Muktamar ke-35 NU: Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa
28 Agu 2026, 11.04

Muktamar ke-35 NU: Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa, Mengukuhkan Peran Aswaja dalam Pembangunan Negeri
Suasana haru dan penuh semangat menyelimuti Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026). Ribuan warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Nusantara memadati Lapangan Untung Surapati, menjadi saksi dibukanya secara resmi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Acara akbar ini menandai tonggak sejarah penting, menjadi muktamar pertama yang diselenggarakan di abad kedua perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Dengan mengenakan atribut kebesaran organisasi dan busana khas Nahdliyin, para peserta dan simpatisan menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Gema takbir dan shalawat berkumandang, menciptakan atmosfer kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah yang kental. Pembukaan muktamar ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah deklarasi kolektif akan komitmen NU untuk terus berkhidmat kepada agama, bangsa, dan negara, sebagaimana tercermin dalam tema besar yang diusung: “Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa”.
Musyawarah Tertinggi NU: Merajut Gagasan untuk Masa Depan Umat
Muktamar Nahdlatul Ulama adalah forum musyawarah tertinggi dalam organisasi, tempat para ulama dan cendekiawan NU berkumpul untuk merumuskan arah kebijakan, memutuskan program kerja, serta memilih kepemimpinan yang akan menakhodai NU dalam periode mendatang. Setiap muktamar selalu menjadi cerminan dari dinamika keumatan dan kebangsaan, di mana berbagai isu strategis dibahas dengan mendalam, berlandaskan pada prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah.
Kehadiran ribuan Nahdliyin di Jombang, sebuah kota yang kaya akan sejarah perjuangan ulama dan pesantren, semakin menegaskan akar kuat NU di tengah masyarakat. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sendiri merupakan salah satu pesantren tua yang memiliki peran sentral dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, melahirkan banyak ulama dan tokoh bangsa. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa makna, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya tradisi pesantren sebagai benteng penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Tema “Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” menjadi panduan utama dalam setiap diskusi dan keputusan yang akan diambil. Ini menunjukkan bahwa NU tidak hanya fokus pada persoalan internal organisasi, tetapi juga secara aktif memikirkan dan berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Spirit khidmah ini adalah esensi dari ajaran Islam yang mengajarkan pentingnya memberikan manfaat bagi sesama dan lingkungan.
NU dan Kontinuitas Peran Aswaja dalam Membangun Peradaban
Sejak kelahirannya pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama telah memainkan peran krusial dalam menjaga keutuhan bangsa dan merawat keberagaman. Dengan berpegang teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah, NU senantiasa menyerukan Islam yang moderat (wasathiyah), toleran, dan inklusif. Pendekatan ini telah terbukti efektif dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern dengan segala kompleksitasnya.
Muktamar ke-35 ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali dan mengukuhkan peran NU sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam yang otentik, sekaligus sebagai agen perubahan sosial yang adaptif. Di tengah arus informasi yang deras dan tantangan globalisasi, NU terus berupaya membimbing umat agar tetap teguh pada akidah yang benar, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan dan kebangsaan. Pesantren, sebagai jantung pendidikan NU, terus menjadi kawah candradimuka yang mencetak generasi penerus yang berilmu dan beradab.
Pelajaran Berharga dari Semangat Khidmah dan Musyawarah dalam Bingkai Aswaja
Dari gelaran Muktamar ke-35 NU ini, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga. Pertama, semangat khidmah atau pengabdian merupakan inti dari ajaran Islam. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” NU dengan tema “Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” mengingatkan kita bahwa setiap individu, khususnya umat Islam, memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya, masyarakat, dan negara.
Kedua, pentingnya musyawarah dan dialog dalam menyelesaikan persoalan. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa bermusyawarah dalam mengambil keputusan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 159. Muktamar adalah contoh nyata bagaimana perbedaan pandangan dapat disatukan dalam semangat kebersamaan demi mencapai mufakat yang terbaik bagi umat dan bangsa. Adab dalam bermusyawarah, seperti saling menghormati, mendengarkan dengan seksama, dan mengedepankan kemaslahatan umum di atas kepentingan pribadi, adalah cerminan akhlak mulia yang patut diteladani.
Ketiga, refleksi terhadap peran ulama dan pesantren sebagai garda terdepan dalam menjaga dan menyebarkan ilmu agama yang benar, serta membimbing umat. Di era digital ini, literasi keagamaan yang kuat menjadi sangat penting agar umat tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang tidak benar atau paham-paham yang menyimpang. Untuk terus mendalami khazanah keilmuan Islam dan mengikuti perkembangan informasi keumatan yang santun dan moderat, pembaca dapat mengunjungi SantriOnline, portal berita dan informasi yang berkomitmen pada nilai-nilai Aswaja.
Semoga Muktamar ke-35 NU ini menghasilkan keputusan-keputusan yang maslahat, membawa berkah bagi seluruh bangsa Indonesia, serta semakin mengukuhkan peran NU sebagai pilar penting dalam menjaga keharmonisan dan kemajuan negeri.
Menyongsong Abad Kedua NU dengan Optimisme
Dengan berakhirnya Muktamar ke-35 NU, harapan besar tersemat pada kepemimpinan dan program kerja yang akan dihasilkan. Ini adalah awal dari abad kedua perjalanan NU, sebuah era baru yang menuntut adaptasi, inovasi, namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar yang telah diwariskan para pendiri. Semoga NU senantiasa menjadi pelita yang menerangi jalan umat, menjaga persatuan, dan terus berkhidmat untuk kemaslahatan bangsa Indonesia yang kita cintai.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



