Kepala Pen America Mundur, Tuduh Institusi Sastra Menghapuskan Palestina
13 Jul 2026, 23.02

Kepala Pen America, Dinaw Mengestu, baru-baru ini mengundurkan diri dari jabatannya setelah hanya tujuh bulan menjabat. Ia mengundurkan diri karena institusi sastra tersebut dianggapnya menghapuskan pengalaman dan hak-hak bangsa Palestina.
Mengestu, seorang novelis Ethiopia-Amerika yang terkenal, keluar dari jabatan presiden Pen America setelah organisasi tersebut menerbitkan laporan tentang dampak emosional pada penulis Israel dan Amerika-Yahudi setelah kejadian di Gaza. Banyak penulis yang melaporkan kehilangan pekerjaan atau kesempatan karir.
Pen America dan Gerakan BDS
Mengestu menulis di Instagram bahwa Pen America gagal mempertahankan kebebasan berekspresi dengan adil dan setara. Ia juga mendukung gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang dilindungi.
Gerakan BDS diluncurkan oleh bangsa Palestina pada tahun 2005 sebagai gerakan non-kekerasan global untuk mengakhiri pendudukan, segregasi, dan blokade Israel terhadap bangsa Palestina.
Reaksi Pen America
Pen America mengeluarkan pernyataan bahwa mereka menghargai kepemimpinan Mengestu dan menghormati keputusannya untuk mengundurkan diri. Namun, organisasi tersebut juga menegaskan bahwa mereka akan terus mempertahankan kebebasan berekspresi dan menentang segala upaya untuk menghambat pertukaran internasional literatur, seni, pengetahuan, dan budaya.
Pen America juga menambahkan bahwa mereka akan mempertahankan hak-hak penulis untuk berpartisipasi dalam atau mendukung boikot tanpa menghadapi pembalasan.
Konteks Umum
Konflik Israel-Palestina telah berlangsung selama beberapa dekade dan telah menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Gerakan BDS telah menjadi salah satu cara bagi bangsa Palestina untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan menentang pendudukan Israel.
Kebebasan berekspresi dan kebebasan berbicara merupakan hak asasi manusia yang fundamental. Namun, dalam konteks konflik Israel-Palestina, kebebasan berekspresi seringkali dibatasi oleh kepentingan politik dan keamanan.
Pelajaran dan Refleksi
Kasus Mengestu dan Pen America menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi dan kebebasan berbicara tidak selalu dihormati dalam konteks konflik politik. Namun, penting bagi kita untuk terus memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan mempertahankan kebebasan berekspresi.
Kita juga perlu memahami bahwa gerakan BDS bukanlah hanya tentang boikot, tetapi juga tentang memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina dan menentang pendudukan Israel.
