DMI Ajak Umat Islam Tunaikan Shalat Istisqa Hadapi Kekeringan dan Karhutla
23 Agu 2026, 11.06

Dewan Masjid Indonesia (DMI) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi alam dan umat dengan menyerukan pelaksanaan shalat Istisqa. Seruan ini ditujukan kepada seluruh umat Islam di penjuru tanah air agar secara serentak menunaikan shalat memohon hujan tersebut pada periode Agustus hingga awal September 2026. Langkah ini merupakan wujud ikhtiar batiniah dalam menghadapi ancaman kekeringan panjang dan potensi kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang kerap menjadi persoalan serius di Indonesia.
Sebagai organisasi yang menaungi masjid-masjid di Indonesia, DMI memahami pentingnya peran spiritual dalam menyikapi berbagai tantangan hidup, termasuk bencana alam. Shalat Istisqa adalah salah satu ajaran Rasulullah SAW yang diajarkan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT ketika terjadi kemarau panjang. Seruan ini bukan hanya sekadar ajakan beribadah, melainkan juga pengingat akan ketergantungan manusia kepada Sang Pencipta dan pentingnya merajut kebersamaan dalam doa.
Inti Seruan dan Maknanya
Seruan DMI untuk melaksanakan shalat Istisqa secara serentak ini memiliki makna yang mendalam. Pelaksanaan yang serentak diharapkan dapat menciptakan gelombang doa yang lebih kuat, menunjukkan persatuan umat dalam memohon rahmat Allah SWT. Jadwal yang ditetapkan, yaitu Agustus hingga awal September 2026, kemungkinan besar didasarkan pada perkiraan musim kemarau ekstrem yang berpotensi terjadi di tahun tersebut, sebagaimana hasil analisis dan informasi dari berbagai pihak terkait.
Kekeringan dan karhutla bukan hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, ekosistem, dan perekonomian. Oleh karena itu, ikhtiar spiritual melalui shalat Istisqa menjadi sangat relevan sebagai pelengkap dari upaya-upaya lahiriah yang telah dan akan terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. DMI mengajak umat untuk merenungi dosa-dosa dan memohon ampunan, karena seringkali musibah datang sebagai teguran atas kelalaian manusia.
Shalat Istisqa sendiri merupakan shalat sunah yang tata caranya mirip dengan shalat Idul Fitri atau Idul Adha, dilakukan secara berjamaah di lapangan terbuka atau masjid, diikuti dengan khutbah yang berisi istighfar, doa, dan permohonan hujan. Pelaksanaannya diiringi dengan kerendahan hati dan keyakinan penuh bahwa hanya Allah SWT yang Maha Kuasa menurunkan hujan dan menghilangkan kesulitan.
Konteks Umum: Tantangan Kekeringan dan Karhutla di Indonesia
Indonesia, sebagai negara tropis, memang memiliki dua musim utama: hujan dan kemarau. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, fenomena perubahan iklim global telah menyebabkan anomali cuaca yang semakin ekstrem. Musim kemarau seringkali berlangsung lebih panjang dan intens, memicu kekeringan di banyak wilayah, terutama di daerah-daerah pertanian yang sangat bergantung pada pasokan air.
Kekeringan ini kemudian seringkali diikuti oleh bencana karhutla. Kebakaran hutan dan lahan, selain disebabkan oleh faktor alam seperti daun kering dan gesekan ranting, juga seringkali diperparah oleh aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak disengaja, dalam pembukaan lahan atau kelalaian. Dampaknya sangat merugikan, mulai dari kabut asap yang mengganggu kesehatan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga kerugian ekonomi yang besar.
Menyadari kompleksitas masalah ini, DMI melalui seruannya mengingatkan umat bahwa selain upaya mitigasi dan pencegahan secara fisik, dimensi spiritual juga tidak boleh diabaikan. Ini adalah bentuk pengamalan ajaran Islam yang mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan ukhrawi, antara usaha manusia dan tawakal kepada Allah SWT. Musibah alam dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menjaga amanah bumi yang telah Allah titipkan.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Ikhtiar, Adab, dan Tanggung Jawab Umat
Dari seruan DMI ini, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga sesuai dengan perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Pertama, ini adalah manifestasi dari prinsip tawazun (keseimbangan) dalam Islam, di mana ikhtiar lahiriah (usaha pencegahan, konservasi air, penegakan hukum) harus selalu diiringi dengan ikhtiar batiniah (doa, istighfar, dan shalat Istisqa). Aswaja mengajarkan bahwa kita harus berusaha semaksimal mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dengan penuh tawakal.
Kedua, shalat Istisqa adalah bentuk tadabbur (perenungan) dan pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah. Ketika segala upaya manusia terasa terbatas, kita kembali kepada sumber segala kekuatan. Adab dalam berdoa, khususnya saat Istisqa, adalah dengan penuh kerendahan hati, khusyuk, dan keyakinan bahwa Allah pasti mendengar doa hamba-Nya yang tulus. Ini juga menjadi momen untuk introspeksi dan bertaubat dari segala dosa dan kelalaian.
Ketiga, seruan untuk shalat serentak memperkuat nilai ukhuwah Islamiyah dan tanggung jawab sosial. Ketika satu bagian dari umat menderita, seluruh tubuh merasakan. Doa bersama adalah wujud kepedulian dan solidaritas. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan (hifzhul bi'ah) sebagai bagian dari amanah kekhalifahan di bumi. Merusak lingkungan berarti mengabaikan amanah ini. Untuk terus memperdalam pemahaman keislaman dan isu-isu keumatan, pembaca dapat mengunjungi SantriOnline sebagai sumber informasi yang terpercaya dan edukatif.
Melalui shalat Istisqa, kita diajak untuk kembali merajut hubungan yang lebih erat dengan Allah SWT, memahami tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta, dan menguatkan ikatan persaudaraan sesama muslim. Ini adalah pendidikan spiritual yang mendalam, mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa, senantiasa berprasangka baik kepada Allah, dan terus berupaya memperbaiki diri serta lingkungan.
Penutup
Seruan Dewan Masjid Indonesia untuk melaksanakan shalat Istisqa pada Agustus-September 2026 adalah panggilan mulia bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Ini adalah kesempatan untuk bersatu dalam doa, memohon rahmat Allah SWT agar terhindar dari musibah kekeringan dan karhutla. Mari kita sambut seruan ini dengan hati yang tulus, penuh harap, dan diiringi dengan upaya nyata menjaga kelestarian alam, sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan tanggung jawab kita sebagai hamba-Nya.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



