Kuitansi di Laci Koperasi
Bab 1
Bau laut yang pekat bercampur aroma kayu jati menyambutku saat perahu motor Mas Dirman perlahan merapat ke dermaga kayu Karang Asta. Aku mendekap tas kain lusuh di depan dada, memastikan mesin hitung peninggalan Ayah tetap aman di dalamnya. Seorang pria paruh baya dengan kopiah hitam yang sedikit miring menungguku di ujung papan dermaga dengan tatapan tajam.
"Kau Haris dari Sumberjati," ujarnya tanpa basa-basi, suaranya parau namun penuh otoritas.
Aku mengangguk pelan sembari menyalimi tangannya yang kasar. "Benar, Kiai. Saya Haris. Terima kasih telah mengizinkan saya datang ke sini."
Kiai Mahfud melepaskan genggamannya, lalu memberi isyarat agar aku segera mengangkat barang bawaanku. Kami berjalan melewati barisan rumah kapur yang tampak pucat di bawah langit sore yang mulai meredup. Di sepanjang jalan, aku melihat anak-anak kecil berlarian mengejar debu, sementara para nelayan sibuk memperbaiki jala di pelataran masjid. Tidak ada yang menoleh padaku, seolah kehadiranku hanyalah bayang-bayang yang memang sudah seharusnya ada di sana.
Kami sampai di sebuah bangunan kayu yang tampak tidak terurus di sisi barat pesantren. Kiai mendorong pintu geser yang berderit nyaring, membiarkan debu beterbangan di udara ruang yang sempit dan pengap. Tidak ada meja kerja yang layak di ruangan itu, hanya sebuah laci kayu bekas lemari arsip yang teronggok di sudut ruangan dengan kunci yang tergantung tak beraturan.
"Ini tempatmu mulai besok," kata Kiai Mahfud sambil menunjuk laci tua itu dengan dagunya. "Koperasi ini baru saja berdiri, dan aku butuh seseorang yang bisa memastikan angka-angka di dalamnya tetap lurus tanpa perlu banyak bertanya pada orang lain."
Aku meletakkan tas kainku di atas lantai kayu yang berderit. Dingin menyusup melalui celah dinding, mengingatkanku bahwa aku benar-benar sendiri sekarang, ribuan mil jauhnya dari bengkel radio Ayah yang hangat. Kiai Mahfud berdiri di ambang pintu, punggungnya menghalangi sisa cahaya matahari yang mencoba masuk ke dalam ruang.
"Mengapa Kiai memilih saya?" tanyaku pelan, merasa perlu memastikan posisiku sebelum benar-benar memulai kerja yang berat ini.
Kiai Mahfud terdiam cukup lama, membiarkan suara deburan ombak di kejauhan mengisi keheningan di antara kami. Ia memutar tubuh, menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar pembukuan koperasi nelayan.
"Aku memilihmu karena kau tidak punya siapa-siapa di sini," kata Kiai dengan nada yang datar namun menekan, "dan kelak kau akan tahu itu alasan yang sama dengan alasan orang lain."
Kiai Mahfud melangkah pergi meninggalkan ruang sempit itu tanpa menoleh lagi. Aku berdiri mematung di dekat laci kayu yang berbau apak. Debu halus menari-nari dalam cahaya yang menerobos celah dinding papan. Aku membuka tas kainku, mengeluarkan mesin hitung tua peninggalan Ayah dengan sangat hati-hati. Benda itu berat, dingin, dan memiliki tuas besi yang selalu berbunyi klik setiap kali angka ditambahkan. Aku meletakkannya di atas laci, lalu duduk bersimpuh di lantai. Belum ada kursi, belum ada lampu minyak yang cukup terang, dan yang paling penting, belum ada catatan apa pun.
Aku mulai menyapu lantai dengan ujung baju. Debu-debu itu menumpuk menjadi gundukan abu-abu di pojok ruangan. Di luar sana, suara azan Maghrib mulai berkumandang dari arah masjid pesantren, bersahutan dengan debur ombak yang menghantam karang. Aku segera berwudu di tempayan air yang disediakan di teras belakang, lalu melaksanakan shalat sendirian di sudut koperasi. Dalam sujud, aku membayangkan bengkel radio di Sumberjati. Ayah selalu bilang bahwa angka tidak pernah berbohong, hanya tangan manusia yang sering kali gemetar saat menulisnya. Aku memohon agar tanganku diberikan keteguhan untuk tetap jujur, meski aku tahu tempat ini tidak memiliki pagar yang cukup tinggi untuk melindungiku.
Setelah shalat, aku kembali ke laci itu. Aku menarik pegangannya. Kayu itu tersendat, menimbulkan bunyi gesekan yang menyakitkan telinga. Di dalamnya hanya ada segulung kertas kuitansi kosong dan sebuah pensil kayu yang sudah tumpul. Aku mengambil pensil itu, merautnya dengan pisau saku, dan mulai menulis daftar belanja awal untuk koperasi nelayan. Kertas itu masih putih bersih, dan aku harus memastikan tidak ada satu angka pun yang melenceng. Aku tahu koperasi ini adalah harapan para nelayan yang selama bertahun-tahun dipermainkan oleh tengkulak. Jika aku bisa menjaga angkanya tetap lurus, mungkin kesejahteraan mereka bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas.
