Israel Dominasi, Tapi Tak Bisa Memimpin

8 Agu 2026, 11.01

Thumbnail Israel Dominasi, Tapi Tak Bisa Memimpin

Israel memiliki kekuatan untuk mendominasi, tetapi tidak untuk memimpin wilayah. Kemenangan taktis di Gaza, Lebanon, Syria, dan Iran tidak membangun hegemoni Tel Aviv, melainkan melemahkannya.

Domination vs Hegemoni

Menurut filsuf Antonio Gramsci, dominasi adalah kemampuan untuk memaksa, untuk memerintahkan melalui kekuatan. Hegemoni adalah kepemimpinan yang diperoleh melalui persetujuan - sebuah tatanan yang terasa alami bagi mereka yang hidup di bawahnya, sehingga pikiran menyetujui sebelum tubuh dipaksa untuk mentaati.

Domination dapat melarang dan menghancurkan; namun, tidak dapat membujuk, membangun, atau memimpin. Ini adalah standar yang digunakan untuk menilai hegemoni Israel yang seharusnya dalam cahaya perang terus-menerus yang telah berlangsung sejak 2023 hingga sekarang.

Kemenangan Taktis

Israel tampaknya telah mencapai puncak kekuatan militernya, membongkar infrastruktur militer Hamas, membunuh pemimpin Hezbollah, menduduki sebagian Gaza, Lebanon, dan Syria, serta menghancurkan program rudal dan nuklir Iran sambil membunuh pemimpin tertingginya. Namun, kemenangan taktis ini tidak menghasilkan pembangunan hegemoni, melainkan erosi.

Mereka telah mengungkapkan bahwa hegemoni yang sebenarnya tidak pernah ada - hanya dominasi telanjang, yang dipertahankan oleh payung strategis Amerika. Ukuran bukanlah kekuatan, superioritas bukanlah kepemimpinan, dan kehadiran bukanlah integrasi.

Ekonomi dan Kepemimpinan

Diukur melintasi tiga dimensi - ekonomi global, aturan regional, dan jaringan regional - hegemoni Israel secara perlahan melemah atau tidak pernah ada sama sekali. Sektor teknologi tinggi Israel sekitar 17 persen dari PDB negara, dengan bagian ekspor mencapai rekor 57 persen pada empat bulan pertama tahun lalu, dan negara ini memiliki pengeluaran penelitian dan pengembangan (R&D) sipil tertinggi relatif terhadap PDB.

Namun, tidak dapat membingungkan ukuran sektor dengan kekuatan untuk menulis aturan yang mengatur sektor tersebut. Menguasai permainan yang aturannya ditulis oleh orang lain adalah keunggulan, bukan kekuatan.

Refleksi dan Pelajaran

Israel memiliki kekuatan militer, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk memimpin dan membangun. Kemenangan taktis tidak menghasilkan pembangunan hegemoni, melainkan erosi. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa kekuatan dan kepemimpinan tidaklah sama.

Kita harus memahami bahwa kepemimpinan yang sebenarnya adalah kepemimpinan yang diperoleh melalui persetujuan dan kepercayaan, bukan melalui kekuatan dan paksaan. Kita harus membangun dan memperkuat kemampuan kita untuk memimpin dan membangun, bukan hanya mengandalkan kekuatan militer.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Middle East Eye