknya berbeda, bagian ini memakai istilah pengaruh dan jaringan, bukan ranking angka tunggal.

India, Pakistan, Bangladesh, dan diaspora global Gerakan dakwah transnasional non-partai

Tablighi Jamaat

Berdiri: 1926 M / ±1344–1345 H, Mewat India

Tokoh awal: Maulana Muhammad Ilyas Kandhlawi

Skala: Salah satu gerakan dakwah Islam terbesar di dunia; estimasi pengikut sangat beragam karena tidak memakai keanggotaan formal rapi.

Muncul di Mewat untuk menghidupkan kembali praktik dasar Islam di tengah masyarakat Muslim pedesaan India Utara.

Khuruj, halaqah masjid, dakwah dari rumah ke rumah, ijtima besar, dan jaringan lintas negara.

Indonesia Ormas sosial-keagamaan tradisionalis

Nahdlatul Ulama

Berdiri: 1926 M / 1344 H, Surabaya

Tokoh awal: KH Hasyim Asy'ari dan ulama pesantren

Skala: Sering disebut ormas Islam formal terbesar berdasarkan afiliasi publik Indonesia.

Berangkat dari jaringan pesantren dan kebutuhan menjaga tradisi mazhab serta otoritas ulama.

Model organisasi massa berbasis ulama, pesantren, amaliyah Aswaja, pendidikan, dan gerakan sosial.

Indonesia Ormas pembaruan sosial-keagamaan

Muhammadiyah

Berdiri: 1912 M / ±1330 H, Yogyakarta

Tokoh awal: KH Ahmad Dahlan

Skala: Salah satu ormas Islam modernis terbesar dengan jaringan sekolah, kampus, rumah sakit, dan layanan sosial sangat luas.

Lahir dari pembaruan pendidikan dan dakwah amal saleh di kota Yogyakarta.

Amal usaha pendidikan-kesehatan, tarjih, Aisyiyah, dan gerakan Islam berkemajuan.

Mesir dan cabang transnasional Gerakan dakwah, sosial, dan politik

Ikhwanul Muslimin / Muslim Brotherhood

Berdiri: 1928 M / ±1346–1347 H, Ismailia Mesir

Tokoh awal: Hasan al-Banna

Skala: Gerakan sosial-politik Islam paling berpengaruh di Timur Tengah modern; status hukumnya berbeda-beda antar negara.

Muncul sebagai respons terhadap kolonialisme, modernitas, krisis sosial, dan perdebatan peran Islam dalam negara.

Jaringan pendidikan, amal sosial, partai/gerakan politik, dan pengaruh pada banyak gerakan Islam abad ke-20 M / ±abad 14 H.

Pakistan, India, Bangladesh, dan diaspora Asia Selatan Gerakan dakwah, pemikiran, dan politik

Jamaat-e-Islami

Berdiri: 1941 M / ±1359–1360 H, Lahore India Britania

Tokoh awal: Abul A'la Maududi

Skala: Gerakan ideologis-politik besar di Asia Selatan dengan cabang berbeda setelah pemisahan India-Pakistan.

Dibangun untuk menjadikan Islam sebagai sistem sosial-politik dan merespons nasionalisme sekuler serta kolonialisme.

Literatur Maududi, kaderisasi, partai politik, dakwah kampus, dan perdebatan Islamisme modern.

India Organisasi ulama, pendidikan, advokasi umat

Jamiat Ulama-i-Hind

Berdiri: 1919 M / ±1337–1338 H, India

Tokoh awal: Ulama Deobandi dan tokoh gerakan Khilafat/anti-kolonial

Skala: Salah satu organisasi Muslim India paling tua dan berpengaruh.

Lahir dari ulama India yang ingin memiliki wadah permanen untuk membimbing umat dan melawan kolonialisme.

Pendidikan Deobandi, advokasi Muslim India, nasionalisme bersama, dan jaringan ulama.

Pakistan dan jaringan global Dakwah, pendidikan, media Islam

Dawat-e-Islami

Berdiri: 1981 M / ±1401 H, Karachi Pakistan

Tokoh awal: Muhammad Ilyas Attar Qadri

Skala: Gerakan dakwah Sunni Barelvi/Qadiri yang menyebar melalui madrasah, majelis, media, dan diaspora.

Dibentuk untuk memperkuat dakwah Sunni Barelvi dan pembinaan amaliyah keagamaan masyarakat.

Madani Channel, majelis, kursus keislaman, jaringan masjid, publikasi, dan dakwah urban.

