Ning Sheila Ajak Santri Tebuireng Rawat Hati dan Teladani Akhlak Nabi
1 Sep 2026, 11.05

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Shalahuddin Al Ayyubi di lingkungan SMP Sains Tebuireng baru-baru ini. Ratusan santri dengan penuh perhatian mengikuti pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang istimewa. Majelis tersebut diisi dengan tausiyah yang mencerahkan dari Ning Sheila Hasina, seorang sosok yang dikenal dengan kedalaman ilmu dan kebijaksanaannya. Kehadiran beliau membawa semangat baru bagi para santri untuk lebih mendalami makna cinta kepada Rasulullah SAW.
Dalam kesempatan berharga tersebut, Ning Sheila Hasina melemparkan sebuah pertanyaan yang menggugah sanubari, “Jika Rasulullah bertemu kita hari ini, akankah beliau mengenali kita sebagai umat yang beliau cintai?” Pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan ajakan mendalam untuk merenungkan sejauh mana kita telah mengamalkan ajaran dan meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Pesan inti yang disampaikan adalah pentingnya merawat hati dan menjadikan akhlak Rasulullah sebagai cerminan dalam setiap langkah.
Inti Pesan: Merawat Hati dan Meneladani Akhlak Nabi
Ning Sheila Hasina menekankan bahwa merawat hati adalah fondasi utama bagi setiap Muslim. Hati yang bersih, tulus, dan penuh keimanan akan menjadi sumber segala kebaikan. Beliau menjelaskan bahwa hati adalah raja dari seluruh anggota tubuh; jika hati baik, maka baiklah seluruhnya, dan jika hati rusak, maka rusaklah seluruhnya. Perawatan hati ini mencakup menjauhkannya dari sifat-sifat tercela seperti dengki, sombong, riya, dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, syukur, serta cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lebih lanjut, Ning Sheila mengajak para santri untuk secara konsisten meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Rasulullah adalah teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan, mulai dari cara berbicara, berinteraksi dengan sesama, beribadah, hingga memimpin umat. Meneladani akhlak Nabi berarti berusaha mengimplementasikan nilai-nilai kejujuran, amanah, kasih sayang, kesantunan, keadilan, dan keteguhan dalam berpegang pada kebenaran. Ini adalah tugas mulia yang harus diemban oleh setiap Muslim, terutama para santri sebagai generasi penerus.
Pesan ini menjadi sangat relevan bagi santri SMP Sains Tebuireng yang tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan umum, tetapi juga pondasi agama yang kuat. Keseimbangan antara ilmu dunia dan akhirat adalah ciri khas pendidikan di pesantren, dan akhlak mulia menjadi jembatan penghubung keduanya. Dengan merawat hati dan meneladani Nabi, diharapkan para santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual.
Konteks Umum: Tradisi Maulid dan Pentingnya Akhlak
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu tradisi yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Muslim, khususnya di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja). Maulid bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan momentum untuk mengingat kembali sirah (perjalanan hidup) Nabi, meneladani perjuangan beliau, dan memperbarui komitmen kita sebagai umatnya. Dalam tradisi Aswaja, Maulid menjadi sarana dakwah yang efektif untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, menguatkan ukhuwah Islamiyah, dan menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Pesantren Tebuireng sendiri memiliki sejarah panjang dalam menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan Islam yang moderat dan toleran. Didirikan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari, Tebuireng selalu menekankan pentingnya adab dan akhlak sebagai pilar pendidikan. Lingkungan pesantren yang kondusif menjadi tempat ideal bagi para santri untuk tidak hanya menghafal dan memahami ilmu, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai luhur Islam dalam keseharian mereka. Ini sejalan dengan visi Aswaja yang mengedepankan keseimbangan antara syariat, hakikat, dan makrifat.
Akhlak mulia adalah inti dari ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Hadis ini menunjukkan betapa sentralnya peran akhlak dalam agama kita. Tanpa akhlak, ibadah bisa menjadi hampa dan ilmu bisa tidak membawa keberkahan. Oleh karena itu, setiap majelis ilmu, terutama yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi, selalu berupaya mengembalikan fokus umat kepada pentingnya memperbaiki diri dan meneladani suri tauladan terbaik, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Cinta Ilmu, Adab, dan Tanggung Jawab Umat
Dari pengajian yang disampaikan oleh Ning Sheila Hasina, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga yang sejalan dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pertama, pentingnya cinta kepada Rasulullah SAW yang diwujudkan tidak hanya melalui lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam meneladani akhlak beliau. Cinta ini adalah pondasi keimanan yang akan membimbing kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kedua, penekanan pada merawat hati adalah cerminan dari ajaran tasawuf dalam Aswaja yang mengedepankan penyucian jiwa (tazkiyatun nufus). Hati yang bersih akan lebih mudah menerima hidayah, merasakan manisnya iman, dan berinteraksi dengan sesama dengan penuh kasih sayang. Ini adalah inti dari adab seorang Muslim, baik adab kepada Allah, kepada Rasulullah, maupun kepada sesama manusia.
Ketiga, peran ulama dan kiai, seperti Ning Sheila Hasina, dalam membimbing umat adalah sangat vital. Mereka adalah pewaris para Nabi yang meneruskan estafet dakwah, mengajarkan ilmu, dan mengingatkan umat akan tanggung jawabnya. Kehadiran mereka dalam majelis-majelis ilmu menjadi oase spiritual yang menyegarkan keimanan dan menguatkan persatuan umat. Untuk terus memperkaya wawasan keislaman dan mengikuti perkembangan dakwah yang mencerahkan, pembaca dapat mengunjungi SantriOnline, sebuah platform yang berkomitmen menyajikan informasi dan edukasi Islami dari perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Penutup
Semoga pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Sains Tebuireng ini menjadi momentum bagi seluruh santri dan umat Muslim pada umumnya untuk senantiasa merawat hati, meneladani akhlak Rasulullah SAW, dan memperkuat cinta kepada beliau. Dengan demikian, kita berharap dapat menjadi umat yang benar-benar dicintai dan dikenali oleh Nabi Muhammad SAW di hari akhir nanti, serta mampu membawa keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, dan seluruh alam.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



