Pemakaman Khamenei

10 Jul 2026, 11.02

Thumbnail Pemakaman Khamenei

Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang meninggal, telah berlangsung di kota Mashhad setelah upacara pemakaman selama enam hari. Menurut media Iran, antara 41 dan 43 juta orang menghadiri upacara pemakaman ini, dengan Press TV Iran menyebutnya sebagai "prosesi terbesar yang pernah disaksikan dunia".

Upacara Pemakaman

Upacara pemakaman dimulai pada hari Sabtu ketika puluhan ribu warga Iran berkumpul di kompleks agama Grand Mosalla di Tehran untuk melihat peti mati Khamenei. Upacara berlangsung di lima kota di Irak dan Iran, termasuk Tehran, Qom, Najaf, Karbala, dan Mashhad, tempat Khamenei dimakamkan di kompleks suci Syiah terbesar di negara itu.

Pengunjuk rasa meminta balas dendam, termasuk menyanyikan "Kematian bagi Amerika" dan membawa spanduk yang bertuliskan "Bunuh Trump". Yang lain membawa bendera merah dengan kata "Syahid".

Latar Belakang

Ayatollah Ali Khamenei mengambil alih peran sebagai pemimpin politik dan agama Iran pada 1989 dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, setelah menjabat sebagai presiden Iran selama perang Iran-Irak. Ia menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran selama hampir empat dekade sebelum meninggal pada usia 86 tahun bersama putrinya, menantunya, dan cucunya dalam serangan udara gabungan AS-Israel di kompleksnya di Tehran.

Serangan itu menandai hari pertama perang AS-Israel melawan Iran, yang masih berlangsung dan gagal mencapai tujuan perang awal untuk memaksa Iran menyerah dan mengganti rezim dengan menumbangkan pemimpin tertinggi.

Pelajaran dan Refleksi

Peristiwa ini mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi tantangan. Selain itu, upacara pemakaman yang dihadiri oleh banyak orang menunjukkan betapa besar pengaruh dan penghormatan yang diberikan kepada Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai umat Islam, kita harus selalu mengingatkan diri kita tentang pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan di antara kita, serta menghormati pemimpin dan tokoh yang telah berjasa bagi umat.

Dirangkum dari: Middle East Eye