Kuitansi di Laci Koperasi
Bab 5
Bau hangus kabel tua menyambutku saat aku membuka peti radio milik Kiai Mahfud. Di bengkel darurat yang kini menempati bekas gubuk garam, udara terasa sesak oleh aroma kapur dan amis laut. Aku menyalakan solder, menunggu ujungnya memerah, lalu mulai menelusuri jalur sirkuit yang terbakar sejak peristiwa kebakaran tahun lalu. Di luar, suara deburan ombak Karang Asta menghantam dermaga, beradu dengan riuh suara nelayan yang kini mulai berdatangan ke gubuk ini.
"Haris, mesin tempelku mogok lagi setelah terkena air pasang semalam," ujar Pak Kasmadi sambil meletakkan mesin berat di atas meja kayu yang beralaskan kain karung. Wajahnya tampak lelah, dengan butiran pasir menempel di sela-sela kulit lengannya yang kasar.
Aku tidak langsung menjawab. Aku menatap kabel tembaga yang putus di dalam radio Kiai. "Saya akan cek mesinnya setelah radio ini berbunyi lagi, Pak Kasmadi. Tolong tunggu di depan," kataku pelan. Tanganku bergerak dengan ritme yang sudah dihafal sejak ayah masih hidup. Solder menyentuh timah, asap putih tipis membubung, dan radio tua itu tiba-tiba mengeluarkan suara desis statis yang disusul oleh denting nada siaran radio kabupaten.
Kadir masuk ke dalam gubuk, membawa gembok kuningan besar yang baru saja ia selesaikan di bengkel las. "Kunci ini sudah kukikir agar pas dengan lubang di pintu gubuk, Haris. Kalau kau tidak di sini, jangan biarkan orang asing masuk sembarangan," ucap Kadir sambil menyerahkan kunci itu ke tanganku.
Aku mengangguk, menerima gembok dingin itu dengan perasaan asing. "Terima kasih, Kadir. Ini akan membuat peralatan nelayan lebih aman di sini."
Tak lama kemudian, Ustaz Rasyid muncul di ambang pintu. Ia menatap deretan radio dan mesin yang menumpuk di pojok gubuk. Tanpa berkata banyak, ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah ditulis rapi dengan daftar tarif jasa perbaikan yang tadi pagi kami diskusikan. Ia menempelkan kertas itu tepat di dinding kayu yang sudah dicat putih.
"Ini daftar yang kau buat?" tanya Rasyid sambil memandangi angka-angka yang kutulis dengan tinta hitam.
"Benar, Ustaz. Agar nelayan tahu berapa biaya yang harus mereka keluarkan untuk sparepart dan jasa," jawabku.
Rasyid terdiam sejenak, menatap angka-angka itu dengan pandangan yang sulit kutebak. Ia mengeluarkan pena dari saku bajunya, lalu dengan gerakan tenang namun pasti, ia menuliskan satu baris tambahan tepat di bawah daftar tarifku. Tulisannya kecil, namun cukup jelas untuk dibaca oleh siapa pun yang berdiri di depan meja itu.
"Gratis untuk yang tidak bisa bayar," gumam Rasyid membacakan tulisannya sendiri. Ia menepuk pundakku sekali, kemudian berbalik pergi meninggalkan gubuk yang mulai dipenuhi antrean nelayan. Aku menatap baris kalimat itu, menyadari bahwa di pulau ini, kejujuran angka terkadang harus bersinggungan dengan sesuatu yang tidak bisa dihitung.
Aku terpaku menatap baris tulisan tangan Rasyid yang baru saja mengering di atas kertas. Tinta biru itu terlihat mencolok dibandingkan angka-angka tarif yang kutulis dengan presisi tinggi. Kalimat itu terasa seperti beban tambahan yang harus kupikul, sebuah janji yang tidak pernah kusepakati secara tertulis dalam buku kas manapun. Sementara itu, antrean nelayan di luar semakin memanjang. Mereka tidak lagi membawa radio mati, tetapi juga peralatan rumah tangga berbahan logam yang mulai berkarat oleh garam.
"Haris, apa benar tulisan itu?" tanya seorang nelayan tua yang sedari tadi menyandarkan punggungnya di kusen pintu. Ia menunjuk tulisan Rasyid dengan jari yang gemetar. "Apakah kami benar-benar tidak perlu membayar jika tangkapan ikan minggu ini tidak cukup untuk membeli beras?"
Aku menarik napas panjang, mencoba mengalihkan perhatian dari mesin radio Kiai yang sudah kembali menyala. "Kalian dengar apa yang ditulis Ustaz Rasyid. Jika memang tidak ada, simpan uang kalian untuk keluarga di rumah. Koperasi ini ada untuk meringankan beban kalian, bukan untuk membebani," jawabku meski hatiku merasa tidak tenang. Aku belum menghitung bagaimana biaya suku cadang yang terpakai akan diganti jika banyak yang memilih opsi gratis tersebut.
