Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan untuk Serangan ke Iran: Tinjauan Aswaja
22 Jul 2026, 11.01

SantriOnline News - Keputusan penting telah diambil oleh Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, yang menyetujui penggunaan pangkalan militer Inggris oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan udara yang disebut 'defensif' terhadap Iran. Kebijakan ini, yang dilaporkan oleh Bloomberg News, melanjutkan langkah yang sebelumnya diambil oleh pendahulunya, Keir Starmer, dan kini menjadi sorotan tajam di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini diambil di tengah eskalasi konflik yang memanas, di mana pasukan Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap berbagai kota di Iran selama sebelas malam berturut-turut. Media Iran melaporkan adanya ledakan di sejumlah kota penting seperti Bushehr, Tabriz, Chabahar, serta di provinsi Kurdistan dan Ilam. Komando Pusat AS (Centcom) mengklaim bahwa serangan-serangan ini menargetkan pusat operasi, infrastruktur logistik, kemampuan maritim, hanggar pesawat, dan fasilitas penyimpanan drone. Sebagai respons, Teheran juga dilaporkan melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara tetangga yang bersekutu dengan AS, termasuk Yordania, Bahrain, Suriah, dan Kuwait.
Inti Berita: Keputusan Inggris dan Implikasinya
Menurut sumber anonim yang berbicara kepada Bloomberg, keputusan untuk mengizinkan penggunaan pangkalan di Diego Garcia di Samudra Hindia dan RAF Fairford di Gloucestershire diambil dalam sebuah pertemuan menteri senior dan pejabat pada hari Jumat sebelumnya di masa pemerintahan Starmer. Perdana Menteri Burnham kemudian diberikan pengarahan mengenai diskusi tersebut dan menyetujui keputusan tersebut, menandakan bahwa kebijakan ini akan terus berlanjut di bawah kepemimpinannya.
Namun, kelanjutan kebijakan ini diperkirakan akan menghadapi reaksi keras, terutama dari kelompok hak asasi manusia di Inggris. Sebelumnya, kelompok-kelompok tersebut telah memperingatkan bahwa penggunaan pangkalan Inggris untuk tujuan militer semacam ini berpotensi melanggar hukum internasional. Yasmine Ahmed, Direktur Human Rights Watch Inggris, bahkan telah menyurati perdana menteri, menyoroti bahwa justifikasi hukum pemerintah tidak secara memadai membahas isu-isu terkait hukum humaniter internasional (IHL).
Salah satu insiden yang memicu kekhawatiran serius adalah serangan udara terhadap sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran selatan, pada awal serangan AS-Israel pada 28 Februari. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 150 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak. Investigasi awal oleh Pentagon menemukan bahwa militer AS bertanggung jawab atas serangan tragis tersebut. Insiden semacam ini menjadi pengingat penting akan dampak konflik bersenjata terhadap warga sipil yang tidak bersalah.
Konteks Umum: Geopolitik dan Hukum Internasional
Keputusan Inggris ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika geopolitik yang kompleks dan sensitif di kawasan Timur Tengah. Kawasan ini telah lama menjadi titik panas konflik dan perebutan pengaruh, dengan berbagai aktor regional dan global terlibat. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, serta sekutu-sekutunya, telah berlangsung selama beberapa dekade dan seringkali memicu kekhawatiran akan eskalasi yang lebih luas.
Pentingnya Selat Hormuz juga menjadi faktor krusial dalam konteks ini. Selat ini merupakan jalur pelayaran vital bagi sebagian besar pasokan minyak dunia, menjadikannya arteri ekonomi global yang strategis. Ancaman terhadap keamanan pelayaran di selat ini dapat memiliki dampak ekonomi yang meluas dan memicu intervensi internasional. Oleh karena itu, upaya untuk 'mengamankan pergerakan kapal' di Selat Hormuz, sebagaimana disebut dalam percakapan antara PM Burnham dan mantan Presiden AS Donald Trump, menjadi justifikasi utama di balik kebijakan ini.
Dalam ranah hukum internasional, prinsip-prinsip hukum humaniter internasional (IHL) dirancang untuk membatasi dampak konflik bersenjata dan melindungi mereka yang tidak terlibat dalam pertempuran. IHL menegaskan pentingnya pembedaan antara kombatan dan non-kombatan, serta larangan menyerang objek sipil seperti sekolah dan rumah sakit. Kekhawatiran yang diungkapkan oleh Human Rights Watch menggarisbawahi urgensi bagi semua pihak yang terlibat untuk mematuhi prinsip-prinsip ini guna mencegah penderitaan yang tidak perlu dan menjaga martabat kemanusiaan.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Menjaga Kedamaian dan Keadilan
Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), kita senantiasa diajarkan untuk mencintai kedamaian, keadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dalam menghadapi berita-berita konflik global seperti ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dan refleksikan bersama:
Pertama, Islam mengajarkan pentingnya menjaga jiwa dan harta benda, terutama bagi mereka yang tidak bersalah. Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW berulang kali menekankan larangan menumpahkan darah tanpa hak dan menyerang warga sipil, perempuan, anak-anak, serta tempat ibadah. Insiden serangan terhadap sekolah yang menewaskan anak-anak adalah pelanggaran berat terhadap ajaran agama dan etika kemanusiaan. Kita harus senantiasa mendoakan keselamatan bagi mereka yang tertindas dan menyerukan keadilan bagi para korban.
Kedua, pentingnya hikmah (kebijaksanaan) dan adab dalam setiap tindakan, terutama bagi para pemimpin dan pengambil keputusan. Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah besar yang menuntut pertimbangan matang, jauh dari emosi atau kepentingan sesaat. Mengambil keputusan yang berpotensi meningkatkan ketegangan dan mengancam kehidupan banyak orang harus didasari oleh pertimbangan yang sangat cermat, dengan mengedepankan solusi damai dan diplomasi sebagai jalan utama.
Ketiga, umat Islam di seluruh dunia memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan keadilan dan perdamaian. Kita didorong untuk menjadi agen perubahan yang positif, menyerukan dialog, dan menolak segala bentuk kekerasan yang merugikan umat. Literasi informasi menjadi kunci agar kita tidak mudah terprovokasi oleh berita sensasional, melainkan mampu menganalisis situasi dengan jernih berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang moderat dan toleran.
Keempat, refleksi keumatan ini juga mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan solidaritas. Meskipun kita mungkin berbeda dalam pandangan politik atau asal negara, ikatan ukhuwah Islamiyah harus senantiasa kita jaga. Dalam menghadapi krisis global, doa dan dukungan moral kita kepada saudara-saudari di wilayah konflik adalah bentuk kepedulian yang tak ternilai.
Penutup
Keputusan Inggris untuk mengizinkan penggunaan pangkalan militer oleh AS dalam konteks ketegangan dengan Iran adalah peristiwa yang memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat. Sebagai umat Islam Aswaja, mari kita terus berdoa untuk perdamaian, keadilan, dan keselamatan bagi seluruh umat manusia, serta senantiasa menyebarkan nilai-nilai moderasi dan kasih sayang dalam setiap langkah kita.
