Tensi di Hormuz: Iran Peringatkan Korea Selatan, Pentingnya Diplomasi
6 Sep 2026, 11.01

Situasi geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali menjadi sorotan setelah seorang akademisi Iran, Mohammad Marandi, menyampaikan peringatan tegas kepada Korea Selatan. Peringatan ini muncul terkait potensi partisipasi Seoul dalam misi yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengamankan navigasi di Selat Hormuz. Pernyataan Marandi ini menggarisbawahi sensitivitas dan ketegangan yang masih menyelimuti jalur perairan strategis tersebut.
Dalam sebuah wawancara di program 'The Grand Standoff' Al Mayadeen, Mohammad Marandi menegaskan bahwa jika Korea Selatan memutuskan untuk bergabung dalam upaya yang dianggap sebagai 'perang melawan Iran', maka Teheran akan memandang Seoul sebagai musuh. Konsekuensinya, Iran tidak akan segan untuk 'menghancurkan aset-aset apa pun yang dimiliki Korea Selatan di wilayah ini'. Pernyataan ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional.
Ancaman Terhadap Aset Korea Selatan
Marandi secara spesifik menjelaskan bahwa target serangan tidak hanya terbatas pada instalasi militer, melainkan juga dapat mencakup aset-aset ekonomi Korea Selatan yang tersebar di berbagai negara Teluk Persia. Ia menyebutkan potensi sasaran di Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Menurutnya, posisi Korea Selatan sangat rentan terhadap Iran, dan Teheran memiliki kemampuan untuk 'melukai mereka dengan sangat parah'. Peringatan ini menunjukkan betapa seriusnya Iran dalam menanggapi setiap langkah yang dianggap mengancam kepentingannya di kawasan.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, menjadi pintu gerbang vital bagi sebagian besar pasokan minyak global. Setiap gangguan di selat ini dapat memicu gejolak pasar energi internasional dan berdampak luas pada ekonomi global. Oleh karena itu, keamanan navigasi di Selat Hormuz selalu menjadi isu krusial yang melibatkan banyak pihak.
Ketegangan di Teluk Persia bukanlah hal baru. Kawasan ini telah lama menjadi titik panas geopolitik dengan berbagai aktor regional dan internasional yang memiliki kepentingan beragam. Persaingan pengaruh, sanksi ekonomi, dan aliansi militer seringkali menciptakan dinamika yang kompleks dan rentan terhadap eskalasi. Dalam konteks ini, setiap keputusan yang diambil oleh negara-negara di kawasan maupun kekuatan global harus dipertimbangkan dengan sangat matang untuk menghindari dampak yang tidak diinginkan.
Pentingnya Diplomasi dan Moderasi dalam Islam
Sebagai umat Islam, khususnya yang berpegang teguh pada ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), kita diajarkan untuk senantiasa mengedepankan nilai-nilai perdamaian, dialog, dan moderasi. Islam menyeru umatnya untuk menghindari permusuhan dan mencari jalan keluar melalui musyawarah serta diplomasi. Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW banyak mengajarkan tentang pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama, bahkan dengan mereka yang berbeda keyakinan, selama tidak ada permusuhan yang nyata.
Dalam menghadapi situasi global yang penuh tantangan seperti ini, umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menyerukan perdamaian dan keadilan. Para pemimpin negara Muslim diharapkan dapat menjadi teladan dalam menunjukkan kebijaksanaan, menahan diri dari provokasi, dan selalu mengutamakan dialog untuk menyelesaikan perselisihan. Pendekatan Aswaja yang moderat (wasathiyah) mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan yang dapat merugikan banyak pihak, melainkan mempertimbangkan segala aspek dengan cermat dan bijaksana.
Penting bagi kita semua, terutama para santri dan generasi muda, untuk memiliki literasi yang baik dalam memahami isu-isu internasional. Dengan pemahaman yang komprehensif, kita dapat menyaring informasi, tidak mudah terprovokasi, dan turut serta dalam menyuarakan perdamaian. Informasi yang akurat dan berimbang dapat ditemukan di berbagai platform terpercaya, termasuk melalui artikel-artikel yang disajikan oleh SantriOnline, yang berkomitmen menyajikan berita dengan perspektif Islam yang santun dan mencerahkan.
Menjaga Persatuan Umat dan Stabilitas Global
Refleksi keumatan mengajarkan kita bahwa setiap konflik, di mana pun terjadinya, pada akhirnya akan berdampak pada seluruh umat manusia. Oleh karena itu, menjaga stabilitas regional dan global adalah tanggung jawab bersama. Doa dan upaya nyata untuk menciptakan perdamaian harus terus digaungkan, agar ketegangan yang terjadi tidak berujung pada konflik terbuka yang merugikan semua pihak.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin dunia untuk mengambil keputusan yang bijaksana, yang mengutamakan kemaslahatan umat dan stabilitas global. Mari kita terus berdoa agar perdamaian dan keadilan senantiasa ditegakkan di seluruh penjuru bumi, serta konflik dapat dihindari melalui jalan diplomasi yang konstruktif dan saling pengertian.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



