Kekeliruan Pemimpin Israel Terkait Kelaparan di Gaza

14 Agu 2026, 11.00

Thumbnail Kekeliruan Pemimpin Israel Terkait Kelaparan di Gaza

Para pendukung Israel telah salah menafsirkan studi Unicef tentang kelaparan di Gaza. Studi tersebut menunjukkan bahwa tingkat malnutrisi pada anak-anak di bawah usia lima tahun di Gaza telah menurun. Namun, temuan ini tidak menghapus kejahatan masa lalu.

Latar Belakang

Israel telah membantah bahwa mereka menggunakan kelaparan sebagai senjata perang di Gaza. Namun, organisasi kesehatan dan kemanusiaan seperti Amnesty International dan World Health Organization (WHO) telah melaporkan bahwa Israel telah membatasi akses makanan, air, dan obat-obatan ke Gaza.

Pada tahun 2025, WHO melaporkan bahwa blokade Israel telah menyebabkan salah satu krisis kelaparan terburuk di dunia, dengan 57 anak-anak dilaporkan meninggal karena malnutrisi. Pada tahun 2024, Mahkamah Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan tuduhan termasuk kejahatan perang dan serangan terhadap penduduk sipil.

Studi Unicef

Studi Unicef tentang malnutrisi di Gaza menunjukkan bahwa tingkat malnutrisi pada anak-anak di bawah usia lima tahun telah menurun. Namun, studi ini tidak dapat menyangkal temuan sebelumnya tentang kelaparan di Gaza. Unicef menjelaskan bahwa studi ini hanya mengukur kondisi di mid-2026, lebih dari sembilan bulan setelah kelaparan dikonfirmasi pada Agustus 2025.

Pelajaran dan Refleksi

Temuan studi Unicef tentang penurunan malnutrisi pada anak-anak di Gaza patut disambut dengan gembira. Namun, kita tidak boleh melupakan kejahatan masa lalu dan harus terus memantau situasi di Gaza. Kita juga harus menyadari bahwa kelaparan dan malnutrisi dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan dan perkembangan anak-anak.

Sebagai umat Islam, kita harus selalu memperhatikan kesulitan dan penderitaan saudara-saudara kita di Gaza dan di tempat lain. Kita harus terus berdoa dan berusaha untuk membantu mereka, serta mendukung upaya kemanusiaan dan perdamaian di wilayah tersebut.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Middle East Eye