Pentingnya Mata Hati dalam Beramal Saleh yang Diridai Allah

11 Sep 2026, 11.07

Thumbnail Pentingnya Mata Hati dalam Beramal Saleh yang Diridai Allah

Setiap Muslim tentu mendambakan amal perbuatannya diterima dan diridai oleh Allah SWT. Namun, seringkali kita lupa bahwa tidak semua perbuatan baik secara kasat mata akan otomatis mendapatkan rida Ilahi. Inilah inti pesan yang disampaikan oleh Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag., dalam salah satu khutbahnya yang mendalam. Beliau mengingatkan kita tentang pentingnya memiliki 'mata hati' sebagai pelengkap akal dalam setiap tindakan.

Menurut Kiai Musta’in, ungkapan Al-Qur'an 'an a‘mala shālihan tardhāhu' (agar aku beramal saleh yang Engkau ridai) mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Ini bukan sekadar tentang melakukan kebaikan, melainkan tentang bagaimana kebaikan itu dilakukan, dengan niat apa, dan apakah ia benar-benar selaras dengan kehendak Allah. Amal saleh yang diridai Allah adalah amal yang memiliki banyak dimensi kebaikan: pantas, benar, bermanfaat, bermaslahat, dan yang terpenting, tulus karena Allah.

Inti Pesan: Sinergi Akal dan Mata Hati

Dalam khutbahnya, Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag., secara lugas menjelaskan bahwa keberadaan akal semata tidaklah cukup tanpa diiringi dengan 'mata hati'. Akal berfungsi untuk menganalisis, merencanakan, dan memahami syariat secara tekstual. Namun, mata hati, atau sering disebut juga sebagai hati nurani dan kepekaan spiritual, adalah yang membimbing akal untuk memahami hikmah di balik syariat, merasakan kehadiran Allah, dan mendorong keikhlasan dalam setiap amal.

Beliau menyoroti bahwa banyak orang mungkin berakal cerdas, mampu merumuskan strategi, atau bahkan mendirikan berbagai lembaga kebaikan. Namun, jika tidak disertai dengan mata hati yang jernih, amal tersebut bisa saja terjebak pada tujuan duniawi, riya (pamer), atau bahkan kesombongan. Oleh karena itu, sinergi antara akal yang cerdas dan mata hati yang bersih menjadi kunci untuk mewujudkan amal saleh yang benar-benar berkualitas dan diridai oleh Allah SWT.

Amal yang diridai Allah adalah amal yang dilakukan dengan kesadaran penuh akan pengawasan-Nya, dengan niat murni untuk mencari wajah-Nya, dan dengan cara yang sesuai tuntunan syariat. Ini bukan hanya tentang kuantitas, melainkan kualitas dan keberkahan yang terkandung di dalamnya, yang hanya bisa dicapai jika akal dan mata hati bekerja secara harmonis.

Konteks Umum: Membangun Kesadaran Spiritual dalam Beramal

Pesan Kiai Musta’in ini sangat relevan dalam konteks kehidupan modern, di mana seringkali kita terjebak pada penilaian lahiriah dan kuantitas. Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan kita untuk senantiasa menyeimbangkan antara dimensi lahiriah (syariat) dan batiniah (hakikat). Akal adalah anugerah Allah untuk memahami ilmu dan hukum-hukum-Nya, sementara hati adalah pusat keimanan, keikhlasan, dan spiritualitas.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) senantiasa menekankan pentingnya tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) sebagai bagian integral dari ibadah. Ilmu tanpa amal adalah sia-sia, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Lebih jauh, amal yang berilmu namun tanpa keikhlasan dan mata hati yang jernih, berpotensi mengurangi nilai dan keberkahannya di sisi Allah. Oleh karena itu, mendalami ilmu agama, berzikir, merenung, dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela adalah upaya esensial untuk mengasah mata hati kita.

Keseimbangan ini juga tercermin dalam ajaran Islam tentang ihsan, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah, atau jika tidak mampu, meyakini bahwa Allah senantiasa melihat kita. Tingkatan ihsan ini hanya dapat dicapai dengan hati yang hidup dan mata hati yang terang, yang mampu menembus batas-batas materi dan merasakan kehadiran Ilahi dalam setiap gerak-gerik kehidupan.

Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Menguatkan Adab dan Tanggung Jawab Umat

Refleksi dari khutbah ini menguatkan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang moderat dan seimbang. Aswaja mengajarkan kita untuk tidak hanya terpaku pada formalitas ibadah, tetapi juga pada esensi dan dampaknya bagi diri sendiri dan masyarakat. Memiliki mata hati berarti kita mampu merasakan penderitaan sesama, peka terhadap keadilan, dan bersemangat dalam menebarkan kebaikan dengan niat yang tulus.

Pelajaran adab yang bisa kita petik adalah pentingnya introspeksi diri (muhasabah) secara berkala. Apakah amal yang kita lakukan sudah sesuai tuntunan? Apakah niat kita sudah murni karena Allah? Apakah kita sudah menempatkan diri sebagai hamba yang beradab di hadapan-Nya? Mengasah mata hati juga berarti senantiasa belajar dan mencari ilmu dari sumber-sumber yang terpercaya, agar pemahaman agama kita tidak dangkal dan tidak mudah terombang-ambing oleh hawa nafsu.

Umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi agen perubahan yang positif. Dengan akal dan mata hati yang terasah, kita diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban, bukan hanya secara material, tetapi juga spiritual dan moral. Untuk terus mendapatkan pencerahan dan informasi yang edukatif seputar Islam Aswaja, pembaca dapat mengunjungi SantriOnline, sebuah platform yang berkomitmen menyajikan konten-konten bermanfaat bagi umat.

Penutup: Meraih Rida Ilahi dengan Hati yang Bersih

Semoga pesan Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag., ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menyelaraskan akal dan mata hati dalam setiap amal perbuatan. Dengan begitu, setiap langkah dan upaya kita tidak hanya menjadi kebaikan di mata manusia, tetapi yang terpenting, benar-benar diridai oleh Allah SWT, membawa keberkahan, dan menjadi bekal menuju kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Mari kita terus berusaha menjadi hamba yang berakal cerdas dan berhati bersih.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Tebuireng Online