Masa Depan Pendidikan Islam di India Terancam: Kasus Universitas Jauhar
28 Jul 2026, 11.00

Pentingnya Pendidikan dalam Peradaban Islam
Pendidikan adalah pilar utama kemajuan suatu bangsa, dan dalam tradisi Islam, ia menempati posisi yang sangat mulia. Sejak masa awal, umat Islam telah mendirikan berbagai lembaga pendidikan, mulai dari kuttab hingga universitas besar, yang menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan peradaban. Institusi-institusi ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu umum yang mendorong inovasi dan kemajuan. Oleh karena itu, setiap ancaman terhadap lembaga pendidikan adalah ancaman terhadap masa depan umat itu sendiri.
Di tengah semangat menjaga tradisi keilmuan ini, kabar dari India baru-baru ini menyita perhatian. Universitas Mohammad Ali Jauhar, sebuah institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh seorang pemimpin Muslim terkemuka, kini menghadapi situasi pelik. Otoritas di negara bagian Uttar Pradesh, yang diperintah oleh Partai Bharatiya Janata (BJP), dilaporkan tengah berupaya membongkar sejumlah besar bangunan di universitas tersebut. Kabar ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan pemerhati pendidikan dan umat Muslim, tidak hanya di India tetapi juga di seluruh dunia.
Ancaman Pembongkaran dan Tuduhan Ilegalitas
Menurut laporan yang beredar, pemerintah Uttar Pradesh menuduh bahwa 38 dari 40 bangunan yang berdiri di kompleks Universitas Mohammad Ali Jauhar dibangun secara ilegal. Tuduhan ini menjadi dasar bagi rencana pembongkaran yang, jika terlaksana, akan melumpuhkan operasional universitas dan merusak infrastruktur pendidikan yang telah susah payah dibangun selama bertahun-tahun. Universitas ini didirikan oleh Mohammad Ali Jauhar, seorang tokoh Muslim India yang dikenal atas kontribusinya dalam gerakan kemerdekaan dan pendidikan.
Langkah otoritas ini memicu gelombang kekhawatiran tentang masa depan ribuan mahasiswa dan staf pengajar yang bergantung pada universitas ini. Sebagai sebuah institusi yang berupaya menyediakan pendidikan berkualitas, khususnya bagi komunitas Muslim yang seringkali termarjinalkan, keberadaan Universitas Jauhar sangat vital. Proses hukum dan administrasi yang melatarbelakangi tuduhan ini sedang menjadi sorotan, dengan banyak pihak berharap agar keadilan dan transparansi dapat ditegakkan.
Kasus ini bukan hanya tentang bangunan fisik, melainkan juga tentang hak atas pendidikan dan pelestarian warisan intelektual. Pembongkaran yang masif akan menghancurkan fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan, dan asrama, yang kesemuanya merupakan elemen esensial bagi sebuah universitas. Dampak jangka panjangnya dikhawatirkan akan menghambat akses pendidikan bagi banyak individu, terutama dari kalangan yang membutuhkan.
Konteks Umum dan Tantangan Pendidikan Minoritas
Sejarah peradaban Islam mencatat bagaimana lembaga pendidikan menjadi pusat kebangkitan ilmu pengetahuan, dari Baghdad hingga Cordoba. Madrasah dan universitas-universitas seperti Al-Azhar di Kairo atau Al-Qarawiyyin di Fez telah membuktikan peran sentral mereka dalam melahirkan ulama, ilmuwan, dan pemikir yang mencerahkan dunia. Di India, komunitas Muslim, meskipun minoritas, memiliki sejarah panjang dalam kontribusi terhadap pendidikan dan kebudayaan, dengan mendirikan banyak institusi yang telah melahirkan cendekiawan dan pemimpin.
Namun, lembaga pendidikan yang didirikan oleh komunitas minoritas seringkali menghadapi berbagai tantangan, baik dari segi pendanaan, dukungan politik, maupun isu-isu legalitas. Dalam konteks India, di mana keragaman agama dan budaya sangat kaya, menjaga harmoni dan memastikan hak-hak semua komunitas, termasuk hak untuk mendirikan dan mengelola institusi pendidikan, adalah hal yang krusial. Konflik atau sengketa terkait lahan atau perizinan harus diselesaikan melalui jalur hukum yang adil, transparan, dan tidak diskriminatif, dengan mempertimbangkan dampak sosial dan kemanusiaan yang lebih luas.
Penting bagi setiap negara untuk memastikan bahwa semua warganya memiliki akses yang setara terhadap pendidikan, tanpa memandang latar belakang agama atau etnis. Lembaga pendidikan, terlepas dari siapa pendirinya, adalah aset bangsa yang harus dilindungi dan didukung, bukan dihancurkan, selama mereka beroperasi sesuai hukum dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Cinta Ilmu, Adab, dan Tanggung Jawab Umat
Sebagai umat Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), kita diajarkan untuk senantiasa mencintai ilmu dan para penuntutnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Oleh karena itu, menjaga dan mendukung keberlangsungan lembaga pendidikan adalah bentuk nyata dari kecintaan kita terhadap ilmu dan upaya kita untuk meraih ridha Allah SWT.
Dalam menghadapi situasi yang penuh tantangan seperti yang terjadi pada Universitas Mohammad Ali Jauhar, umat Islam dituntut untuk menunjukkan adab yang mulia. Ini berarti menyikapi permasalahan dengan tenang, mencari informasi yang akurat, dan menghindari provokasi atau penyebaran kebencian. Pendekatan moderat, yang mengedepankan dialog, jalur hukum, dan doa, adalah jalan yang diajarkan dalam Aswaja. Kita harus berupaya mencari solusi yang konstruktif, bukan memperkeruh suasana.
Refleksi keumatan juga penting: peristiwa ini mengingatkan kita akan tanggung jawab bersama untuk memperkuat pendidikan Islam di seluruh dunia. Umat harus bersatu padu, saling mendukung, dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing, baik melalui dukungan moral, finansial, maupun doa. Mari kita berdoa agar Allah SWT memberikan kemudahan bagi para pengelola Universitas Mohammad Ali Jauhar, melindungi institusi pendidikan dari segala bentuk ancaman, dan senantiasa membimbing kita semua dalam menebarkan kebaikan dan ilmu yang bermanfaat.
Menjaga Harapan untuk Masa Depan Pendidikan
Kasus Universitas Mohammad Ali Jauhar adalah pengingat akan pentingnya menjaga dan melindungi institusi pendidikan. Semoga keadilan dapat ditegakkan, dan universitas ini dapat terus berkarya dalam mencetak generasi penerus yang berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



