Bab 3 Gratis Novel Religi & Keluarga

Kuitansi di Laci Koperasi

Tabungan yang Dihitung di Pasir

8 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 3

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Kuitansi di Laci Koperasi

Bab 3

Gratis

Angin laut bertiup dari arah selatan, membawa aroma garam yang menempel di sela-sela pohon asam. Di bawah naungan rindang pohon besar itu, aku menggelar tikar pandan yang sudah agak tipis. Tiga puluh dua nelayan sudah duduk melingkar dengan wajah-wajah yang tampak cemas namun penuh harap. Di hadapanku, tumpukan uang receh, koin logam yang kusam, dan beberapa lembar uang kertas lusuh berserakan membentuk bukit-bukit kecil. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan jemari yang mulai berkeringat. Ini bukan sekadar menghitung, ini adalah kepercayaan yang sedang aku timbang.

"Silakan, Mas Haris. Kami sudah tidak punya lagi yang bisa disetorkan," ujar Hasan, nelayan muda yang duduk paling depan. Ia menatapku dengan mata yang menuntut kepastian. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk pelan dan mulai memisahkan koin-koin itu ke dalam kelompok sepuluh dan seratus.

Aku menghitung tumpukan itu untuk kali pertama. Tanganku bergerak lincah, memindahkan koin demi koin. Suara logam yang beradu terdengar nyaring di tengah kesunyian dusun. Pak Zaenal Abidin, yang duduk di sampingku dengan tangan kirinya yang terkulai lemas, memperhatikan setiap gerakanku dengan saksama. Ia terpilih sebagai bendahara atas kesepakatan orang-orang tua di sini. Meski ia lumpuh sebelah, matanya masih setajam elang saat menatap buku kas yang masih bersih.

"Sudah tiga kali kau menghitungnya, Nak Haris," suara Pak Zaenal terdengar berat, memecah konsentrasi. "Apakah ada yang kurang?"

Aku berhenti sejenak. Aku menghitung untuk kali kedua dan ketiga, memastikan angka di tanganku sama dengan angka yang dicatat oleh para nelayan di buku kecil mereka masing-masing. "Semua pas, Pak. Hanya saja, saya perlu memastikan bahwa tidak ada yang terselip."

Aku membuka buku kas besar, mencatat nominal simpanan pokok dengan tinta hitam yang pekat. Aku ingin setiap angka ini bisa dipertanggungjawabkan hingga ke masa depan. Setelah semua nelayan menyerahkan uangnya, aku kembali memeriksa totalnya. Kepalaku terasa berat. Angka di buku kas menunjukkan jumlah yang berbeda seratus rupiah lebih banyak dibandingkan total koin di depan mata. Aku mengerutkan kening, memeriksa kembali setiap tumpukan, namun jumlahnya tetap sama.

"Ada apa?" tanya Rasyid yang sedari tadi berdiri di balik pohon, mengawasi rapat kami dengan tangan bersedekap. Ia melangkah mendekat, bayangannya jatuh tepat di atas buku kas yang terbuka. Ia menatapku tajam, seolah sedang membaca isi kepalaku yang sedang dipenuhi angka-angka yang tidak sinkron. Aku menatapnya, bingung harus berkata apa di depan para nelayan yang masih menunggu instruksi selanjutnya.

Aku terdiam sejenak. Jemariku yang tadi lincah menata koin, kini terasa kaku di atas permukaan kertas yang kasar. Suara derik serangga di pohon asam seolah membesar, menyisakan dengung yang mengganggu fokus. Aku menatap koin seratus rupiah yang terselip di bawah tumpukan kuitansi, sebuah keping logam yang tidak seharusnya ada di sana. Jika simpanan pokok nelayan berjumlah tiga puluh dua orang dengan nominal yang sama, maka seharusnya tidak ada sisa. Keringat dingin mulai mengalir di tengkukku.

"Mas Haris? Apakah ada masalah dengan angkanya?" tanya Hasan. Wajahnya yang kecokelatan karena terpapar matahari laut terlihat sedikit gusar. Para nelayan lain mulai berbisik-bisik, saling melirik satu sama lain. Suasana rapat yang tadi tenang kini mulai disusupi kecemasan yang samar.

Aku menghela napas, berusaha menjaga agar suaraku tetap datar. "Tidak ada masalah, Hasan. Hanya memastikan ketelitian saja. Sebagai bendahara, Pak Zaenal perlu melihat catatan ini agar sesuai dengan realitas di lapangan."

Pak Zaenal menggeser duduknya, mendekat ke arahku. Tangan kanannya yang sehat membuka lembaran buku kas dengan hati-hati. Ia menunjuk kolom total dengan telunjuk yang menebal karena kerja keras bertahun-tahun. "Ini adalah uang orang-orang kecil, Haris. Mereka menyisihkan sebagian hasil tangkapan bukan untuk main-main. Jika catatanmu salah, kau tidak hanya berurusan dengan kami, tapi juga dengan apa yang ada di dalam sana," ucapnya pelan, matanya melirik ke arah masjid pesantren yang berdiri tak jauh dari tempat kami berkumpul.

