IKAPETE Jatim Kobarkan Semangat Nahdlatut Tujjar untuk Kemandirian Umat

6 Sep 2026, 11.06

Thumbnail IKAPETE Jatim Kobarkan Semangat Nahdlatut Tujjar untuk Kemandirian Umat

Surabaya – Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Jawa Timur baru-baru ini menyelenggarakan rapat penting di Surabaya, sebuah pertemuan yang menandai komitmen kuat untuk mengukuhkan kemandirian ekonomi umat. Dalam rapat tersebut, digelorakan kembali semangat luhur Nahdlatut Tujjar, sebuah spirit yang diyakini menjadi kunci bagi keberlangsungan dan kedaulatan gerakan sosial serta keagamaan di era modern ini. Langkah strategis ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah visi jangka panjang untuk memastikan organisasi keagamaan mampu berdiri tegak dan berkhidmat tanpa bergantung pada pihak eksternal.

Komitmen ini secara tegas disampaikan oleh KH. Roisudin Bakrie saat memimpin jalannya rapat penyusunan pengurus Pimpinan Wilayah IKAPETE Jawa Timur. Beliau menekankan bahwa kemandirian finansial adalah fondasi krusial yang memungkinkan umat untuk berdaya, mengembangkan dakwah, pendidikan, dan berbagai program kemasyarakatan dengan penuh integritas. Semangat ini diharapkan tidak hanya menjadi jargon, melainkan diinternalisasi dan diwujudkan dalam setiap langkah strategis yang akan diambil oleh para alumni Tebuireng di Jawa Timur.

Menggali Kembali Spirit Nahdlatut Tujjar

Inti dari pembahasan rapat ini adalah revitalisasi spirit Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang), sebuah gerakan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal berdirinya. Nahdlatut Tujjar didirikan oleh KH. Wahab Chasbullah pada tahun 1918, jauh sebelum NU resmi berdiri pada 1926. Gerakan ini merupakan cikal bakal yang mempersiapkan landasan ekonomi bagi perjuangan ulama dan pesantren, menyadari bahwa dakwah dan pendidikan membutuhkan dukungan finansial yang kuat dan mandiri.

Di masa itu, Nahdlatut Tujjar berperan penting dalam mengumpulkan dana, mengelola usaha, dan memberdayakan ekonomi masyarakat muslim agar tidak mudah diintervensi oleh kekuatan asing atau pihak-pihak yang tidak sejalan. Para ulama pendiri NU sangat memahami bahwa kemandirian ekonomi adalah prasyarat bagi kemandirian politik dan keagamaan. Tanpa kekuatan ekonomi yang memadai, sulit bagi sebuah organisasi untuk mempertahankan idealismenya dan menjalankan misi dakwah secara optimal. Oleh karena itu, mengelorakan kembali spirit ini di abad kedua NU, khususnya melalui peran alumni pesantren, menjadi sangat relevan dan mendesak.

Konteks saat ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi umat semakin kompleks. Globalisasi, persaingan bisnis yang ketat, serta berbagai gejolak ekonomi menuntut umat untuk lebih inovatif dan kolaboratif dalam membangun kekuatan ekonomi. IKAPETE Jatim melihat bahwa para alumni pesantren, dengan bekal ilmu agama dan jaringan yang luas, memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi umat. Dengan mengadopsi kembali nilai-nilai Nahdlatut Tujjar, diharapkan tercipta ekosistem ekonomi yang kuat, adil, dan berpihak pada kesejahteraan umat.

Pelajaran dan Refleksi Aswaja untuk Kemandirian Umat

Dari semangat yang digelorakan oleh IKAPETE Jatim, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga yang selaras dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Pertama, pentingnya ikhtiar atau usaha sungguh-sungguh dalam mencari rezeki yang halal. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras, berdagang, dan berkarya demi memenuhi kebutuhan hidup serta menopang dakwah. Rasulullah SAW sendiri adalah seorang pedagang, dan banyak sahabat yang sukses dalam bidang ekonomi.

Kedua, prinsip ta'awun (tolong-menolong) dan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) menjadi kunci dalam membangun kemandirian ekonomi. Nahdlatut Tujjar adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antarumat, khususnya para pedagang muslim, dapat menciptakan kekuatan ekonomi kolektif. Alumni pesantren, sebagai bagian integral dari umat, memiliki tanggung jawab moral untuk saling mendukung, membimbing, dan memberdayakan sesama dalam bidang ekonomi. Hal ini sejalan dengan prinsip Aswaja yang mengedepankan kebersamaan dan kemaslahatan umat.

Ketiga, kemandirian finansial adalah bentuk tanggung jawab umat untuk menjaga kedaulatan dan integritas ajaran agama. Ketika organisasi keagamaan memiliki sumber daya yang cukup, ia dapat menjalankan program-programnya tanpa tekanan atau intervensi dari pihak-pihak yang mungkin memiliki agenda tersembunyi. Ini adalah bentuk hifzhud din (menjaga agama) yang juga mencakup menjaga kemurnian dakwah dan pendidikan. Untuk terus mendapatkan informasi dan wawasan seputar perkembangan umat serta ajaran Islam yang moderat, para santri dan masyarakat dapat mengakses berbagai artikel dan berita edukatif di SantriOnline.

Refleksi Aswaja juga mengajarkan kita untuk selalu bersikap moderat (tawassuth) dalam segala hal, termasuk dalam berinteraksi dengan dunia dan urusan ekonomi. Mencari kekayaan tidak dilarang, selama dilakukan dengan cara yang halal, tidak melalaikan ibadah, dan disertai niat untuk kemaslahatan umat. Kekayaan yang diperoleh harus menjadi sarana untuk berinfak, bersedekah, dan mendukung perjuangan agama, bukan sebaliknya. Spirit Nahdlatut Tujjar adalah wujud nyata dari keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrawi.

Langkah IKAPETE Jatim ini merupakan panggilan bagi seluruh elemen umat, khususnya para alumni pesantren, untuk mengambil peran aktif dalam membangun fondasi ekonomi yang kuat. Dengan bekal ilmu, adab, dan semangat juang yang tinggi, diharapkan para alumni dapat menjadi pelopor dalam mewujudkan kemandirian finansial umat, sekaligus menjaga marwah dan kedaulatan organisasi keagamaan di tengah dinamika zaman.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Tebuireng Online