Kuitansi di Laci Koperasi
Bab 2
Udara Karang Asta selalu terasa kental dengan garam dan sisa keringat kapal kayu. Aku mengusap peluh di kening, lalu kembali menatap lembar buku dagang yang terlipat di bawah terpal. Di dermaga, Mas Dirman sedang sibuk berdebat dengan tengkulak soal harga jati. Ia melambai, memberi isyarat agar aku segera menuntaskan hitungan sebelum air laut pasang benar-benar memutus jalur perahu.
Aku menggeser jari di atas deretan angka, menghitung ulang tumpukan kayu yang baru saja diturunkan. Satu, dua, tiga, hingga batang kedua puluh. Hatiku berdesir. Catatan yang kubuat di buku kecil ini menunjukkan dua batang kayu lebih sedikit dibanding laporan yang Mas Dirman berikan kepada pembeli. Jika kayu itu tidak ada di sini, ke mana mereka pergi? Aku menoleh ke arah gudang pesantren, tempat beberapa pemuda sedang memikul balok-balok sisa dengan ritme yang lamban.
Di antara mereka, aku melihat seorang pemuda yang asing. Tubuhnya sedikit membungkuk, menahan beban di bahu, wajahnya tertutup topi anyaman yang lusuh. Dia pemuda yang sama yang tempo hari kulihat duduk di balik jendela gudang, sibuk dengan mesin hitung yang berbunyi nyaring. Dia bukan nelayan, bukan pula santri yang kukenal dari pengajian sore. Dia terlihat seperti orang yang sedang berupaya keras untuk tidak menjadi pusat perhatian, namun setiap gerakannya justru tampak terlalu hati-hati untuk ukuran kuli pelabuhan.
Mas Dirman menghampiriku dengan napas terengah. Wajahnya merah padam, khas orang yang baru saja memenangkan tawar-menawar yang alot. Dia merebut buku dagang dari tanganku tanpa permisi, lalu melirik angkanya dengan tatapan tajam.
"Jangan terlalu teliti, Salma. Ini bukan sekolah tempat gurumu mengoreksi setiap salah ketik," ujar Mas Dirman ketus sambil memasukkan buku itu ke saku bajunya.
"Tapi kayu itu kurang dua batang, Mas. Apa akan kita biarkan begitu saja saat pembeli bertanya?" tanyaku pelan, berusaha menjaga agar suaraku tidak terdengar menantang. Aku tahu Mas Dirman tidak suka dibantah, apalagi jika menyangkut urusan dagang yang ia lakukan sendiri.
"Aku sudah mengatur semuanya dengan orang kepercayaan Pak Sastro. Kamu cukup hitung garam yang akan kita bawa pulang nanti," jawabnya dingin. Dia tidak menatapku. Matanya justru tertuju pada sebuah perahu motor yang baru saja menepi di sisi terjauh dermaga.
Aku terdiam. Bau solar yang menyengat dari perahu motor itu bercampur dengan amis ikan di udara. Seorang lelaki berbaju koko bersih dengan kopiah beludru turun dari perahu, membawa tas kulit yang terlihat berat. Mas Dirman segera meninggalkan barang bawaan kami dan melangkah cepat ke sana, meninggalkan aku yang mematung di antara tumpukan jati yang menghitung sendiri kekurangan yang tak terjawab.
Aku tetap berdiri di sana, membiarkan debu dermaga hinggap di ujung kerudungku. Dari kejauhan, aku bisa melihat percakapan mereka. Lelaki berkopiah beludru itu tidak tampak seperti pedagang kayu biasa. Gesturnya kaku, penuh wibawa yang dingin, seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah daripada menawar harga. Mas Dirman membungkuk sedikit, sebuah gestur yang tak pernah kulihat ia lakukan bahkan di depan ayah kami sendiri di Sumberjati.
"Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar jual beli kayu?" bisikku dalam hati. Aku mencoba menajamkan telinga, namun deru mesin perahu nelayan yang baru datang kembali ke dermaga menelan suara mereka. Aku tahu seharusnya aku segera kembali ke perahu, menyiapkan karung-karung garam yang harus kami bawa pulang, namun kakiku seolah terpaku di atas papan dermaga yang mulai lapuk.
Mas Dirman memberikan isyarat dengan tangannya, sebuah gerakan yang menyuruhku untuk tetap tinggal di tempat. Aku melihat lelaki berbaju koko itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya. Itu bukan kuitansi biasa. Warnanya kekuningan dan tampak sangat tua. Mas Dirman kemudian menunjuk ke arah gudang pesantren, ke tempat pemuda asing itu tadi berada. Aku merasa bulu kudukku berdiri. Apa kaitan pemuda itu dengan transaksi kayu yang kurang ini?
