Ma'had Aly Tebuireng Buka Jenjang Doktoral, Kuatkan Tradisi Mazhab

3 Sep 2026, 11.05

Thumbnail Ma'had Aly Tebuireng Buka Jenjang Doktoral, Kuatkan Tradisi Mazhab

Pembuka Semangat Keilmuan di Tebuireng

Pesantren Tebuireng, sebuah mercusuar pendidikan Islam di Indonesia, kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan khazanah keilmuan Islam. Melalui Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, institusi pendidikan tinggi ini tengah mempersiapkan pembukaan jenjang Doktoral atau Marhalah Tsalitsah (M3). Langkah monumental ini disambut dengan sebuah agenda ilmiah bergengsi, yakni Muhadharah ‘Ammah, yang menghadirkan ulama pakar hadis tingkat dunia, Syaikh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah.

Inisiatif ini bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan, melainkan sebuah penegasan visi Tebuireng untuk terus melahirkan ulama dan cendekiawan yang mendalam ilmunya, sekaligus kokoh dalam menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Kehadiran Syaikh Muhyiddin Awwamah menjadi penanda penting akan keseriusan Ma’had Aly dalam menyusun kurikulum yang relevan dan berbobot.

Inti Berita: Bedah Kurikulum Bersama Pakar Hadis

Agenda Muhadharah ‘Ammah yang diselenggarakan di Aula Lantai 3 Gedung KH. M. Yusuf Hasyim tersebut menjadi forum diskusi ilmiah yang sangat berharga. Syaikh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah, yang dikenal sebagai salah satu otoritas hadis terkemuka di dunia Islam, berbagi wawasan dan pengalamannya dalam studi hadis. Beliau memberikan pandangan mendalam mengenai metodologi penelitian hadis, etika keilmuan, serta pentingnya menjaga sanad keilmuan yang autentik.

Fokus utama dari pertemuan ini adalah pembahasan dan bedah kurikulum untuk jenjang Doktoral yang akan segera dibuka. Dengan bimbingan langsung dari pakar sekelas Syaikh Muhyiddin Awwamah, Ma’had Aly Tebuireng berupaya merumuskan kurikulum yang tidak hanya memenuhi standar akademik internasional, tetapi juga tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren. Hal ini mencakup penguatan fondasi tradisi bermazhab, sebuah pilar penting dalam pemahaman Islam Aswaja yang moderat dan toleran.

Pembukaan jenjang Doktoral ini diharapkan dapat mencetak generasi ulama yang mampu menjawab tantangan zaman, memiliki kedalaman ilmu, serta mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan modern. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia.

Konteks Umum: Peran Ma’had Aly dan Tradisi Bermazhab

Ma’had Aly merupakan institusi pendidikan tinggi yang memiliki kekhasan tersendiri di Indonesia. Berbeda dengan perguruan tinggi Islam umum, Ma’had Aly fokus pada pengkajian kitab kuning (kutub at-turats) secara mendalam, dengan tujuan melahirkan ulama yang ahli di bidangnya (mutafaqqih fiddin). Keberadaan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari di Tebuireng sendiri merupakan kelanjutan dari tradisi keilmuan yang telah dirintis oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang sangat menekankan pentingnya penguasaan ilmu-ilmu agama secara komprehensif.

Tradisi bermazhab, yang menjadi salah satu fokus penguatan di Ma’had Aly Tebuireng, adalah ciri khas utama pemahaman Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bermazhab berarti mengikuti panduan dan metodologi yang telah dirumuskan oleh para imam mujtahid seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hanbali. Pendekatan ini memastikan bahwa pemahaman agama didasarkan pada interpretasi yang kokoh, sistematis, dan telah teruji oleh waktu, sehingga umat terhindar dari pemahaman yang parsial atau ekstrem.

Dalam konteks keindonesiaan yang majemuk, penguatan tradisi bermazhab menjadi sangat relevan. Ia mengajarkan sikap moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), dan lurus (i'tidal) dalam beragama, yang merupakan inti dari ajaran Aswaja. Dengan demikian, lulusan Ma’had Aly tidak hanya menjadi ahli dalam ilmu agama, tetapi juga duta-duta perdamaian dan persatuan.

Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Mencintai Ilmu dan Adab

Agenda Muhadharah ‘Ammah ini memberikan beberapa pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya para santri dan pegiat dakwah. Pertama, pentingnya mencari ilmu dari sumber yang autentik dan memiliki sanad keilmuan yang jelas. Kehadiran Syaikh Muhyiddin Awwamah mengingatkan kita akan nilai tinggi sanad dalam studi hadis, yang menjamin keaslian dan kemurnian ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah salah satu prinsip utama dalam tradisi Aswaja.

Kedua, adab dalam menuntut ilmu. Para santri dan ulama di Tebuireng menunjukkan adab yang tinggi dalam menyambut dan berinteraksi dengan Syaikh Muhyiddin Awwamah, mencerminkan penghormatan kepada ilmu dan ulama. Adab ini adalah fondasi moral yang harus selalu dijaga dalam setiap proses pembelajaran. Ilmu tanpa adab akan kehilangan keberkahannya dan tidak akan membawa kemaslahatan.

Ketiga, refleksi keumatan mengenai tanggung jawab kita bersama dalam melestarikan dan mengembangkan ilmu-ilmu agama. Pembukaan jenjang doktoral di Ma’had Aly Tebuireng adalah upaya nyata untuk memastikan estafet keilmuan terus berlanjut, menghasilkan ulama yang siap membimbing umat. Informasi dan edukasi mengenai kegiatan keilmuan seperti ini juga penting untuk disebarkan, dan Anda bisa menemukan berbagai artikel inspiratif lainnya di SantriOnline, portal berita yang berdedikasi untuk menyajikan informasi edukatif dan mencerahkan.

Penutup: Harapan untuk Masa Depan Keilmuan

Pembukaan jenjang Doktoral di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng, yang diawali dengan bedah kurikulum bersama pakar hadis dunia, merupakan langkah maju yang patut disyukuri. Ini adalah penanda semangat keilmuan yang tak pernah padam di lingkungan pesantren, serta komitmen kuat untuk memperkokoh tradisi Aswaja di tengah masyarakat. Semoga upaya ini senantiasa diberkahi Allah SWT dan melahirkan generasi ulama yang menjadi pelita bagi umat.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Tebuireng Online