Tuntut Keluarkan Tahanan Politik

15 Agu 2026, 11.00

Thumbnail Tuntut Keluarkan Tahanan Politik

Keluarga tahanan politik Mesir menuntut pemerintah untuk membebaskan tahanan politik pada peringatan 13 tahun pembantaian Rabaa. Pembantaian Rabaa terjadi pada 14 Agustus 2013, ketika pasukan keamanan Mesir menyerang pengunjuk rasa pro-demokrasi di Lapangan Rabaa dan al-Nahda, menewaskan setidaknya 900 orang.

Penyerangan dan Pembantaian

Penyerangan tersebut terjadi enam minggu setelah Jenderal Abdel Fattah el-Sisi mengambil alih kekuasaan dari Presiden Mesir pertama yang dipilih secara demokratis, Mohamed Morsi. Banyak pengunjuk rasa yang dipenjara dan diadili, termasuk 51 terdakwa dalam kasus "Rabaa Operations Room" dan 739 terdakwa dalam kasus penyerakan pengunjuk rasa di Lapangan Rabaa.

Asosiasi Keluarga Tahanan Mesir (Feda) menyerukan agar pemerintah Mesir membebaskan tahanan politik yang masih dipenjara terkait dengan kasus Rabaa. Feda juga menuntut agar pemerintah Mesir memulai proses rekonsiliasi nasional dan keadilan transisional, seperti yang diamanatkan dalam Pasal 241 Konstitusi Mesir.

Kondisi Tahanan

Organisasi hak asasi manusia memperkirakan bahwa lebih dari 60.000 tahanan hati nurani dipenjara di Mesir, termasuk lebih dari 1.000 wanita. Banyak tahanan yang meninggal karena kelalaian medis dan kondisi penjara yang tidak manusiawi. Feda berharap bahwa peringatan 13 tahun pembantaian Rabaa dapat menjadi awal dari proses rekonsiliasi nasional dan keadilan transisional.

Rekonsiliasi Nasional

Feda menyerukan agar pemerintah Mesir memulai proses rekonsiliasi nasional dan keadilan transisional, seperti yang diamanatkan dalam Pasal 241 Konstitusi Mesir. Proses ini harus mencakup pencarian kebenaran, pertanggungjawaban, rekonsiliasi, dan kompensasi bagi korban. Feda juga menuntut agar pemerintah Mesir memperbaiki kondisi penjara dan memastikan bahwa tahanan mendapatkan perlakuan yang manusiawi.

Kondisi penjara di Mesir masih sangat buruk, dengan tahanan yang dipenjara dalam sel yang sempit dan tidak sehat. Banyak tahanan yang tidak mendapatkan akses ke perawatan medis yang memadai, serta tidak dapat menerima kunjungan dari keluarga. Feda berharap bahwa pemerintah Mesir dapat memperbaiki kondisi penjara dan memastikan bahwa tahanan mendapatkan perlakuan yang manusiawi.

Pelajaran dari Sejarah

Pembantaian Rabaa merupakan salah satu contoh kegagalan negara dalam melindungi hak asasi manusia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekerasan dan penindasan dapat menyebabkan kerusakan yang besar pada masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting bagi negara untuk memastikan bahwa hak asasi manusia dilindungi dan dipromosikan.

Feda berharap bahwa peringatan 13 tahun pembantaian Rabaa dapat menjadi awal dari proses rekonsiliasi nasional dan keadilan transisional. Proses ini harus mencakup pencarian kebenaran, pertanggungjawaban, rekonsiliasi, dan kompensasi bagi korban. Dengan demikian, Mesir dapat memulai proses penyembuhan dan membangun masyarakat yang lebih adil dan demokratis.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Middle East Eye