Meneladani Kiprah Nyai Shinta Nuriyah: Dari Pesantren hingga Advokasi Umat
29 Agu 2026, 11.06

Kiprah para tokoh perempuan dalam sejarah Islam dan bangsa ini seringkali menjadi lentera penerang bagi generasi penerus. Salah satu figur yang patut diteladani adalah Nyai. Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, seorang perempuan tangguh yang dedikasinya tak lekang oleh waktu. Belum lama ini, perjalanan hidup, pendidikan, aktivisme, dan kiprah sosial beliau dibedah dalam sebuah acara istimewa yang diselenggarakan oleh NU Online Institute.
Acara bedah buku “Biografi Shinta Nuriyah” karya Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin ini menjadi sorotan utama dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Bertempat di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 2, Bahrul Ulum, Tambakberas, kegiatan ini berhasil menarik perhatian banyak kalangan, menunjukkan betapa pentingnya refleksi atas jejak langkah para pendahulu kita.
Menggali Inspirasi dari Jejak Langkah Nyai Shinta Nuriyah
Bedah buku ini secara mendalam mengulas berbagai fase kehidupan Nyai Shinta Nuriyah, mulai dari masa-masa beliau menempuh pendidikan di lingkungan pesantren, yang membentuk karakter dan pemahaman keislaman yang kokoh, hingga kiprahnya yang luas dalam advokasi sosial. Perjalanan ini mencerminkan bagaimana pendidikan pesantren mampu melahirkan pribadi-pribadi yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga peka terhadap persoalan kemasyarakatan dan berani menyuarakan keadilan.
Sebagai seorang istri dari ulama besar dan mantan Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nyai Shinta Nuriyah tidak hanya berdiri di belakang layar. Beliau aktif terlibat dalam berbagai gerakan sosial, terutama dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan kelompok minoritas. Advokasi beliau bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang berlandaskan nilai-nilai keislaman yang moderat, inklusif, dan menjunjung tinggi kemanusiaan.
Acara yang digelar di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 2 ini juga menegaskan kembali peran pesantren sebagai pusat peradaban dan sumber inspirasi. Pesantren tidak hanya melahirkan ulama dan santri yang menguasai ilmu agama, tetapi juga kader-kader bangsa yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan siap berkontribusi bagi kemajuan umat dan negara. Lingkungan pesantren yang kaya akan tradisi keilmuan dan adab menjadi fondasi kuat bagi pembentukan karakter pemimpin masa depan.
Konteks Peran Perempuan dalam Tradisi Aswaja
Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), peran perempuan dalam masyarakat memiliki kedudukan yang sangat penting dan dihormati. Sejarah Islam mencatat banyak figur perempuan yang menjadi ulama, pendidik, pejuang, dan aktivis sosial. Dari Khadijah binti Khuwailid yang menjadi tulang punggung ekonomi Rasulullah ﷺ, Aisyah binti Abu Bakar yang menjadi rujukan ilmu hadis dan fikih, hingga Rabiatul Adawiyah sebagai sufi perempuan terkemuka, semuanya menunjukkan bahwa Islam tidak membatasi kiprah perempuan dalam kebaikan.
Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang berpegang teguh pada manhaj Aswaja, senantiasa mendorong partisipasi aktif perempuan dalam berbagai bidang. Melalui lembaga-lembaga seperti Muslimat NU dan Fatayat NU, perempuan-perempuan Nahdliyin diberdayakan untuk berkontribusi dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga advokasi sosial. Kiprah Nyai Shinta Nuriyah adalah salah satu contoh nyata bagaimana perempuan dapat menjadi agen perubahan yang membawa maslahat bagi umat.
Membaca biografi tokoh-tokoh seperti Nyai Shinta Nuriyah bukan sekadar menelusuri rentetan peristiwa, melainkan juga menyelami nilai-nilai luhur yang mereka perjuangkan. Biografi menjadi cermin yang memantulkan semangat juang, ketekunan, dan keikhlasan dalam berkhidmah kepada Allah dan sesama. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan kebijaksanaan masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Cinta Ilmu, Adab, dan Tanggung Jawab Umat
Dari perjalanan hidup Nyai Shinta Nuriyah, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga yang selaras dengan nilai-nilai Aswaja. Pertama, cinta ilmu. Pendidikan pesantren yang beliau tempuh menjadi bekal utama dalam mengarungi kehidupan. Ini mengajarkan kita pentingnya menuntut ilmu sepanjang hayat, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu-ilmu umum yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan, dan dengan ilmu, seseorang dapat berbuat lebih banyak kebaikan.
Kedua, adab dan keteladanan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kehidupan, Nyai Shinta Nuriyah senantiasa menunjukkan keteguhan hati, kesabaran, dan rendah hati. Adab adalah mahkota seorang Muslim, yang mencerminkan kemuliaan akhlak. Sikap santun, moderat, dan menghargai perbedaan adalah ciri khas Aswaja yang patut terus kita lestarikan.
Ketiga, tanggung jawab umat (khidmah lil ummah). Advokasi beliau untuk perempuan dan kelompok rentan adalah manifestasi nyata dari rasa tanggung jawab terhadap sesama. Islam mengajarkan kita untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam, dan ini diwujudkan melalui kepedulian sosial, keadilan, dan pembelaan terhadap yang lemah. Ini adalah esensi dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, sebagaimana diajarkan oleh para ulama Aswaja.
Kisah hidup Nyai Shinta Nuriyah mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati terletak pada ketulusan niat, konsistensi perjuangan, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari teladan beliau untuk terus berbuat kebaikan dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan agama. Untuk terus mendapatkan inspirasi dan wawasan keislaman yang mencerahkan, kunjungi SantriOnline.
Bedah buku ini bukan hanya sekadar acara seremonial, melainkan ajakan untuk merefleksikan kembali peran kita sebagai bagian dari umat. Bagaimana kita dapat melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, toleran, dan inklusif. Semoga semangat Nyai Shinta Nuriyah terus menginspirasi kita semua untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, berilmu, dan berakhlak mulia.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



