Misan Harriman: Ketika Lensa Beralih ke Palestina, Ancaman pun Datang
20 Jul 2026, 11.02

Misan Harriman: Ketika Lensa Beralih ke Palestina, Ancaman pun Datang
Dunia seni dan aktivisme kembali diuji dengan kisah Misan Harriman, seorang fotografer dan aktivis yang reputasinya telah diakui secara global. Dikenal luas atas kontribusinya yang inovatif, termasuk menjadi fotografer pria kulit hitam pertama yang menggarap sampul British Vogue dan sutradara film pendek nominasi Oscar, Harriman kini menemukan dirinya di tengah badai kontroversi. Bukan karena kualitas karyanya, melainkan karena pilihan subjeknya: Palestina.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa sensitifnya isu-isu global tertentu, dan bagaimana bahkan seorang tokoh yang sebelumnya dielu-elukan dapat menghadapi reaksi keras ketika ia memilih untuk menyoroti realitas yang dianggap tidak nyaman oleh sebagian pihak. Kisah Harriman menggarisbawahi tantangan yang dihadapi para seniman, jurnalis, dan aktivis yang berani menyuarakan kebenaran atau memotret realitas yang kompleks, terutama di tengah polarisasi informasi yang kian menguat.
Ancaman Setelah Mengungkap Realitas Palestina
Misan Harriman, yang sebelumnya tidak pernah menghadapi masalah signifikan dalam karirnya, mulai menerima ancaman serius setelah ia mengarahkan fokus fotografinya ke Palestina. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan, “Saya sekarang menerima ancaman pembunuhan dari pembaca Telegraph yang terdaftar.” Pernyataan ini menunjukkan betapa cepatnya dukungan publik dapat berubah menjadi permusuhan ketika seseorang menyentuh isu yang sangat diperdebatkan.
Sebagai seorang seniman visual, Harriman memiliki kekuatan untuk membentuk narasi dan memicu empati melalui karyanya. Keputusannya untuk mendokumentasikan kehidupan dan perjuangan di Palestina adalah langkah berani yang sejalan dengan etos aktivismenya. Namun, respons negatif yang diterimanya menunjukkan adanya upaya untuk membungkam suara-suara yang mencoba menghadirkan perspektif alternatif atau menyoroti aspek-aspek yang kurang terwakili dalam arus utama media.
Pengalaman Harriman bukan hanya tentang seorang fotografer, melainkan juga tentang kebebasan berekspresi dan peran media dalam membentuk opini publik. Ini menjadi cerminan bagaimana ruang digital, yang seharusnya menjadi wadah untuk dialog dan pertukaran informasi, seringkali disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian dan intimidasi, terutama ketika menghadapi narasi yang menantang status quo.
Peran Seni dan Media dalam Membangun Kesadaran
Dalam konteks yang lebih luas, kisah Misan Harriman mengingatkan kita akan pentingnya peran seni dan media dalam membangun kesadaran dan mempromosikan pemahaman. Fotografi, khususnya, memiliki kekuatan unik untuk melampaui batas bahasa dan budaya, menyampaikan emosi, dan menghadirkan realitas yang mungkin jauh dari pengalaman personal banyak orang. Ketika seorang seniman seperti Harriman memilih untuk mengarahkan lensanya pada isu kemanusiaan yang mendesak seperti Palestina, ia tidak hanya menciptakan gambar, tetapi juga membuka jendela bagi dunia untuk melihat dan merasakan.
Namun, di era informasi yang banjir dan seringkali bias, tugas ini menjadi semakin berat. Publik dihadapkan pada berbagai narasi yang bersaing, dan seringkali sulit untuk membedakan antara fakta dan propaganda. Oleh karena itu, keberanian para jurnalis dan seniman yang tetap teguh pada prinsip-prinsip objektivitas dan empati sangatlah krusial. Mereka adalah pilar yang menjaga agar suara-suara yang terpinggirkan tetap terdengar dan agar kebenaran tidak sepenuhnya terkubur di bawah tumpukan informasi yang menyesatkan.
Kisah ini juga menjadi refleksi tentang bagaimana masyarakat global merespons narasi yang menantang. Alih-alih terlibat dalam diskusi yang konstruktif dan beradab, seringkali respons yang muncul adalah serangan pribadi atau ancaman. Ini adalah fenomena yang merugikan upaya untuk mencapai pemahaman bersama dan penyelesaian konflik secara damai, karena ia membungkam dialog dan memperdalam perpecahan.
Pelajaran Adab dan Tanggung Jawab Umat Aswaja
Sebagai umat Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), kita diajarkan untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan adab dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam menyikapi informasi dan isu-isu global. Kisah Misan Harriman ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi kita. Pertama, pentingnya literasi media dan berpikir kritis. Kita tidak boleh mudah terprovokasi atau langsung menghakimi berdasarkan satu sisi informasi saja. Sebaliknya, kita didorong untuk mencari tahu, memverifikasi, dan memahami konteks yang lebih luas.
Kedua, adab dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun maya. Islam mengajarkan kita untuk berbicara dengan lemah lembut, menghindari fitnah, ghibah, apalagi ancaman. Mengirimkan ancaman, seperti yang dialami Harriman, adalah tindakan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengedepankan perdamaian dan kasih sayang. Setiap perbedaan pandangan harus disikapi dengan dialog yang santun dan konstruktif, bukan dengan intimidasi atau kekerasan verbal.
Ketiga, tanggung jawab keumatan untuk peduli terhadap isu-isu kemanusiaan di seluruh dunia. Palestina adalah salah satu isu yang secara historis dan spiritual memiliki tempat istimewa bagi umat Islam. Namun, kepedulian ini harus diwujudkan dalam bingkai adab dan hikmah, mendukung keadilan tanpa menyerang pihak lain secara membabi buta. Kita harus menjadi umat yang membangun, bukan yang merusak; umat yang menyatukan, bukan yang memecah belah. Mendukung kebenaran berarti mendukung keadilan bagi semua, tanpa memandang ras atau agama, dengan cara-cara yang sesuai syariat dan beradab.
Kisah Misan Harriman adalah pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan dan kebenaran seringkali datang dengan harga yang mahal. Namun, dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Aswaja, kita dapat menjadi bagian dari solusi, menyebarkan cahaya ilmu, adab, dan tanggung jawab keumatan di tengah kegelapan fitnah dan permusuhan. Mari kita terus mendukung mereka yang berani menyuarakan kebenaran dengan cara yang santun dan konstruktif, serta senantiasa berdoa untuk perdamaian dan keadilan di seluruh dunia.