"Salma, jangan banyak melihat ke arah sana!" seru Mas Dirman tiba-tiba dari kejauhan dengan nada suara yang meninggi. Aku segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan karung garam yang berserakan di dekat kakiku. Jantungku berdegup tidak karuan. Aku tahu Mas Dirman seringkali berurusan dengan orang-orang jalur Wibawa untuk menutupi utang kapalnya yang karam tahun lalu, namun ini terasa berbeda. Ini terasa seperti sebuah jebakan yang sedang dipasang perlahan-lahan.
Beberapa menit kemudian, lelaki berkopiah itu berjalan kembali menuju perahunya. Ia tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Mas Dirman berjalan menghampiriku dengan wajah yang tampak lebih lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Namun, ia tidak segera mengajakku naik ke kapal. Ia justru berdiri di sampingku, menatap ke laut yang mulai gelap.
"Salma, dengarkan aku baik-baik," suara Mas Dirman merendah, nyaris seperti bisikan yang terputus oleh angin laut. "Apa yang kau lihat di buku dagangmu hari ini, lupakan. Jangan pernah kau sebut soal dua batang kayu itu kepada siapa pun, apalagi kepada Kiai Mahfud atau santri-santrinya yang sok suci itu."
"Tapi Mas, itu catatan yang harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana jika pembeli menanyakan selisihnya nanti?" sahutku memberanikan diri menatap mata kakaknya. Aku ingin tahu apakah dia masih memiliki nurani sebagai pedagang yang jujur, ataukah dia sudah benar-benar menjual harga dirinya demi melunasi utang.
Mas Dirman tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar kering dan tidak tulus. "Dunia ini tidak berjalan dengan kejujuran yang kau pelajari di bangku sekolah, Salma. Dunia berjalan dengan siapa yang bisa mengatur angka di atas kertas dengan lebih pintar. Kamu pikir koperasi pesantren itu bisa berdiri tanpa bantuan orang-orang besar? Mereka semua bermain di balik meja. Dan kau, sebagai adikku, harusnya tahu di pihak mana kita berdiri."
Aku tidak menjawab. Aku memandang ke arah gudang lagi. Pemuda asing itu kini muncul di depan pintu gudang, membawa sebuah kotak kecil yang terlihat seperti mesin hitung. Dia tampak begitu kesepian di tengah keramaian santri yang sedang berwudhu untuk shalat Maghrib. Dia tidak tahu bahwa namanya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah ia temui secara langsung di dermaga ini.
"Mas, siapa orang tadi? Mengapa dia tampak begitu berkuasa di dermaga kita?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih menekan.
Mas Dirman menatapku tajam. Ia mendekat, memastikan tidak ada orang lain di sekitar kami sebelum berbisik, "Orang itu adalah tangan kanan Raden Sastro Wibawa. Dan kayu yang kita sisihkan tadi? Itu adalah bagian dari kesepakatan untuk memastikan Haris, si pemuda yatim piatu itu, tidak akan bertahan lama di pulau ini. Dia harus membuat kesalahan, dan setiap angka yang hilang adalah bukti yang akan kita gunakan nanti."
Aku tertegun. Jadi, Haris bukanlah orang yang mereka curigai, melainkan orang yang sedang mereka jebak untuk menjadi tumbal. Aku merasa mual. Bagaimana mungkin orang-orang dewasa ini menggunakan hidup seseorang sebagai alat untuk kepentingan tanah dan uang?
"Mengapa harus dia? Dia tidak punya siapa pun untuk membela dirinya," gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada Mas Dirman.
Mas Dirman memegang bahuku dengan keras. "Karena itulah dia dipilih. Tidak ada keluarga yang akan menangis jika dia diusir, tidak ada nama baik yang akan tercemar jika dia difitnah. Sekarang, bantu aku memindahkan sisa jati ini ke perahu kecil di belakang gudang. Kita harus segera menyelesaikan ini sebelum malam benar-benar turun."
Aku bergerak mengikuti perintah Mas Dirman dengan hati yang berat. Kami membawa dua batang jati itu ke arah dermaga kecil yang tersembunyi di balik semak-semak. Di sana, lelaki berbaju koko itu telah menunggu. Mas Dirman menyerahkan kayu-kayu itu dengan tangan gemetar. Lelaki itu hanya mengangguk singkat, kemudian memberikan sebuah amplop tebal kepada Mas Dirman.
Saat aku berjalan menjauh, aku mendengar Mas Dirman berkata dengan nada bangga kepada lelaki itu, sambil menunjuk ke arah gudang tempat Haris bekerja, "Itu orang yang mengantar Haris ke sini."