Arab Saudi dan kantor global NGO internasional dan diplomasi keagamaan

Muslim World League

Berdiri: 1962 M / ±1381–1382 H, Makkah

Tokoh awal: Konferensi Islam di Makkah dengan dukungan Arab Saudi

Skala: Lembaga Islam internasional besar, tetapi bukan ormas massa berbasis anggota seperti NU atau Muhammadiyah.

Dibentuk untuk dakwah global, hubungan antar Muslim, dan representasi Islam internasional.

Konferensi, dakwah internasional, dialog antaragama, bantuan, dan jejaring lembaga Islam dunia.

Turki dan diaspora Pendidikan, filantropi, dialog, jejaring sosial

Hizmet / Gulen Movement

Berdiri: Akhir 1960-an M / ±1380-an H, Izmir Turki

Tokoh awal: Fethullah Gulen

Skala: Jaringan pendidikan dan masyarakat sipil transnasional; sangat kontroversial dan dibatasi keras oleh pemerintah Turki setelah 2016 M / ±1437–1438 H.

Bermula dari kelompok baca dan pembinaan pelajar yang dipengaruhi gagasan Said Nursi dan dakwah pendidikan.

Sekolah, asrama, media, dialog antaragama, jaringan diaspora, sekaligus kontroversi politik besar di Turki.

Nigeria Organisasi payung, dakwah, advokasi umat

Jama'atu Nasril Islam

Berdiri: 1962 M / ±1381–1382 H, Nigeria Utara

Tokoh awal: Ahmadu Bello, Sardauna of Sokoto

Skala: Payung penting organisasi Islam di Nigeria, terutama kawasan utara.

Dibentuk untuk menyatukan kepentingan Islam dan menjadi kanal komunikasi umat Muslim Nigeria.

Koordinasi ormas, hubungan dengan pemerintah, dakwah, pendidikan, dan penguatan identitas Muslim Nigeria.

Edukasi Intermazhab

Sejarah dialog Sunni-Syiah: dari Dar at-Taqrib, Fatwa Syaltut, sampai Risalah Amman

Bagian ini disusun dengan bahasa ilmiah, objektif, santun, dan wasathiyah. Tujuannya membantu santri memahami sejarah mazhab secara jernih: teguh menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi tidak mudah terseret kebencian dan takfir.

Sunni / Ahlussunnah wal Jama’ah

±85–90% Muslim dunia

Mayoritas umat Islam global; basis kuat di Indonesia, Asia Tenggara, Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Asia Selatan, dan banyak komunitas diaspora.

Syiah secara global

±10–15% Muslim dunia

Populasi besar terdapat di Iran, Irak, Azerbaijan, Bahrain, Lebanon, sebagian Yaman, Pakistan, India, dan diaspora dunia.

NU di Indonesia

±90–150 juta warga/kultural

Perkiraan luas karena NU berbasis kultural, jamaah, pesantren, dan jaringan sosial-keagamaan, bukan hanya kartu anggota formal.

Syiah lokal Indonesia

±200 ribu–2,5 juta

Kisaran estimasi bervariasi karena sebagian komunitas tidak tercatat formal dan kondisi sosial-politik lokal berbeda-beda.

1. Pendahuluan dan sejarah awal

Dalam sejarah Islam, Sunni atau Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi arus mayoritas umat. Sunni bertumpu pada kesinambungan ajaran Al-Qur’an, Sunnah, ijma’ ulama, dan tradisi empat mazhab fikih besar: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Di Nusantara, tradisi Sunni tumbuh melalui pesantren, tarekat mu’tabarah, kajian kitab, dan adab bermasyarakat.

Syiah muncul sebagai komunitas yang sejak awal memberi perhatian khusus pada kepemimpinan Ahlul Bait, terutama Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah dan keturunannya. Perbedaan ini mula-mula berakar pada persoalan politik pasca-wafat Rasulullah ﷺ pada abad ke-7 Masehi / abad 1 Hijriah. Dalam perjalanan sejarah, ia berkembang menjadi perbedaan teologis, fikih, spiritualitas, dan struktur otoritas keagamaan.

  • Sunni global: sekitar 85–90% populasi Muslim dunia.
  • Syiah global: sekitar 10–15% populasi Muslim dunia.
  • Basis Sunni: tersebar luas di Asia Tenggara, Afrika, Timur Tengah, Turki, Asia Selatan, dan diaspora.
  • Basis Syiah: kuat di Iran, Irak, Azerbaijan, Bahrain, Lebanon, sebagian Yaman, serta komunitas Asia Selatan dan diaspora.

