Menepis Ketakutan: Islam, Kedamaian, dan Kemajemukan dalam Perspektif Aswaja

27 Agu 2026, 11.06

Thumbnail Menepis Ketakutan: Islam, Kedamaian, dan Kemajemukan dalam Perspektif Aswaja

Dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, isu mengenai kedamaian, kemajemukan, dan peran negara seringkali menjadi topik hangat yang memerlukan pemahaman mendalam. Pemikiran tokoh-tokoh Islam kontemporer, seperti Masykuri Abdillah, menawarkan perspektif berharga untuk menelaah isu-isu ini, terutama dalam konteks Islam dan tantangan-tantangan yang mungkin menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.

Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), kita meyakini bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, setiap pemikiran yang mengedepankan nilai-nilai kedamaian, toleransi, dan kemajemukan patut untuk direnungkan dan disebarluaskan, demi terciptanya tatanan sosial yang harmonis dan berkeadilan.

Memahami Kedamaian dan Kemajemukan dalam Islam

Pemikiran Masykuri Abdillah, sebagaimana disorot dalam catatan mengenai Islam dan orang-orang yang masih takut, mengajak kita untuk melihat Islam sebagai landasan kuat bagi terciptanya kedamaian. Konsep kedamaian dalam Islam tidak hanya berarti absennya konflik, melainkan juga terwujudnya keadilan, kasih sayang, dan saling menghormati antar sesama manusia, tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun golongan. Ini adalah esensi dari ajaran rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam).

Lebih lanjut, kemajemukan atau pluralisme adalah keniscayaan yang diakui dalam Islam. Al-Qur'an sendiri menegaskan keberagaman ciptaan Allah SWT sebagai tanda kebesaran-Nya. Dalam konteks bernegara, pemikiran ini menekankan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan untuk menolak atau menyingkirkan kelompok lain. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk berinteraksi secara positif, membangun dialog, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama, dalam bingkai persatuan yang kokoh.

Peran negara, dalam pandangan ini, sangat krusial sebagai penjaga kedamaian dan kemajemukan. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak-hak setiap warga negara terlindungi, tanpa diskriminasi. Dengan demikian, negara menjadi mediator yang adil, menciptakan ruang aman bagi seluruh elemen masyarakat untuk beribadah dan berekspresi sesuai keyakinannya, sekaligus menjaga keutuhan dan stabilitas sosial.

Konteks Umum: Islam dan Tantangan Modern

Dalam sejarah peradaban Islam, nilai-nilai kedamaian dan kemajemukan telah terbukti menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat yang maju dan berkeadilan. Sejak masa Rasulullah SAW di Madinah, Piagam Madinah menjadi bukti nyata bagaimana Islam mampu merangkul berbagai komunitas dengan latar belakang berbeda dalam satu tatanan sosial yang harmonis. Para ulama Aswaja sepanjang sejarah juga senantiasa menyerukan pentingnya toleransi, moderasi, dan menghindari ekstremisme.

Namun, di era modern ini, tantangan globalisasi dan informasi yang cepat seringkali memunculkan kesalahpahaman tentang Islam. Beberapa pihak mungkin masih merasa takut atau khawatir terhadap Islam karena narasi-narasi negatif yang tidak mencerminkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengedukasi diri dan masyarakat tentang wajah Islam yang damai, toleran, dan inklusif, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW dan dipahami oleh mayoritas umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Memperkuat pemahaman tentang Islam yang moderat adalah kunci untuk menepis ketakutan dan membangun kepercayaan. Hal ini melibatkan upaya kolektif dari para ulama, cendekiawan, dan seluruh umat untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan, persatuan, dan keadilan, serta menunjukkan bahwa Islam adalah solusi bagi berbagai permasalahan kemanusiaan, bukan sumber masalah.

Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Mencintai Ilmu dan Adab

Dari pemikiran seperti Masykuri Abdillah, kita dapat mengambil pelajaran berharga bahwa pemahaman Islam yang komprehensif memerlukan kedalaman ilmu dan keluhuran adab. Umat Islam diajarkan untuk senantiasa mencari ilmu, memahami konteks, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Literasi keagamaan yang kuat akan membentengi kita dari pemahaman yang sempit dan ekstrem.

Adab dalam berinteraksi dengan sesama, baik Muslim maupun non-Muslim, juga menjadi cerminan keindahan Islam. Menjaga lisan, menghormati perbedaan pendapat, dan mengedepankan dialog konstruktif adalah bagian tak terpisahkan dari akhlak seorang Muslim. Dengan adab yang baik, kita tidak hanya menunjukkan kemuliaan ajaran Islam, tetapi juga turut serta dalam menciptakan suasana kondusif di tengah masyarakat.

Refleksi keumatan ini mengingatkan kita akan tanggung jawab bersama untuk menjadi duta-duta kedamaian. Setiap Muslim adalah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Untuk terus memperdalam pemahaman keislaman yang moderat dan toleran, serta mengikuti perkembangan isu-isu keumatan, pembaca dapat mengunjungi SantriOnline.

Pada akhirnya, Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian, kemajemukan, dan pentingnya peran negara dalam menjaga harmoni. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Aswaja yang moderat, kita dapat bersama-sama membangun masyarakat yang aman, adil, dan sejahtera, di mana tidak ada lagi ruang bagi ketakutan, melainkan hanya cinta dan persaudaraan.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Sanad Media