80-120 H
Murid besar tabi'in mulai menonjol
Generasi ini menerima ilmu dari tokoh seperti al-Zuhri, Nafi', Ata', Qatadah, Hasan al-Basri, dan al-Sha'bi. Mereka menjadi penghubung langsung antara majelis tabi'in dan imam abad kedua.
Generasi Tabi'ut Tabi'in
Tabi'ut tabi'in adalah murid generasi tabi'in. Pada fase ini, tradisi lisan tetap kuat, tetapi penyusunan kitab, pemetaan mazhab, kritik hadis, dan madrasah kota mulai tampak lebih matang.
Posisi
Generasi setelah tabi'in dan sebelum fase imam-imam besar abad ketiga.
Ciri
Mulai kuatnya kodifikasi hadis, kitab fiqih awal, dan kritik sanad yang lebih sistematis.
Dampak
Menjadi jembatan langsung menuju mazhab-mazhab Sunni dan karya klasik utama.
Definisi
Tabi'ut tabi'in adalah generasi yang bertemu dan belajar kepada tabi'in. Mereka berada satu tingkat setelah murid sahabat, sehingga banyak sanad penting melewati mereka sebelum masuk ke kitab-kitab hadis, fiqih, tafsir, dan rijal.
Fase ini penting karena ilmu Islam mulai bergerak dari majelis lisan menuju susunan bab, catatan kitab, pemetaan perawi, dan metode istinbat yang lebih mudah diwariskan.
Tugas Sejarah
Jumlah riwayat makin banyak, wilayah makin luas, dan persoalan masyarakat makin kompleks. Karena itu generasi tabi'ut tabi'in memperkuat cara menilai perawi, membandingkan jalur, mengelompokkan bab, dan merumuskan jawaban fiqih dengan lebih sistematis.
80-120 H
Generasi ini menerima ilmu dari tokoh seperti al-Zuhri, Nafi', Ata', Qatadah, Hasan al-Basri, dan al-Sha'bi. Mereka menjadi penghubung langsung antara majelis tabi'in dan imam abad kedua.
120-150 H
Para penuntut ilmu berpindah antar kota: Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, Syam, Mesir, Yaman, dan Khurasan. Perbandingan riwayat antar daerah membuat kritik sanad semakin tajam.
130-180 H
Hadis, atsar, fatwa, dan bab fiqih mulai dihimpun lebih sistematis. Al-Muwatta, mushannaf awal, dan catatan fatwa kota menjadi tanda kuatnya fase kodifikasi.
150-200 H
Murid generasi ini melahirkan fase Imam Syafi'i, Ahmad bin Hanbal, Ali ibn al-Madini, Yahya ibn Ma'in, dan para penyusun kitab hadis abad ketiga.
Madinah
Madinah menjadi simbol kesinambungan amal masyarakat Nabi. Imam Malik menyusun fiqih dengan kuat berpijak pada hadis, atsar, dan praktik penduduk Madinah.
Makkah
Makkah menghubungkan jalur Ata', Ibn Jurayj, Sufyan ibn Uyaynah, dan murid-murid besar yang kelak menjadi guru para imam abad ketiga.
Kufah
Kufah kuat dalam riwayat Ibn Mas'ud, Ali, dan ulama Irak. Sufyan al-Thawri dan Waki' menjadi penghubung penting ke tradisi musnad dan kritik hadis.
Basrah
Basrah melahirkan tokoh seperti Shu'bah dan Yahya al-Qattan. Dari kota ini disiplin menilai perawi dan menguji riwayat menjadi semakin tegas.
Syam - Beirut
Al-Awza'i menjadi poros fiqih Syam. Pandangannya berpengaruh di wilayah Syam dan Andalus awal sebelum peta mazhab terkonsolidasi.
Mesir dan Khurasan
Layth ibn Sa'd di Mesir dan Abdullah ibn al-Mubarak di Khurasan menunjukkan keluasan jaringan ilmu lintas wilayah pada abad kedua Hijriyah.
Pusat Ilmu
1 tokoh utama
Imam Dar al-Hijrah, perumus awal mazhab Maliki
Imam Malik menandai fase kodifikasi ilmu di Madinah. Al-Muwatta menggabungkan hadis, fatwa sahabat, dan praktik penduduk Madinah menjadi kerangka fiqih yang rapi.
Guru Tabi'in
Nafi' mawla Ibn Umar, al-Zuhri, Hisham ibn Urwah, Yahya ibn Said al-Ansari
Murid Lanjutan
Imam al-Shafii, Abd al-Rahman ibn al-Qasim, Ibn Wahb
Pusat Ilmu
1 tokoh utama
Imam fiqih Syam pada fase awal
Al-Awza'i menjadi poros keilmuan Syam sebelum mazhab-mazhab besar terkonsolidasi. Pandangannya sangat berpengaruh dalam fiqih Syam, Andalus awal, dan tradisi hadis.
