Seruan The Elders: Palestina Menghadapi Ancaman Penghapusan Identitas
9 Agu 2026, 23.01

SantriOnline News – Suara keprihatinan global kembali menggema terkait kondisi di Palestina. Kali ini datang dari kelompok The Elders, sebuah forum pemimpin dunia independen yang bekerja untuk perdamaian, keadilan, dan hak asasi manusia. Mantan Presiden Irlandia, Mary Robinson, yang merupakan anggota The Elders, secara tegas menyatakan bahwa Israel sedang berupaya untuk membuat Palestina menghilang.
Pernyataan ini dilontarkan oleh Robinson dalam konteks yang serius, menyoroti apa yang ia sebut sebagai ‘penghapusan Palestina secara fisik, ekonomi, budaya, dan politik’. Ungkapan ini menggarisbawahi kekhawatiran mendalam akan dampak jangka panjang dari kebijakan dan tindakan yang berlangsung di wilayah tersebut, yang berpotensi mengikis eksistensi dan identitas bangsa Palestina.
Inti Pernyataan The Elders
Mary Robinson, yang dikenal atas dedikasinya terhadap hak asasi manusia, menyampaikan bahwa upaya penghapusan ini terjadi di berbagai dimensi kehidupan masyarakat Palestina. Secara fisik, hal ini bisa merujuk pada perluasan permukiman, penghancuran rumah, dan perubahan demografi wilayah. Secara ekonomi, pembatasan akses, blokade, dan kontrol atas sumber daya dapat melumpuhkan kehidupan ekonomi masyarakat.
Lebih lanjut, Robinson juga menyoroti aspek budaya dan politik. Penghapusan budaya bisa berarti upaya untuk menghilangkan warisan, tradisi, dan identitas kolektif bangsa Palestina, sementara penghapusan politik merujuk pada pelemahan institusi, pembatasan ruang gerak politik, dan penolakan hak menentukan nasib sendiri. Pernyataan ini bukan sekadar kritik, melainkan sebuah seruan dari tokoh global yang memiliki rekam jejak panjang dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
The Elders, yang didirikan oleh Nelson Mandela, secara konsisten menyerukan solusi damai dan adil untuk konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Pernyataan Mary Robinson ini menambah daftar panjang suara-suara internasional yang mendesak komunitas global untuk bertindak lebih proaktif dalam melindungi hak-hak dasar dan martabat bangsa Palestina.
Konteks Konflik Palestina-Israel
Konflik antara Palestina dan Israel adalah salah satu isu geopolitik paling kompleks dan berkepanjangan di dunia. Akar konflik ini melibatkan sengketa wilayah, sejarah, identitas, dan agama yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Berbagai resolusi PBB dan upaya perdamaian internasional telah diusahakan, namun solusi permanen masih jauh dari jangkauan.
Situasi di wilayah pendudukan, termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza, seringkali menjadi sorotan utama. Masyarakat internasional, termasuk organisasi hak asasi manusia, secara rutin melaporkan pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan mobilitas, dan kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan. Pernyataan The Elders ini menegaskan kembali urgensi untuk mencari jalan keluar yang menghormati hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal.
Bagi umat Islam, Palestina memiliki makna yang sangat mendalam, terutama keberadaan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem (Al-Quds), yang merupakan kiblat pertama dan salah satu tempat suci ketiga dalam Islam. Oleh karena itu, isu Palestina selalu menjadi perhatian serius bagi umat Muslim di seluruh dunia, yang memandang konflik ini bukan hanya sebagai masalah politik, tetapi juga masalah keimanan dan kemanusiaan.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja untuk Umat
Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita diajarkan untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kedamaian, dan persaudaraan universal. Pernyataan dari The Elders ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak abai terhadap isu-isu kemanusiaan di belahan dunia manapun, khususnya di Palestina.
Pertama, penting bagi kita untuk terus menuntut ilmu dan literasi yang memadai mengenai konflik ini. Memahami sejarah, akar masalah, dan dinamika terkini adalah kunci untuk membentuk pandangan yang objektif dan tidak mudah terprovokasi. Literasi yang baik akan membimbing kita untuk menyuarakan kebenaran dengan hikmah dan adab, sebagaimana diajarkan dalam Islam. Menjauhi hoaks dan informasi yang tidak terverifikasi adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai umat beradab.
Kedua, dalam menyikapi isu Palestina, kita diajarkan untuk senantiasa mengedepankan adab dan akhlak mulia. Meskipun hati kita mungkin bergejolak melihat ketidakadilan, respons kita haruslah mencerminkan ajaran Islam yang moderat (wasathiyah), menjauhi ekstremisme dan ujaran kebencian. Doa adalah senjata mukmin, dan terus memanjatkan doa untuk kedamaian, keadilan, dan keselamatan saudara-saudari kita di Palestina adalah amalan yang sangat mulia.
Ketiga, refleksi keumatan ini juga mengajak kita untuk menguatkan persatuan dan solidaritas. Umat Islam adalah satu tubuh, dan penderitaan di satu bagian akan dirasakan oleh bagian lainnya. Mendukung Palestina bisa melalui berbagai cara yang sah dan konstruktif, seperti donasi kepada lembaga-lembaga terpercaya yang menyalurkan bantuan kemanusiaan, serta menyuarakan keadilan melalui jalur diplomasi dan advokasi yang santun. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ.
Penutup
Pernyataan The Elders melalui Mary Robinson adalah pengingat keras bahwa perjuangan untuk keadilan di Palestina masih jauh dari usai. Mari kita terus berdoa, belajar, dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, dengan penuh hikmah, kesabaran, dan solidaritas. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada bangsa Palestina dan menganugerahkan kedamaian yang hakiki di tanah suci tersebut.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



