Mahalul Qiyam: Tradisi Cinta Rasul dalam Bingkai Aswaja
13 Sep 2026, 11.03

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia untuk mengenang dan meneladani sosok agung Rasulullah. Di antara berbagai tradisi yang menyertai perayaan ini, salah satu yang paling dikenal dan diamalkan secara luas, khususnya di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), adalah praktik mahalul qiyam, yakni berdiri tegak saat pembacaan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Momen mahalul qiyam seringkali diiringi dengan lantunan salawat yang penuh haru, menciptakan suasana khidmat dan penghormatan yang mendalam. Ini adalah ekspresi kolektif dari rasa cinta dan kerinduan umat kepada Nabi, sebuah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari syiar Islam.
Hukum dan Pengakuan dalam Tradisi Aswaja
Praktik mahalul qiyam ini bukanlah sekadar kebiasaan tanpa dasar, melainkan sebuah tradisi yang diajarkan dan diakui dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Salah satu ulama karismatik yang menegaskan hal ini adalah Habib Salim bin Jindan (wafat 1389 H), seorang tokoh terkemuka dari Jakarta yang dikenal luas akan keilmuan dan keteguhannya dalam menjaga tradisi salafus shalih.
Dalam karyanya yang monumental, al-Ilmam bi Ma’rifatil Fatawi wa al-Ahkam, Habib Salim bin Jindan merangkum berbagai keterangan terkait amalan ini. Beliau secara tegas menyatakan bahwa praktik berdiri saat pembacaan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW tergolong sebagai bid’ah hasanah. Istilah bid’ah hasanah merujuk pada inovasi atau praktik baru dalam agama yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, justru mengandung kebaikan dan membawa manfaat, serta sejalan dengan tujuan-tujuan syariat.
Pengakuan ini menegaskan bahwa mahalul qiyam adalah bentuk penghormatan yang dibenarkan, bukan sesuatu yang dilarang. Ini adalah cara umat mengekspresikan rasa hormat ketika nama Nabi disebut, terutama pada bagian yang mengisahkan kelahirannya yang mulia, seolah-olah menyambut kehadiran beliau secara spiritual.
Memahami Konsep Bid'ah Hasanah dalam Islam
Untuk memahami lebih jauh tentang mahalul qiyam, penting untuk mengulas kembali konsep bid’ah hasanah yang menjadi landasan hukumnya. Dalam pandangan ulama Aswaja, tidak semua inovasi dalam agama itu tercela. Ada perbedaan mendasar antara bid’ah hasanah (inovasi baik) dan bid’ah sayyi’ah (inovasi buruk).
Bid’ah sayyi’ah adalah inovasi yang bertentangan dengan Al-Qur'an, Sunnah, ijma' (konsensus ulama), atau qiyas (analogi) yang sahih, serta dapat merusak akidah atau syariat. Sebaliknya, bid’ah hasanah adalah inovasi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama, justru mendukung dan memperkuat syiar Islam, serta membawa kemaslahatan bagi umat. Contoh lain dari bid’ah hasanah adalah pengumpulan Al-Qur'an dalam satu mushaf, pembangunan madrasah, atau penulisan ilmu-ilmu keislaman yang tidak ada pada masa Nabi.
Praktik mahalul qiyam ini berakar pada semangat kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, yang merupakan inti dari ajaran Islam. Para sahabat Nabi pun menunjukkan rasa hormat yang luar biasa kepada beliau, dan tradisi ini merupakan kelanjutan dari semangat tersebut, disesuaikan dengan konteks zaman tanpa mengubah esensi ajaran.
Pelajaran Adab dan Refleksi Keumatan dari Mahalul Qiyam
Tradisi mahalul qiyam mengajarkan kita banyak hal, terutama tentang adab dan cara mengekspresikan cinta. Berdiri tegak saat nama atau kisah Nabi disebut adalah wujud adab yang tinggi, menunjukkan betapa agungnya kedudukan Rasulullah di hati umatnya. Ini bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol dari penghormatan batin dan pengakuan akan kebesaran beliau sebagai utusan Allah.
Dari praktik ini, kita juga belajar pentingnya menjaga tradisi keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama. Penegasan Habib Salim bin Jindan tentang mahalul qiyam sebagai bid’ah hasanah adalah contoh nyata bagaimana ulama terdahulu dengan cermat menelaah dan memberikan panduan hukum bagi umat. Mereka adalah pewaris para Nabi yang menjaga kemurnian ajaran dan memberikan pencerahan.
Sebagai santri dan umat Islam, kita diajak untuk senantiasa mencari ilmu dari sumber yang sahih dan terpercaya, serta menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan pandangan. SantriOnline hadir sebagai platform yang berkomitmen untuk menyajikan informasi keislaman yang moderat, edukatif, dan sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, membantu kita memahami kekayaan khazanah Islam dengan bijak.
Penutup
Mahalul qiyam adalah salah satu manifestasi cinta dan penghormatan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW yang diakui dalam tradisi Aswaja. Semoga dengan terus menghidupkan tradisi yang baik ini, kita semakin kokoh dalam mencintai Rasulullah, meneladani akhlaknya, dan senantiasa berada dalam bimbingan para ulama yang lurus. Mari kita jaga tradisi ini sebagai bagian dari syiar Islam yang damai dan penuh berkah.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