Guru Tabi'in
Hasan al-Basri, Ata ibn Abi Rabah, Qatadah, al-Zuhri
Murid Lanjutan
al-Walid ibn Muslim, Abu Ishaq al-Fazari
Pusat Ilmu
2 tokoh utama
Imam hadis dan fiqih Irak
Al-Thawri dikenal sebagai imam besar Irak dalam hadis dan fiqih. Ia juga menjadi simbol kezuhudan serta kehati-hatian menghadapi kekuasaan politik.
Guru Tabi'in
al-Sha'bi, Mansur ibn al-Mutamir, Jafar al-Sadiq
Murid Lanjutan
Abd al-Rahman ibn Mahdi, Waki ibn al-Jarrah, Yahya al-Qattan
Guru hadis dan fiqih Kufah
Waki dikenal sebagai guru para imam hadis besar. Ia menyalurkan warisan ilmiah Kufah ke fase penyusunan musnad dan kitab-kitab hadis abad ketiga.
Guru Tabi'in
Sufyan al-Thawri, al-A'mash, Misar ibn Kidam
Murid Lanjutan
Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawayh
Pusat Ilmu
1 tokoh utama
Pemuka jarh wa ta'dil generasi awal
Shu'bah sering disebut amir al-mu'minin fi al-hadith pada zamannya. Ia berjasa besar dalam membangun disiplin kritik perawi dan kehati-hatian sanad.
Guru Tabi'in
Qatadah, al-Hakam ibn Utaybah, Amr ibn Murrah
Murid Lanjutan
Yahya al-Qattan, Abd al-Rahman ibn Mahdi, Ali ibn al-Madini
Pusat Ilmu
2 tokoh utama
Penghimpun ilmu Makkah generasi awal
Ibn Jurayj berperan dalam pengumpulan riwayat dan fikih Makkah. Jalurnya penting untuk meneruskan tradisi para ulama Haramayn ke fase penulisan yang lebih sistematis.
Guru Tabi'in
Ata' ibn Abi Rabah, Amr ibn Dinar
Murid Lanjutan
Abd al-Razzaq al-Sanani, Sufyan ibn Uyaynah
Muhaddith besar Makkah
Ibnu Uyaynah menjadi jembatan penting antara tradisi ilmu Makkah dan generasi imam besar abad ke-2 hingga ke-3 Hijriyah. Jalur riwayatnya tersebar luas dalam kitab hadis.
Guru Tabi'in
Amr ibn Dinar, al-Zuhri, Ibn Jurayj
Murid Lanjutan
al-Shafii, Ahmad ibn Hanbal, Ali ibn al-Madini
Pusat Ilmu
1 tokoh utama
Imam Mesir dan mujtahid besar
Layth menjadi otoritas tertinggi Mesir pada masanya. Keluasan ilmunya diakui para imam, walau mazhabnya tidak bertahan sebagai mazhab formal seperti empat mazhab Sunni.
Guru Tabi'in
Nafi' mawla Ibn Umar, Ata ibn Abi Rabah, Ibn Shihab al-Zuhri
Murid Lanjutan
al-Shafii, Abdullah ibn Wahb
Pusat Ilmu
1 tokoh utama
Ulama hadis, zuhud, dan jihad
Ibn al-Mubarak merepresentasikan generasi ilmuwan pengembara yang menggabungkan hadis, adab, dan kesungguhan hidup. Karyanya banyak memengaruhi literatur zuhud Sunni.
Guru Tabi'in
Sufyan al-Thawri, al-Awzai, Hammad ibn Zayd
Murid Lanjutan
Ahmad ibn Hanbal, Nuaym ibn Hammad
Kalau generasi tabi'in menjaga transfer ilmu dari sahabat, maka generasi tabi'ut tabi'in mulai mematangkan metodologi. Dari sinilah muncul jalan menuju Muwatta, kitab-kitab hadis, disiplin jarh wa ta'dil, serta pembentukan tradisi hukum yang kemudian dikenal sebagai mazhab Sunni.
Riwayat mulai dikumpulkan menurut guru, bab, dan tema. Disiplin membandingkan sanad semakin diperlukan karena wilayah Islam makin luas.
Fatwa Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, Syam, dan Mesir mulai terlihat sebagai tradisi hukum lokal yang kelak memberi bahan bagi mazhab.
Penilaian terhadap hafalan, kejujuran, ketelitian, dan pertemuan antar perawi mulai menjadi ilmu tersendiri.
Ulama bepergian jauh untuk mendengar hadis langsung, menguji riwayat, dan membandingkan fatwa antar pusat ilmu.
Generasi ini menjaga kesederhanaan, takut kepada kedudukan, serta memperingatkan bahaya ilmu yang tidak membuahkan amal.
Karya dan sanad mereka menjadi bahan utama bagi musnad, sahih, sunan, kitab rijal, tafsir, dan karya fiqih setelahnya.