Aku mengangguk khidmat. Aku tahu apa maksudnya. Di pulau ini, angka bukan sekadar hitungan, melainkan bentuk kepercayaan. Aku kembali menunduk, menghitung ulang tumpukan koin untuk keempat kalinya. Tetap saja, jumlahnya menunjukkan seratus rupiah lebih banyak daripada daftar setoran yang aku pegang. Aku merasa seolah sedang diperhatikan oleh ribuan mata. Ustaz Rasyid masih berdiri di sana, di balik batang pohon asam, mematung dengan wajah yang tidak terbaca.

"Pak Zaenal, mungkin Bapak bisa membantu saya memeriksa kembali nama-nama yang sudah menyetor?" pintaku, memberikan kesempatan bagi bendahara itu untuk memvalidasi catatanku. Aku ingin ada saksi yang melihat bahwa aku tidak melakukan kesalahan.

Pak Zaenal mengangguk, lalu mulai menyebutkan satu per satu nama nelayan yang hadir. Setiap kali sebuah nama disebut, aku menggeser koin ke arah yang berlawanan. Satu, dua, tiga, hingga mencapai tiga puluh dua orang. Namun, saat aku mencapai akhir dari daftar tersebut, koin seratus rupiah itu masih tergeletak sendirian, tidak memiliki pasangan dalam catatan.

"Semuanya sudah lengkap, Haris. Tiga puluh dua kepala keluarga sudah menyerahkan bagiannya," ujar Pak Zaenal menutup catatan. Ia menatapku dengan tatapan yang menyiratkan harapan.

Aku merasa dadaku sesak. Jika aku melaporkan kelebihan ini, mungkin aku akan dianggap tidak kompeten. Jika aku diam dan memasukkannya ke kas tanpa catatan, aku sudah melanggar prinsip kejujuran yang sejak awal aku tetapkan untuk diriku sendiri. Aku teringat mesin hitung tua peninggalan Ayah di bengkel. Ayah selalu berkata bahwa angka tidak pernah berbohong, manusialah yang sering kali memanipulasinya.

Aku mendongak, mencoba mencari sosok Ustaz Rasyid di antara kerumunan nelayan yang mulai berdiri untuk membubarkan diri. Rasyid melangkah mendekat, langkahnya tenang namun tegas. Ia berhenti tepat di depanku. Para nelayan memberi jalan, menghormati ustaz muda yang menjadi tangan kanan Kiai Mahfud itu.

"Sudah selesai?" tanya Rasyid. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang dibawa angin. Ia tidak memandangku, melainkan memandang koin seratus rupiah yang terpisah dari kelompoknya.

"Ada kelebihan seratus rupiah, Ustaz," jawabku jujur, memberanikan diri menatap matanya. "Saya tidak tahu dari mana asal koin ini karena semua daftar setoran sudah sesuai dengan jumlah nelayan yang hadir."

Rasyid tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. Ia membungkuk sedikit, seolah ingin melihat lebih dekat ke arah buku kas yang terbuka lebar. Ia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, ada guratan ketenangan yang aneh di wajahnya, seolah ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi sejak awal rapat dimulai.

"Kau tahu, Haris," ucap Rasyid sambil membetulkan letak kopiahnya. "Di pesantren ini, kami tidak hanya belajar tentang tata cara shalat atau mengaji. Kami juga belajar tentang ketelitian dalam menjaga amanah. Koperasi ini adalah tempat pertama di mana integritas seseorang diuji. Bukan melalui ujian lisan, tapi melalui hal-hal kecil seperti ini."

Aku hanya diam, menunggu penjelasan lebih lanjut. Tanganku masih gemetar memegang pensil. Pak Zaenal yang masih duduk di sebelahku tampak bingung, matanya berpindah-pindah antara aku dan Rasyid.

"Jika kau mencatat kelebihan itu, kau menunjukkan bahwa kau orang yang jujur," lanjut Rasyid. Ia kemudian berbalik, melangkah pergi menuju masjid, meninggalkan kami yang masih tertegun di bawah pohon asam. "Namun, jika kau tidak menyadarinya, maka kau tidak pantas memegang kunci laci koperasi ini."

Aku tertegun. Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan menuntut. Aku kembali menatap koin seratus rupiah di depanku. Sejenak, pikiranku melayang ke masa lalu, ke saat Ayah mengajarkanku cara menyolder komponen radio. Ayah pernah bilang bahwa setiap komponen memiliki tempatnya, dan jika ada satu baut yang tersisa setelah radio dirakit, berarti ada kesalahan dalam proses perakitan.

Aku menarik napas panjang, lalu mulai menuliskan catatan tambahan di kolom keterangan buku kas. Aku mencatat bahwa terdapat kelebihan dana dan menyebutkan bahwa asal-usulnya belum teridentifikasi. Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Di balik lipatan kertas catatan yang sempat aku taruh di dasar laci, aku menemukan secarik kertas kecil yang terselip di sana. Kertas itu tidak ada sebelumnya. Aku membukanya dengan tangan yang sedikit berkeringat.

Di atas kertas itu, tertulis sebuah kalimat singkat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas: "Diterima seratus rupiah untuk menguji apakah kau mencatat kelebihan." Aku menatap Rasyid yang semakin menjauh di kejauhan, dan aku baru menyadari bahwa selama ini, aku bukan hanya sedang menghitung uang, tapi sedang dihitung oleh mereka.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.