Seseorang mengetuk pintu kayu yang setengah terbuka. Aku menoleh dan mendapati seorang pria muda dengan wajah yang tampak lelah namun teduh. Ia mengenakan baju koko putih yang sudah kusam di bagian kerah. Ia membawa nampan berisi segelas teh hangat dan sepiring singkong rebus.
"Saya Rasyid," ucapnya pelan sembari meletakkan nampan itu di lantai dekat kakiku. "Kiai meminta saya membawakan ini. Beliau tahu kau belum makan sejak dari perahu tadi siang."
Aku mengangguk hormat. "Terima kasih, Ustaz Rasyid. Saya Haris."
Ia memperhatikan mesin hitung di atas laci dengan tatapan penasaran. "Benda itu tampak sangat tua. Apakah masih berfungsi dengan baik?"
Aku menggerakkan tuasnya sekali, bunyi denting logam yang khas bergema di ruangan. "Masih, Ustaz. Ayah selalu merawatnya. Baginya, mesin ini adalah saksi kejujuran setiap transaksi di bengkel kami."
Rasyid tersenyum tipis, namun matanya tidak benar-benar terlihat senang. Ia tampak seperti orang yang menyimpan beban berat di pundaknya. Ia menatap ke luar jendela yang hanya berupa lubang persegi di dinding, menatap ke arah kantor pengurus yayasan yang lampunya masih menyala terang.
"Di sini, Haris, kejujuran kadang menjadi beban yang lebih berat daripada kayu jati yang dibawa oleh perahu Pak Sudibyo," ujar Rasyid setengah berbisik. "Kiai adalah orang baik, namun beliau memiliki banyak urusan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan doa. Beliau butuh dukungan, dan terkadang dukungan itu memerlukan pengorbanan yang tidak selalu tampak di buku kas."
Aku terdiam. Kalimatnya terdengar seperti sebuah peringatan, namun aku tidak cukup berani untuk menanyakan lebih jauh. Aku hanya mengangguk kecil, berharap bahwa dengan bekerja keras dan tidak terlibat dalam politik pesantren, aku bisa tetap aman. Rasyid kemudian berpamitan dengan langkah yang tenang, meninggalkan aku sendirian kembali dalam kesunyian malam di pulau ini.
Aku mulai menghitung estimasi kebutuhan solar untuk para nelayan minggu depan. Aku mencatatnya dengan rapi di buku kecil yang kubawa dari rumah. Namun, saat aku membandingkan harga yang diberikan nelayan dengan harga yang beredar di pasar kecamatan, ada selisih yang mencolok. Selisih itu tidak masuk akal jika dihitung dengan logika perdagangan biasa. Aku menghela napas, menatap kuitansi kosong di hadapanku. Apakah aku harus mencatat sesuai dengan harga asli, atau sesuai dengan harga yang diminta oleh kebijakan pesantren?
Aku teringat kata-kata Kiai Mahfud tadi sore. Bahwa aku dipilih karena aku tidak punya siapa-siapa. Itu bukan hanya berarti aku tidak punya keluarga yang akan menuntut jika terjadi sesuatu padaku. Itu berarti tidak ada orang di pulau ini yang akan percaya padaku saat aku mencoba mengungkapkan kenyataan. Aku merasa jemariku dingin. Aku bukan hanya seorang pengurus koperasi sekarang, aku adalah penjaga angka yang sedang dipersiapkan untuk menjadi tameng atau mungkin tumbal bagi rahasia yang bahkan belum sepenuhnya kupahami.
Di luar, suara angin laut menderu, menghantam dinding kayu koperasi hingga terdengar seperti suara jeritan tertahan. Aku mendekap mesin hitungku, mencoba mencari kehangatan di antara logam-logamnya yang dingin. Jika besok aku mulai mencatat, aku tahu bahwa lembaran kertas ini nantinya akan menyimpan lebih banyak kebenaran daripada yang sanggup diucapkan oleh orang-orang di pulau ini. Aku menutup laci itu perlahan, menguncinya, dan menyimpan kunci itu di balik kerah bajuku. Aku tidak bisa pulang sebelum aku tahu ke mana uang nelayan ini sebenarnya bermuara, meski aku harus menanggung risikonya seorang diri.
Aku membaringkan tubuh di atas lantai kayu yang keras, menatap langit-langit ruangan yang penuh dengan sarang laba-laba. Aku tidak tahu apakah aku telah membuat keputusan yang benar dengan membawa mesin hitung ini ke tempat yang asing ini. Namun, saat aku memejamkan mata, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa selama aku masih memegang kendali atas angka-angka ini, tidak akan ada satu pun rupiah yang hilang tanpa alasan yang bisa kujelaskan di hadapan Tuhan. Aku tidak butuh teman, aku tidak butuh pengakuan, aku hanya butuh kebenaran yang tertulis rapi di dalam buku kas ini.



