Memahami Hadis 99-ke-1: Harapan atau Keputusasaan?

26 Agu 2026, 23.01

Thumbnail Memahami Hadis 99-ke-1: Harapan atau Keputusasaan?

Kekhawatiran akan nasib akhirat adalah hal yang wajar bagi setiap Muslim. Namun, terkadang pemahaman yang kurang tepat terhadap dalil agama dapat menimbulkan kecemasan berlebihan, bahkan keputusasaan. Salah satu contohnya adalah penafsiran literal terhadap hadis yang menyebutkan perbandingan 99 dari 100 orang masuk neraka, yang seringkali membuat sebagian Muslim merasa peluangnya untuk meraih surga sangatlah kecil.

Pandangan ini, sebagaimana yang ditanyakan kepada Shaykh Faraz Rabbani dari SeekersGuidance, adalah sebuah misinterpretasi yang perlu diluruskan. Sebagai jurnalis SantriOnline News, kami merasa penting untuk menghadirkan pemahaman yang utuh dan menenangkan, berdasarkan bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, agar umat senantiasa optimis dalam beribadah dan berharap kepada rahmat Allah SWT.

Hakikat Hadis dan Penafsirannya

Hadis yang dimaksud diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, di mana Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah berfirman: 'Wahai Adam!' Adam menjawab: 'Labbaik wa sa'daik, wal khairu fi yadaik.' Allah berfirman: 'Keluarkan utusan neraka.' Adam bertanya: 'Siapakah utusan neraka itu?' Allah berfirman: 'Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan.' Pada saat itu, anak kecil akan beruban, setiap wanita hamil akan keguguran kandungannya, dan kalian akan melihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah sangatlah dahsyat." (HR. Bukhari).

Sekilas, hadis ini memang terdengar menakutkan dan bisa memicu keputusasaan. Namun, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menjelaskan bahwa hadis ini tidak boleh dipahami secara harfiah sebagai probabilitas matematis yang berlaku bagi setiap individu Muslim di setiap zaman. Penafsiran yang benar memerlukan pemahaman konteks dan tujuan syariat.

Shaykh Faraz Rabbani, dan banyak ulama lainnya, menjelaskan bahwa hadis ini memiliki beberapa kemungkinan tafsir. Salah satunya adalah bahwa perbandingan 99:1 ini merujuk pada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, di mana jumlah orang yang beriman jauh lebih sedikit dibandingkan yang kufur. Atau, bisa juga ini adalah gambaran untuk hari kiamat secara keseluruhan, di mana mayoritas manusia dari seluruh sejarah akan masuk neraka, namun umat Nabi Muhammad ﷺ diharapkan menjadi mayoritas penghuni surga.

Konteks Umum dan Latar Belakang Syariat

Penting untuk diingat bahwa Al-Qur'an dan Hadis seringkali menggunakan gaya bahasa yang beragam, termasuk perumpamaan, majas, dan ungkapan yang perlu dipahami secara mendalam oleh para ahli. Memahami teks-teks agama tanpa bimbingan ulama yang mumpuni dapat menyebabkan kesalahpahaman fatal, seperti kasus hadis ini yang berujung pada keputusasaan.

Salah satu prinsip fundamental dalam Islam adalah keseimbangan antara khawf (rasa takut) dan raja' (harapan). Hadis-hadis yang menakutkan berfungsi sebagai peringatan agar umat tidak terlena dalam dosa dan senantiasa berusaha memperbaiki diri. Namun, peringatan tersebut selalu diimbangi dengan ayat-ayat dan hadis-hadis lain yang menekankan luasnya rahmat dan ampunan Allah SWT, agar umat tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman, "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53).

Pelajaran dan Refleksi Aswaja

Dari pembahasan hadis ini, kita dapat memetik beberapa pelajaran berharga. Pertama, pentingnya mencari ilmu agama dari sumber yang benar dan otoritatif, yaitu para ulama yang sanad keilmuannya jelas dan memiliki pemahaman yang komprehensif. Menafsirkan sendiri dalil-dalil agama tanpa bekal ilmu yang cukup adalah jalan menuju kesesatan dan kesalahpahaman.

Kedua, umat Islam diajarkan untuk senantiasa memiliki harapan (raja') kepada rahmat Allah, tanpa melupakan rasa takut (khawf) akan azab-Nya. Keseimbangan ini adalah ciri khas ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah yang moderat. Kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, meskipun dosa-dosa kita banyak, asalkan kita senantiasa bertaubat dan berusaha beramal saleh. Sebaliknya, kita juga tidak boleh merasa aman dari azab Allah sehingga berani bermaksiat.

Ketiga, hadis ini seharusnya memotivasi kita untuk lebih giat beribadah dan berdakwah, mengajak orang lain kepada kebaikan, agar jumlah penghuni surga dari kalangan umat Nabi Muhammad ﷺ semakin banyak. Ini adalah tanggung jawab keumatan yang besar. Untuk terus mendapatkan pencerahan dan informasi keislaman yang menyejukkan, kunjungi SantriOnline.

Sebagai penutup, mari kita jadikan hadis ini sebagai pengingat akan dahsyatnya hari kiamat dan pentingnya persiapan diri, bukan sebagai alasan untuk berputus asa. Rahmat Allah jauh lebih luas dari murka-Nya. Dengan keimanan yang kokoh, amal saleh, dan tawakal kepada Allah, insya Allah kita termasuk golongan yang beruntung di akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: SeekersGuidance