Bab 4 Gratis Novel Religi & Keluarga

Kuitansi di Laci Koperasi

Kelompok Ikan Asin

5 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 4

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Kuitansi di Laci Koperasi

Bab 4

Gratis

Bau amis ikan tongkol yang baru dijemur meresap hingga ke serat kayu dinding rumah Mbok Rukayah. Aku duduk bersila di atas tikar pandan, menyortir lembaran nota dagang yang berantakan, sementara suara riuh ibu-ibu kelompok ikan asin di halaman depan sesekali terdengar menembus sela-sela jendela. Di sudut ruangan, Nyai Maryam duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang terampil membolak-balik buku besar bersampul kulit kusam. Sebuah kunci perak kecil menggantung di leher beliau, beradu pelan dengan liontin kecil setiap kali Nyai bergerak.

Aku menggeser buku dagang milik ayah yang kubawa dari dermaga, mencoba membandingkan angka-angka di dalamnya dengan catatan milik pesantren. "Nyai, apakah setiap kayu jati yang masuk ke pulau ini harus dicatat dengan kode berbeda dari garam?" tanyaku pelan, menatap kolom-kolom yang sengaja kubiarkan kosong di bagian bawah.

Nyai Maryam tidak langsung menjawab. Beliau meletakkan pena bulu di atas meja, lalu menatapku dengan sorot mata yang teduh namun penuh selidik. "Setiap barang punya jalannya sendiri, Salma. Orang yang jujur mencatat apa yang ada, bukan apa yang ingin dilihat orang lain," ucap beliau tenang. Beliau menarik sebuah bundel kertas tua dari balik tumpukan buku, lalu membukanya di hadapanku.

Itu adalah lembaran kuitansi dengan kop surat yayasan yang sudah menguning. Aku memperhatikan cap stempel yang masih terlihat tegas di bagian bawah. Namun, saat kulihat angka nominalnya, aku tertegun. Jumlahnya besar, tertulis sebagai hibah untuk pembangunan atap asrama, tetapi di sudut bawah, terdapat catatan kecil dengan tinta berbeda yang menyatakan dana tersebut tidak pernah dicairkan hingga tahun ketiga.

"Ini kuitansi bantuan dari jalur Wibawa, bukan?" tanyaku, merasakan dingin menjalar di ujung jariku. "Mengapa dana sebesar ini dibiarkan mengendap di buku, padahal atap asrama saat itu sedang rusak parah?"

Nyai Maryam tidak menjawab pertanyaanku secara langsung. Beliau hanya mengelus permukaan kertas itu, seolah sedang menyentuh luka lama yang belum sepenuhnya menutup. Beliau kemudian menutup buku besar itu dengan bunyi gedebuk pelan yang terasa berat di tengah kesunyian rumah.

"Angka tidak pernah berbohong, Salma. Namun orang yang memberimu kertas selalu menyimpan kertas yang lain," ujar Nyai Maryam. Beliau membetulkan posisi duduknya, menatap lurus ke arah pintu depan yang sedikit terbuka. Di luar sana, suara deru ombak terdengar lebih kencang, seolah mengingatkan bahwa di pulau ini, kebenaran sering kali disembunyikan di balik laci-laci yang terkunci rapat oleh mereka yang merasa memiliki segalanya.

Aku menatap tangan Nyai Maryam yang kini terlipat di atas meja. Beliau tidak lagi menatap kuitansi itu, melainkan mengunci pandangan padaku. Ada beban yang tersirat dari cara beliau menahan napas. Aku tahu, sebagai putri dari pedagang jati, aku terbiasa melihat transaksi sebagai angka yang harus bertemu di ujung neraca. Namun di rumah ini, di tengah pulau yang hanya dihubungkan oleh kapal kayu, angka adalah nyawa. Jika kuitansi ini hibah, mengapa harus ada catatan bahwa dana tidak dicairkan? Jika dana tidak dicairkan, ke mana perginya uang untuk perbaikan atap yang runtuh tahun lalu?

"Nyai, bukankah Kiai Mahfud yang menandatangani ini?" tanyaku pelan, hampir berupa bisikan agar tidak terdengar oleh siapa pun di luar sana.

Nyai Maryam sedikit memiringkan kepala, wajahnya tampak lelah. "Suamiku adalah orang yang percaya bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Namun, dia lupa bahwa ada orang-orang yang menganggap kejujuran hanyalah hambatan dalam perdagangan."

