Iran Tegaskan Tak Lupakan Tragedi Minab, Soroti Standar Ganda HAM
29 Agu 2026, 05.01

Tragedi kemanusiaan yang menimpa anak-anak tak berdosa di sekolah Minab, Iran, kembali menjadi sorotan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan komitmen negaranya untuk tidak melupakan insiden memilukan tersebut. Dalam kunjungannya ke pameran lukisan 'Sekolah Minab' baru-baru ini, Araghchi menyatakan bahwa Iran akan terus mengejar keadilan atas peristiwa yang merenggut nyawa banyak pelajar.
Pernyataan ini bukan sekadar janji, melainkan cerminan dari keseriusan Iran dalam menyikapi isu hak asasi manusia (HAM) yang menurut mereka seringkali disalahgunakan. Araghchi mengkritik keras fenomena di mana HAM dijadikan alat politik oleh sejumlah negara Barat, yang dianggapnya mengeksploitasi nilai-nilai luhur tersebut demi keuntungan politis, tanpa benar-benar menghargai esensi kemanusiaan. Iran, menurutnya, menjunjung tinggi HAM dalam makna sesungguhnya dan senantiasa membela hak-hak rakyatnya.
Tragedi Minab dan Tuntutan Keadilan
Insiden yang dimaksud adalah serangan ganda pada sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran selatan, yang terjadi pada bulan Februari lalu. Serangan brutal ini menyebabkan 165 orang meninggal dunia, sebagian besar adalah siswi berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Pejabat setempat melaporkan bahwa sekitar 170 anak perempuan berada di sekolah tersebut saat serangan terjadi, menjadikannya salah satu tragedi paling kelam yang menimpa anak-anak di wilayah tersebut.
Pemerintah Iran secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan ini. Tuduhan tersebut menambah kompleksitas dinamika geopolitik di kawasan, di mana ketegangan antarnegara seringkali berujung pada penderitaan warga sipil yang tidak bersalah. Tuntutan Iran untuk terus mengejar keadilan mengindikasikan bahwa mereka tidak akan membiarkan insiden ini berlalu tanpa pertanggungjawaban.
Tragedi Minab menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerentanan anak-anak di tengah konflik bersenjata. Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat aman bagi mereka untuk belajar dan tumbuh, justru menjadi sasaran kekerasan. Peristiwa ini bukan hanya tentang Iran, tetapi juga tentang seruan global untuk perlindungan anak-anak dari segala bentuk kekerasan, di mana pun mereka berada.
Refleksi Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Umat
Dalam perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), perlindungan terhadap jiwa, khususnya jiwa yang lemah seperti anak-anak, adalah prinsip fundamental dalam Islam. Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW senantiasa menyeru umatnya untuk menjaga perdamaian, keadilan, dan kasih sayang. Kekerasan, apalagi yang menargetkan warga sipil dan anak-anak, sangat dikecam dalam syariat Islam.
Tragedi seperti Minab mengajarkan kita pentingnya untuk tidak mudah terpecah belah oleh narasi politik yang bias. Umat Islam diajak untuk senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan universal. Kita harus kritis terhadap informasi dan tidak mudah terprovokasi, melainkan mencari tahu kebenaran dengan literasi yang baik, sebagaimana diajarkan oleh para ulama Aswaja.
Peristiwa ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan tanggung jawab kita sebagai umat. Mendoakan para korban, menyuarakan keadilan dengan cara yang santun dan beradab, serta terus menyebarkan pesan perdamaian adalah bagian dari dakwah Islam yang moderat. Sebagai santri dan bagian dari umat, kita diajak untuk terus belajar dan menyuarakan kebenaran. Informasi dan kajian mendalam tentang isu-isu keumatan dapat diakses melalui SantriOnline, sebuah platform yang berkomitmen pada dakwah moderat dan pencerahan.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari fitnah dan kekacauan, serta menganugerahkan keadilan bagi mereka yang tertindas. Tragedi Minab harus menjadi pengingat bagi seluruh umat manusia akan pentingnya menjaga perdamaian dan hak asasi manusia yang sejati, jauh dari kepentingan politik sesaat.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



