Turki Tegaskan Penolakan atas Dukungan Kolombia terhadap Pendudukan Israel di Golan

11 Agu 2026, 23.02

Thumbnail Turki Tegaskan Penolakan atas Dukungan Kolombia terhadap Pendudukan Israel di Golan

SantriOnline News - Dalam sebuah perkembangan penting di panggung diplomasi internasional, Turki telah secara tegas menyatakan penolakannya terhadap keputusan Kolombia yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Turki, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Anadolu, dan menempatkan Turki dalam barisan negara-negara, mayoritas berpenduduk Muslim, yang mengutuk langkah Kolombia tersebut.

Sikap Turki mencerminkan konsensus internasional yang luas bahwa Dataran Tinggi Golan adalah wilayah Suriah yang diduduki, bukan bagian dari kedaulatan Israel. Penolakan ini bukan sekadar pernyataan politik, melainkan penegasan prinsip-prinsip hukum internasional dan keadilan yang menjadi landasan hubungan antarnegara yang beradab.

Inti Berita: Kecaman Turki dan Solidaritas Internasional

Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataannya dengan jelas mengutuk keras “pernyataan yang dibuat oleh Kolombia untuk melegitimasi pendudukan Israel atas Dataran Tinggi Golan, yang merupakan bagian integral dari Suriah.” Pernyataan ini menegaskan kembali posisi Turki yang konsisten dalam mendukung integritas wilayah Suriah dan menolak segala bentuk pendudukan ilegal.

Lebih lanjut, Turki juga menyerukan komunitas internasional untuk mengambil peran aktif dalam mengakhiri pendudukan Israel di Suriah selatan, termasuk Dataran Tinggi Golan, serta menghentikan serangan-serangan yang menargetkan kedaulatan dan stabilitas negara tersebut. Seruan ini menggarisbawahi pentingnya tanggung jawab kolektif dalam menjaga perdamaian dan keadilan global.

Sebelumnya, sejumlah negara lain seperti Suriah, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Irak, dan Palestina juga telah menyampaikan kecaman serupa terhadap langkah Kolombia. Solidaritas ini menunjukkan bahwa isu Dataran Tinggi Golan bukan hanya masalah bilateral antara Israel dan Suriah, melainkan isu yang menyentuh prinsip-prinsip hukum internasional dan keadilan yang dipegang teguh oleh banyak negara di dunia.

Konteks Umum dan Latar Belakang Sejarah Golan

Dataran Tinggi Golan adalah wilayah strategis yang direbut Israel dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967. Meskipun Israel secara sepihak mencaplok wilayah tersebut pada tahun 1981, langkah ini tidak pernah diakui oleh sebagian besar komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Resolusi Dewan Keamanan PBB 497, misalnya, menyatakan bahwa keputusan Israel untuk mencaplok Golan adalah “batal demi hukum dan tidak memiliki efek hukum internasional.”

Pengakuan Kolombia terhadap kedaulatan Israel atas Golan merupakan penyimpangan dari konsensus internasional yang telah lama terbentuk. Hal ini berpotensi merusak upaya-upaya perdamaian di kawasan dan menciptakan preseden yang berbahaya bagi penyelesaian konflik berdasarkan hukum internasional. Penting bagi kita untuk memahami bahwa isu ini bukan hanya tentang wilayah geografis, tetapi juga tentang prinsip kedaulatan negara, hak asasi manusia, dan penegakan hukum internasional.

Dalam konteks yang lebih luas, isu pendudukan wilayah dan pengakuan sepihak seringkali menjadi pemicu ketidakstabilan dan ketegangan. Oleh karena itu, menjaga integritas hukum internasional dan menghormati resolusi-resolusi PBB adalah kunci untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan damai, sesuai dengan ajaran Islam yang mengedepankan keadilan dan kemaslahatan bersama.

Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Keadilan, Adab, dan Tanggung Jawab Umat

Sebagai umat Islam, khususnya yang berpegang teguh pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), kita diajarkan untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai keadilan (al-adl) dan kebenaran (al-haqq). Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW berulang kali menekankan pentingnya berlaku adil, bahkan terhadap mereka yang kita tidak sukai. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma'idah ayat 8, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlakulah adil, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kasus Dataran Tinggi Golan ini mengingatkan kita akan tanggung jawab untuk bersolidaritas dengan pihak yang terzalimi dan menyuarakan kebenaran. Solidaritas ini termanifestasi dalam ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama Muslim, dan juga ukhuwah insaniyah, persaudaraan sesama manusia, yang menuntut kita untuk peduli terhadap penderitaan dan ketidakadilan di belahan dunia manapun. Sikap moderat (wasathiyah) dalam Aswaja mengajarkan kita untuk menyikapi isu-isu global dengan hikmah, menghindari ekstremisme, dan mengedepankan solusi damai serta dialog konstruktif.

Bagi santri dan umat Islam, penting untuk memiliki literasi yang baik terhadap isu-isu geopolitik. Memahami sejarah, hukum internasional, dan dinamika politik global adalah bagian dari adab menuntut ilmu dan tanggung jawab sebagai warga negara dan anggota umat. Kita didorong untuk mencari informasi dari sumber yang kredibel, menganalisis dengan pikiran jernih, dan menyuarakan pendapat dengan cara yang santun dan konstruktif, jauh dari provokasi atau ujaran kebencian. Dengan demikian, kita dapat berkontribusi pada terciptanya keadilan dan perdamaian di dunia, sebagaimana dicita-citakan oleh Islam.

Penutup

Sikap Turki yang mengecam dukungan Kolombia terhadap pendudukan Dataran Tinggi Golan adalah cerminan dari prinsip-prinsip keadilan dan hukum internasional yang harus dijunjung tinggi. Ini adalah pengingat bahwa komunitas internasional memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memastikan bahwa semua wilayah yang diduduki dikembalikan kepada pemilik sahnya. Semoga upaya-upaya diplomasi dan seruan untuk keadilan ini dapat terus bergaung, membawa harapan bagi penyelesaian konflik secara damai dan adil di Dataran Tinggi Golan dan wilayah-wilayah lain yang masih berada di bawah pendudukan.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Middle East Eye