Beliau berdiri, meraih kunci perak di lehernya, lalu membukanya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bukan pintu lemari yang beliau buka, melainkan kotak kayu kecil di bawah meja kayu jati yang berat. Di dalamnya, tersimpan tumpukan kuitansi serupa, namun dengan angka yang berbeda. Aku mendekat, mataku membelalak melihat total nominal yang tertulis di sana. Semuanya menggunakan kop surat yang sama, namun dengan tanda tangan yang terasa asing. Aku mengenali gaya tulisan tangan itu. Itu bukan tanda tangan Kiai Mahfud. Itu adalah salinan yang meniru tanda tangan Haris dengan sangat presisi.

"Ini kuitansi pinjaman," bisikku, tanganku gemetar saat menyentuh kertas yang terasa rapuh itu. "Mengapa ada dua jenis kuitansi untuk satu bantuan yang sama? Dan mengapa tanda tangan Haris ada di sini? Dia baru saja datang ke pulau ini. Dia bahkan tidak punya wewenang untuk menandatangani dokumen pinjaman atas nama koperasi."

Nyai Maryam menatap jendela, tempat suara tawa ibu-ibu kelompok ikan asin masih terdengar. "Seseorang ingin memastikan bahwa jika koperasi gagal, tanah ini akan berpindah tangan. Mereka membutuhkan kambing hitam yang tidak punya akar di sini. Haris adalah orang asing, Salma. Bagi mereka, orang asing adalah aset yang mudah dibuang."

Aku merasakan tenggorokanku tercekat. Kakakku, Mas Dirman, adalah bagian dari jalur perdagangan ini. Dia yang membawa Haris, dia yang menjemputnya, dan dia yang kini bersorak ketika tahu Haris sedang dijebak. Aku teringat pada wajah Haris yang kulihat di dermaga kemarin. Wajah pemuda itu tampak begitu polos, terlalu percaya pada angka-angka di buku kasnya sendiri. Dia tidak tahu bahwa di belakang punggungnya, orang-orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung justru sedang menanam ranjau di bawah kakinya.

"Apakah Haris tahu tentang ini?" tanyaku, berharap pemuda itu memiliki pelindung lain.

Nyai Maryam menggeleng pelan. "Dia terlalu sibuk memperbaiki radio dan menghitung koin-koin nelayan. Dia pikir kejujuran adalah benteng yang cukup kuat. Namun, benteng tanpa tembok tetaplah sasaran empuk."

Aku memandang kembali ke arah kuitansi-kuitansi itu. Jika aku membawa kertas ini ke rapat desa, Mas Dirman akan tamat. Namun, reputasi pesantren juga akan hancur karena Kiai Mahfud dianggap terlibat atau setidaknya lalai. Aku terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama berisiko. Nyai Maryam seolah membaca pikiranku. Beliau menyentuh pundakku, memberikan kekuatan yang tidak pernah kudapatkan dari ayahku sendiri.

"Jangan bertindak sendirian, Salma. Angka-angka itu bicara, tapi mereka tidak bisa membela diri sendiri," ujar Nyai Maryam.

Beliau kemudian mengumpulkan lembaran-lembaran kuitansi palsu itu, memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu, dan menguncinya dengan rapat. Suara denting kunci perak yang kembali beradu dengan liontin di lehernya terdengar seperti lonceng peringatan di telingaku. Aku masih terduduk diam, mencoba mencerna kebenaran yang baru saja terbuka. Di luar, langit mulai berubah warna menjadi jingga, menandakan waktu asar akan segera berakhir.

"Haris adalah orang yang baik, Nyai. Dia tidak pantas menanggung beban hutang yang tidak pernah dia ambil," kataku dengan nada yang lebih tegas.

Nyai Maryam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan kesedihan mendalam. "Kebaikan sering kali menjadi beban jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan. Kamu punya bakat untuk melihat apa yang tersembunyi di balik angka-angka, Salma. Gunakan itu untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan, bukan untuk menghakimi."

Aku mengangguk, meski keraguan masih menyelimuti benakku. Aku tahu apa yang harus kulakukan, namun aku takut akan konsekuensinya bagi keluargaku. Mas Dirman mungkin telah berkhianat, namun dia tetap kakakku. Aku harus menemukan cara untuk membongkar rencana Wibawa tanpa harus menghancurkan rumah yang aku sendiri tempati.

Nyai Maryam berjalan menuju meja, beliau membalikkan buku besar yang tadi kami pelajari. Beliau menatapku sekali lagi, tatapan yang membuatku merasa telanjang di depan kebenaran yang begitu gamblang.

Nyai Maryam menutup buku itu dan berkata, "Orang yang memberimu kertas selalu menyimpan kertas yang lain."

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.