Bagi santri, memahami sejarah ini bukan untuk menyalakan permusuhan, melainkan agar tidak membaca konflik mazhab secara dangkal. Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tetap perlu dijaga, dan adab ilmiah menuntut kita membedakan antara kajian kritis, perbedaan fikih, perbedaan teologi, konflik politik, serta perilaku takfir yang berbahaya.

632 M / 11 H

Wafat Rasulullah ﷺ dan musyawarah kepemimpinan

Perbedaan awal berkaitan dengan imamah/kepemimpinan umat. Pada fase ini, istilah Sunni-Syiah belum menjadi sistem mazhab seperti yang dikenal kemudian.

656–661 M / ±35–41 H

Masa Sayyidina Ali dan fitnah politik awal

Perang Jamal, Shiffin, dan Tahkim meninggalkan luka politik yang kelak dibaca ulang oleh berbagai tradisi teologi dan sejarah.

680 M / ±60–61 H

Tragedi Karbala

Wafatnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma menjadi peristiwa besar dalam memori umat Islam, terutama dalam pembentukan identitas Syiah.

Abad 8–10 M / ±abad 2–4 H

Kodifikasi fikih dan teologi

Mazhab fikih Sunni menguat melalui jaringan ulama, sementara tradisi Ja’fari berkembang dalam komunitas Imamiyah. Pada masa ini perbedaan makin memiliki struktur keilmuan.

1947 M / ±1366 H

Dar at-Taqrib di Kairo

Forum pendekatan antarmadzhab mempertemukan ulama Al-Azhar dan ulama Syiah. Majalah Risalat al-Islam menjadi salah satu kanal gagasan taqrib.

1959 M / ±1378–1379 H

Fatwa Mahmud Syaltut

Mazhab Ja’fari diakui dalam ranah fikih sebagai mazhab yang dapat diamalkan, tanpa menghapus perbedaan teologis Sunni-Syiah.

1980-an M / ±1400-an H

Ketegangan politik pasca-Revolusi Iran

Revolusi Iran 1979 M / ±1399 H dan perang Iran-Irak membuat isu Sunni-Syiah sering bercampur dengan geopolitik, bukan semata kajian keilmuan.

2004–2005 M / ±1424–1426 H

Risalah Amman

Ulama dunia menegaskan pengakuan delapan mazhab besar dan larangan takfir sembarangan untuk menjaga darah, kehormatan, dan persatuan umat.

2016 M / ±1437–1438 H

Deklarasi Marrakesh

Deklarasi ini tidak khusus Sunni-Syiah, tetapi penting dalam wacana toleransi, perlindungan minoritas, dan hidup berdampingan dalam negara modern.

2. Monumen sejarah 1 — Fatwa Mahmud Syaltut (1959 M / ±1378–1379 H)

Salah satu monumen penting dialog intermazhab abad modern adalah gerakan Dar at-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyyah di Kairo. Lembaga ini berdiri pada tahun 1947 M / ±1366 H sebagai ruang temu antara sebagian ulama Al-Azhar dan ulama Syiah. Tujuannya bukan menyamakan seluruh aqidah dan identitas, melainkan mengurangi prasangka, membuka dialog ilmiah, dan mencari titik temu dalam maslahat umat.

Di antara nama yang sering dikaitkan dengan gerakan ini adalah Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut. Fatwa beliau yang masyhur, tertanggal 17 Rabiul Awal 1378 H dan banyak dirujuk dalam literatur tahun 1959 M / ±1378–1379 H, menyatakan bahwa Mazhab Ja’fari atau Syiah Dua Belas Imam memiliki kedudukan sebagai mazhab fikih yang boleh diikuti dalam ibadah dan muamalah, sebagaimana mazhab fikih lain dalam Islam.

Pokok makna fatwa: pengakuan ini berada pada wilayah fikih dan keabsahan beramal menurut mazhab Ja’fari, bukan berarti menghapus seluruh perbedaan teologis antara Sunni dan Syiah.

Bagi pembaca Ahlussunnah wal Jama’ah, posisi yang adil adalah memahami fatwa ini sebagai ikhtiar meredakan pertikaian dan menata dialog ilmiah. Fatwa tersebut tidak mengharuskan seorang Sunni berpindah mazhab, tidak membatalkan kewajiban menjaga aqidah Aswaja, dan tidak menutup ruang kritik terhadap pandangan yang menyelisihi prinsip Ahlussunnah.

