Presiden Iran Pezeshkian: Prioritaskan Solusi, Bukan Perang
11 Sep 2026, 11.02

Dalam sebuah pernyataan penting yang menarik perhatian publik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini menyampaikan pandangannya mengenai arah kebijakan negaranya. Beliau secara tegas menyatakan tidak mendukung kelanjutan perang, sebuah sikap yang menggarisbawahi prioritas perdamaian dan stabilitas. Namun, pada saat yang sama, Presiden Pezeshkian juga menekankan urgensi bagi Iran untuk memperkuat ketahanan nasionalnya demi menghadapi tantangan di masa depan, agar tidak berada dalam posisi lemah saat bernegosiasi.
Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan dengan para pimpinan universitas terkemuka di Iran, sebagaimana dilaporkan oleh ISNA. Presiden Pezeshkian menyoroti peran krusial institusi pendidikan tinggi dalam mendukung pemerintah. Ia berharap universitas dapat berkontribusi aktif dalam berbagai bidang strategis, termasuk ekonomi, manajemen, kebudayaan, dan sastra, sebagai pilar kemajuan bangsa.
Visi Kepemimpinan dan Peran Akademisi
Presiden Pezeshkian tidak hanya berhenti pada ajakan kepada universitas. Ia juga menyerukan keterlibatan mahasiswa yang lebih besar dalam mengatasi isu-isu nasional. Menurutnya, energi dan semangat generasi muda harus diarahkan untuk mencari solusi konkret, bukan sekadar menyalurkan aspirasi melalui protes. "Kita harus memastikan bahwa alih-alih terlibat dalam protes, mereka terlibat dalam memecahkan masalah," ujarnya, menandakan harapan besar pada potensi konstruktif mahasiswa.
Lebih lanjut, Presiden Pezeshkian menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki "sudut pandang politik dengan siapa pun." Sebuah pernyataan yang menunjukkan keterbukaan dan keinginan untuk merangkul semua pihak demi kemaslahatan bangsa. "Siapa pun yang membantu kami memecahkan masalah negara, dengan sudut pandang politik apa pun, saya terima," katanya. Ini adalah isyarat kuat untuk persatuan dan kolaborasi lintas spektrum politik dalam menghadapi tantangan yang ada. Beliau juga mengingatkan bahwa setiap langkah ekonomi harus mempertimbangkan kondisi spesifik negara, agar tidak menimbulkan hasil negatif atau kerugian.
Pentingnya Ketahanan Nasional dan Peran Pendidikan
Pernyataan Presiden Pezeshkian mengenai pentingnya ketahanan nasional mencerminkan pemahaman mendalam tentang dinamika geopolitik global. Ketahanan bukan hanya berarti kekuatan militer, tetapi juga mencakup kekuatan ekonomi, sosial, budaya, dan intelektual. Sebuah negara yang tangguh adalah negara yang mampu beradaptasi, berinovasi, dan melindungi kepentingannya di tengah badai tantangan global. Dalam konteks ini, peran universitas menjadi sangat vital sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia yang berkualitas.
Sejarah peradaban Islam sendiri banyak mengajarkan tentang pentingnya ilmu pengetahuan sebagai fondasi kekuatan dan kemajuan. Dari Baghdad hingga Kairo, pusat-pusat pendidikan menjadi mercusuar peradaban yang melahirkan inovasi di berbagai bidang. Keterlibatan aktif para akademisi dan mahasiswa dalam memecahkan masalah bangsa adalah manifestasi dari semangat ini. Mereka adalah agen perubahan yang membawa ide-ide segar dan solusi inovatif, mendorong terciptanya kebijakan yang berbasis data dan riset, bukan sekadar asumsi.
Refleksi Aswaja: Ilmu, Adab, dan Tanggung Jawab Umat
Dalam kacamata Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), pernyataan Presiden Pezeshkian ini mengandung banyak hikmah dan pelajaran. Pertama, penekanan pada perdamaian dan menghindari konflik sejalan dengan ajaran Islam yang mengutamakan ishlah (perdamaian) dan menghindari fasad (kerusakan). Namun, kesiapan dan ketahanan juga merupakan bagian dari ajaran Islam untuk menjaga martabat umat dan negara, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an tentang persiapan kekuatan.
Kedua, seruan untuk melibatkan universitas dan mahasiswa dalam mencari solusi adalah cerminan dari pentingnya ilmu pengetahuan ('ilm) dan adab dalam Islam. Para ulama dan cendekiawan adalah pewaris para nabi dalam membimbing umat. Peran mereka tidak hanya dalam mengajarkan agama, tetapi juga dalam memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban. Semangat kolaborasi dan pencarian solusi ini sejalan dengan nilai-nilai yang senantiasa digaungkan oleh komunitas Aswaja, termasuk dalam platform seperti SantriOnline, yang mendorong santri dan masyarakat luas untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa dengan landasan ilmu dan adab.
Ketiga, sikap keterbukaan Presiden Pezeshkian yang menerima bantuan dari berbagai pandangan politik demi kemaslahatan umum adalah teladan kepemimpinan yang bijaksana. Ini mencerminkan prinsip syura (musyawarah) dan mengedepankan maslahah 'ammah (kepentingan umum) di atas kepentingan golongan. Seorang pemimpin yang baik adalah yang mampu merangkul semua elemen masyarakat, mengoptimalkan potensi mereka untuk mencapai tujuan bersama, dan membimbing generasi muda ke arah yang konstruktif.
Pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kolaborasi, kebijaksanaan, dan orientasi pada solusi dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan semangat kebersamaan, didukung oleh ilmu pengetahuan dan adab, setiap bangsa dapat membangun masa depan yang lebih baik, jauh dari konflik dan penuh dengan kemajuan.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



