Mencari Makna di Balik Ketiadaan: Refleksi Kehidupan Seorang Muslim
26 Agu 2026, 11.02

Dalam perjalanan hidup, manusia seringkali dihadapkan pada misteri dan perubahan yang tak terduga. Realitas yang kita anggap kokoh bisa saja bergeser, bahkan lenyap, meninggalkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan mendalam. Fenomena ini, yang dialami oleh seorang tokoh bernama Bashir dalam sebuah narasi, menggambarkan sebuah pengalaman yang menggugah: ketika benda-benda di sekelilingnya mulai menghilang secara misterius. Kejadian semacam ini tentu menimbulkan kebingungan dan dorongan kuat untuk mencari penjelasan.
Kisah Bashir, meskipun fiktif, menyentuh inti dari pencarian manusia akan makna dan kebenaran. Apa yang terjadi ketika realitas yang kita kenal tiba-tiba berubah, atau bahkan seolah lenyap dari pandangan? Bagaimana kita menyikapi kekosongan atau ketiadaan yang muncul di hadapan kita? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya sekadar upaya memahami fenomena fisik, melainkan juga sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan dasar atau 'lumpur purba' (primordial muck) dari keberadaan itu sendiri—hakikat sejati di balik segala yang tampak.
Menyelami Hakikat Dunia yang Fana
Dalam kebingungannya, Bashir terdorong untuk menyelami lebih dalam, mencari tahu apa yang menjadi penyebab di balik 'ketiadaan' yang ia alami. Pencarian ini menggarisbawahi fitrah manusia yang selalu ingin memahami, menyingkap tabir misteri, dan menemukan pijakan yang kokoh di tengah arus perubahan. Bagi seorang Muslim, pengalaman semacam ini dapat menjadi pengingat akan hakikat dunia (dunya) yang fana dan sementara. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut: 64).
Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara, tidak kekal. Harta, jabatan, bahkan benda-benda yang kita miliki, pada akhirnya akan lenyap atau meninggalkan kita. Pengalaman Bashir dapat dilihat sebagai metafora untuk menyadarkan kita bahwa keterikatan yang berlebihan pada materi duniawi hanya akan membawa kekecewaan ketika semua itu pergi. Pencarian akan 'lumpur purba' atau hakikat dasar dari segala sesuatu, dalam konteks keislaman, adalah pencarian akan kebenaran tauhid, yaitu mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta.
Ilmu pengetahuan modern berupaya memahami alam semesta melalui observasi dan eksperimen, mencari hukum-hukum alam yang mengatur segala sesuatu. Namun, Islam mengajarkan bahwa di balik setiap fenomena alam, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah (ayatullah) yang mengajak manusia untuk merenung dan mengenal-Nya lebih dekat. Baik itu hilangnya sebuah benda, perubahan musim, atau siklus hidup dan mati, semuanya adalah bagian dari ketetapan Ilahi yang mengandung hikmah mendalam bagi mereka yang mau berpikir.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Iman, Ilmu, dan Adab
Dari kisah Bashir dan refleksi tentang kefanaan dunia, kita dapat menarik beberapa pelajaran penting sesuai dengan pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Pertama, pentingnya tafakur (perenungan) dan tadabbur (mengkaji secara mendalam) terhadap ciptaan Allah. Setiap kejadian, baik yang menyenangkan maupun yang membingungkan, adalah kesempatan untuk meningkatkan keimanan dan pemahaman kita tentang keesaan dan kekuasaan Allah.
Kedua, urgensi menuntut ilmu. Dalam menghadapi ketidakpastian, seorang Muslim dituntut untuk terus belajar, baik ilmu agama maupun ilmu umum, agar dapat memahami dunia dengan lebih baik dan tidak mudah terjerumus dalam khurafat atau kesesatan. Ilmu adalah cahaya yang menuntun kita dalam kegelapan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah).
Ketiga, adab dalam mencari kebenaran. Aswaja mengajarkan pentingnya bersikap moderat, tidak tergesa-gesa dalam menghakimi, dan selalu merujuk pada sumber-sumber yang sahih dari Al-Qur'an, Sunnah, serta pemahaman para ulama salafus shalih. Ketika dihadapkan pada hal-hal yang di luar nalar, bersabar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah adalah sikap yang paling utama. Untuk terus memperkaya wawasan keislaman dan mengikuti perkembangan isu keumatan, kunjungi SantriOnline, portal berita dan edukasi bagi santri dan umat.
Kisah Bashir mengingatkan kita bahwa realitas sejati bukanlah apa yang tampak oleh mata semata, melainkan apa yang dipahami oleh hati yang beriman. Ketika benda-benda di sekitar kita seolah lenyap, itu adalah pengingat bahwa hanya Allah yang Maha Kekal, dan segala sesuatu selain-Nya adalah fana. Dengan berpegang teguh pada iman, ilmu, dan adab, seorang Muslim akan menemukan ketenangan dan jawaban atas setiap misteri kehidupan, serta menjadikan setiap pengalaman sebagai tangga menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