3. Monumen sejarah 2 — Risalah Amman / Amman Message (2004–2005 M / ±1424–1426 H)

Risalah Amman berawal dari inisiatif Raja Abdullah II dari Yordania pada tahun 2004 M / ±1424–1425 H. Konteksnya adalah meningkatnya kekerasan sektarian, ekstremisme, dan penyalahgunaan takfir di berbagai tempat. Inisiatif ini berkembang menjadi deklarasi ulama dunia pada 2005 M / ±1425–1426 H yang menegaskan batas perbedaan mazhab dan bahaya mengkafirkan sesama Muslim tanpa otoritas ilmu.

Tokoh-tokoh besar dari berbagai negeri, lembaga fatwa, dan tradisi keilmuan terlibat. Dalam konteks Syiah, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dari Iran dan Ayatollah Sayyid Ali Al-Sistani dari Irak tidak hadir secara fisik karena pertimbangan protokol keamanan dan situasi politik, tetapi mengirimkan fatwa resmi tertulis. Fatwa tertulis tersebut menjadi salah satu pilar hukum penting dalam legitimasi deklarasi lintas mazhab ini.

HanafiMalikiSyafi’iHanbaliJa’fariZaydiIbadiZahiri

Isi penting Risalah Amman adalah pengakuan terhadap delapan mazhab besar Islam, meliputi mazhab-mazhab Sunni, Syiah, Ibadi, dan Zahiri. Deklarasi ini juga menegaskan larangan mengkafirkan pengikut mazhab-mazhab yang diakui selama mereka berada dalam pokok-pokok Islam.

4. Perspektif ulama Nusantara dan konteks Indonesia

Di Indonesia, lanskap keagamaan sangat dipengaruhi oleh tradisi Sunni Ahlussunnah wal Jama’ah. Nahdlatul Ulama, pesantren, jaringan kiai, majelis taklim, dan tradisi kitab kuning menjadi penjaga penting aqidah Aswaja. NU sering dipahami memiliki basis kultural sangat besar, dengan estimasi sekitar 90–150 juta warga atau simpatisan kultural.

  • NU Indonesia: sekitar 90–150 juta warga/simpatisan kultural, tergantung metode penghitungan.
  • Syiah Indonesia: sekitar 200 ribu–2,5 juta, tergantung sumber estimasi dan definisi komunitas.
  • Kesimpulan demografis: Syiah adalah minoritas sangat kecil dibanding arus besar Sunni-Aswaja di Indonesia.

Sikap moderat ulama Nusantara, termasuk tradisi para pendiri NU, dapat diringkas dalam dua amanah: membentengi aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah melalui ilmu, sanad, kitab, pesantren, dan adab; serta menjaga persaudaraan sesama Muslim dan kedamaian bangsa. Umat tidak diarahkan menjadi longgar tanpa prinsip, tetapi juga tidak diarahkan menjadi keras tanpa ilmu.

Ukhuwah Islamiyah bukan berarti semua perbedaan dianggap sama. Ukhuwah berarti perbedaan dikelola dengan akhlak, hukum, dan kemaslahatan. Santri perlu mengenal batas aqidah, memahami sejarah, mampu membaca sumber, dan tidak mudah terseret provokasi. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, kedewasaan bermazhab adalah bagian dari adab kebangsaan dan adab keilmuan.

5. Adab membaca perbedaan mazhab

Teguh dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tanpa mencaci dan merendahkan manusia.

Bedakan kajian ilmiah, kritik aqidah, konflik politik, dan provokasi media sosial.

Jangan melakukan takfir tanpa ilmu, otoritas, dan kaidah ulama.

Dahulukan maslahat bangsa, keselamatan masyarakat, dan adab ukhuwah Islamiyah.

Penutup: teguh Aswaja, lapang dalam ukhuwah

SantriOnline memandang materi ini sebagai pendidikan literasi mazhab. Seorang santri harus kokoh dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, mencintai para sahabat dan Ahlul Bait, menghormati ulama, serta berhati-hati dalam perkara takfir. Dialog intermazhab yang benar bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi mengelolanya dengan ilmu, adab, dan maslahat umat.

Kesimpulan

NU paling besar secara afiliasi publik Indonesia

Secara survei Indonesia, NU menempati posisi dominan. Muhammadiyah lebih kecil dalam afiliasi responden, tetapi sangat besar dalam kualitas organisasi, amal usaha, pendidikan, kesehatan, dan pengaruh pemikiran. Ormas lain sering tidak besar secara nasional, namun kuat secara regional dan membentuk keragaman umat.