Menyelaraskan Janji Allah dan Hadis tentang Hilangnya Ilmu
11 Sep 2026, 23.02

Sebagai umat Muslim yang beriman, kita meyakini sepenuhnya janji Allah SWT untuk senantiasa menjaga dan memelihara agama-Nya, Islam, hingga akhir zaman. Janji ini termaktub jelas dalam Al-Qur'an, menegaskan bahwa kebenaran Islam tidak akan pernah pudar. Namun, di sisi lain, kita juga mengenal sebuah hadis mulia yang mengisyaratkan suatu masa di mana ilmu akan diangkat dari muka bumi melalui wafatnya para ulama, hingga manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka.
Dua narasi ini, pada pandangan pertama, mungkin tampak saling bertentangan. Bagaimana mungkin agama tetap terjaga jika ilmu dan para pembawanya diangkat? Pertanyaan ini adalah refleksi penting bagi setiap Muslim yang ingin memahami agamanya secara komprehensif. Melalui kacamata Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita akan menyelami makna di balik hadis tersebut dan bagaimana ia sejalan dengan janji Allah SWT, bukan sebagai kontradiksi melainkan sebagai peringatan dan ujian bagi umat.
Hakikat Pemeliharaan Agama dan Diangkatnya Ilmu
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menjelaskan bahwa pemeliharaan agama oleh Allah SWT memiliki makna yang luas. Allah akan senantiasa menjaga keaslian Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dari perubahan atau pemalsuan. Sumber-sumber primer ajaran Islam ini akan tetap ada dan dapat diakses oleh umat manusia hingga hari kiamat. Inilah inti dari janji pemeliharaan agama.
Adapun hadis yang menyebutkan tentang diangkatnya ilmu melalui wafatnya ulama (HR. Bukhari dan Muslim), sejatinya bukan berarti Al-Qur'an dan Sunnah akan hilang atau tidak ada lagi. Melainkan, yang diangkat adalah pemahaman yang mendalam, ruh, dan implementasi ilmu syar'i yang otentik, yang diwarisi dan diamalkan oleh para ulama yang shalih. Ketika ulama sejati wafat satu per satu tanpa ada generasi yang memadai untuk menggantikan mereka dalam kedalaman ilmu dan ketakwaan, maka umat akan kehilangan rujukan yang benar. Akibatnya, orang-orang akan beralih kepada individu yang tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai, bahkan bodoh, untuk dimintai fatwa dan kepemimpinan. Inilah yang menjadi musibah besar bagi umat.
Kondisi ini merupakan salah satu tanda-tanda dekatnya hari kiamat, sebuah peringatan agar umat senantiasa menghargai dan memuliakan ulama, serta giat dalam menuntut ilmu. Diangkatnya ilmu bukan berarti hilangnya tulisan atau teks, melainkan hilangnya pemahaman yang benar, sanad yang tersambung, dan teladan hidup yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Peran Ulama dalam Tradisi Keilmuan Islam
Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah, para ulama memiliki kedudukan yang sangat sentral dan mulia. Mereka adalah pewaris para nabi, yang bertugas menyampaikan, menjelaskan, dan mengamalkan ajaran Islam secara turun-temurun melalui sanad (rantai transmisi) yang sahih. Sanad inilah yang menjadi jaminan keotentikan ilmu, memastikan bahwa apa yang kita pelajari benar-benar berasal dari Rasulullah SAW.
Hilangnya ulama sejati berarti putusnya mata rantai ini, atau setidaknya melemahnya kualitas mata rantai tersebut. Ketika generasi penerus tidak lagi mampu mencapai kedalaman ilmu dan ketakwaan seperti pendahulu mereka, maka pemahaman agama akan menjadi dangkal, rentan terhadap penafsiran yang keliru, dan mudah disusupi oleh hawa nafsu. Oleh karena itu, keberadaan ulama yang kokoh ilmunya dan luhur akhlaknya adalah pilar utama bagi keberlangsungan pemahaman Islam yang moderat, santun, dan sesuai tuntunan.
Konteks hadis ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga tradisi talaqqi (belajar langsung dari guru) dan musyafahah (belajar dari lisan ke lisan) yang telah menjadi ciri khas pendidikan Islam selama berabad-abad. Ilmu tidak hanya sekadar informasi, melainkan juga adab, ruh, dan keberkahan yang hanya bisa didapatkan melalui interaksi langsung dengan para guru yang mumpuni.
Pelajaran, Adab, dan Refleksi Aswaja
Dari pemahaman di atas, ada beberapa pelajaran berharga dan refleksi mendalam bagi kita sebagai umat Islam, khususnya yang berpegang teguh pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pertama, kita harus menyadari urgensi untuk senantiasa menuntut ilmu syar'i dari sumber-sumber yang sahih dan guru-guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Jangan sampai kita menunda-nunda, sebab kita tidak tahu kapan Allah akan mengangkat ilmu melalui wafatnya para ulama di sekitar kita.
Kedua, kita wajib menghormati, memuliakan, dan mendukung para ulama. Mereka adalah benteng terakhir umat dari kebodohan dan kesesatan. Mendukung ulama berarti mendukung keberlangsungan ilmu dan agama itu sendiri. Adab terhadap ulama adalah cerminan adab kita terhadap ilmu dan Rasulullah SAW.
Ketiga, ada tanggung jawab kolektif bagi umat untuk mencetak generasi ulama penerus. Pendidikan pesantren dan lembaga-lembaga keilmuan Islam harus terus didukung dan dikembangkan agar estafet keilmuan tidak terputus. Setiap keluarga Muslim didorong untuk menyemai kecintaan pada ilmu agama dan mendorong anak-anak mereka untuk mendalami ilmu syar'i.
Keempat, kita harus berhati-hati dalam mengambil ilmu dan fatwa. Di zaman informasi yang serba cepat ini, banyak sekali 'guru' yang muncul tanpa latar belakang keilmuan yang jelas. Memilih guru yang benar adalah langkah krusial untuk menjaga kemurnian akidah dan syariat kita. Dalam semangat ini, SantriOnline hadir sebagai salah satu wadah untuk terus menyemai benih ilmu dan adab, mengingatkan kita akan pentingnya belajar dari sumber yang terpercaya dan memahami Islam secara moderat dan santun.
Marilah kita jadikan hadis ini sebagai motivasi untuk semakin giat menuntut ilmu, menghargai ulama, dan berkontribusi dalam menjaga tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, kita turut serta dalam upaya menjaga cahaya Islam tetap bersinar terang di tengah tantangan zaman, sembari menunaikan amanah sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