Kadir masih berdiri di sudut gubuk, memperhatikan gerak-gerikku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melangkah mendekat, lalu menarik tuas gembok kuningan yang baru ia pasang di pintu. "Jangan terlalu memikirkan itu, Haris. Kalau kau terlalu kaku dengan angka, kau akan mati sebelum tua di pulau ini. Kiai Mahfud tahu apa yang ia lakukan ketika menempatkan kalimat itu di sana," ujar Kadir. Ia kemudian berpamitan dengan langkah berat, meninggalkan gubuk yang kini terasa lebih sempit oleh tumpukan barang yang menunggu perbaikan.
Aku mulai bekerja kembali. Tanganku lincah mencongkel baut mesin tempel milik Pak Kasmadi. Setiap baut yang terlepas, setiap kabel yang kusambungkan kembali, aku catat di buku kecil yang kubawa. Aku tidak ingin ada satu pun sekrup yang luput dari perhitungan. Meski Rasyid memberikan pengecualian, aku tetap harus tahu berapa biaya riil yang sebenarnya hilang dari kas koperasi. Aku tidak ingin kejujuranku sebagai bendahara diragukan hanya karena aku memberikan pelayanan yang tidak terhitung.
Sore beranjak senja saat matahari mulai tenggelam di balik cakrawala Karang Asta. Cahaya oranye masuk melalui celah dinding gubuk, menyinari tumpukan kertas kuitansi yang berserakan di meja. Aku teringat kuitansi bantuan Sastro yang tersimpan di dalam laci. Kertas itu terasa seperti bom waktu yang tersembunyi di balik tumpukan catatan bengkel. Aku bangkit, berjalan menuju laci kayu yang sudah kupasang gembok milik Kadir, dan memastikan semuanya terkunci dengan rapat.
Di luar sana, suara azan Maghrib mulai berkumandang dari masjid pesantren. Suaranya memantul di permukaan laut, menciptakan suasana yang teduh sekaligus mencekam. Aku mematikan lampu minyak di atas meja kerja, membiarkan gubuk itu jatuh dalam kegelapan. Aku sempat melirik sekali lagi ke arah dinding tempat daftar tarif ditempel. Tulisan Rasyid yang mengatakan gratis untuk yang tidak mampu itu tampak bersinar diterpa cahaya bulan yang masuk lewat celah atap. Aku tahu, baris itu adalah bentuk kemanusiaan yang paling murni, namun aku juga tahu bahwa di pulau ini, kemanusiaan sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar.
Aku keluar dari gubuk, mengunci pintu dengan rapat, dan memasukkan kunci gembok itu ke dalam saku celanaku. Aku berjalan menuju asrama pesantren dengan langkah yang terasa berat. Sepanjang jalan, aku memikirkan apakah aku sanggup menjaga gubuk ini tetap menjadi bengkel yang jujur sementara di luar sana, orang-orang seperti Sastro Wibawa sedang menghitung kerugian yang akan mereka klaim atas nama koperasi. Rasyid mungkin berniat baik, tapi ia tidak tahu bahwa setiap baris tulisan yang ia tambahkan akan menjadi sasaran bagi mereka yang ingin memanipulasi angka.
Sesampainya di asrama, aku duduk di pojok kamar, menatap buku besar yang berisi catatan keuangan koperasi. Aku mencoba menyelaraskan angka-angka yang kucatat hari ini dengan jumlah uang yang sebenarnya masuk ke laci koperasi. Ternyata benar, beberapa nelayan memilih untuk tidak membayar sesuai tarif, namun mereka jujur mengakui bahwa mereka akan membayarnya setelah musim tangkapan membaik. Aku mencatat setiap janji itu sebagai piutang. Aku tidak membiarkan satu pun angka terlewat, karena aku tahu bahwa hanya dengan ketelitian inilah aku bisa bertahan hidup di tempat yang asing ini.
Namun, bayang-bayang kuitansi pinjaman yang dipalsukan itu terus menghantuiku. Aku bertanya-tanya apakah suatu hari nanti, baris tulisan tangan Rasyid yang menjanjikan bantuan gratis itu akan disalahkan sebagai penyebab defisit koperasi. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku ingin membuktikan bahwa koperasi bisa berdiri tegak tanpa harus meminjam uang dari orang-orang seperti Sastro Wibawa. Aku ingin menunjukkan bahwa ketelitian seorang tukang servis radio bisa menyelamatkan pesantren dari kebangkrutan.
Aku memejamkan mata, mencoba membayangkan masa depan di pulau ini. Aku tidak tahu apakah aku akan menetap selamanya atau hanya sekadar singgah sebelum badai berikutnya datang. Yang aku tahu pasti, selama kunci gubuk ada di tanganku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga setiap angka yang tercatat tetap murni. Namun, aku tidak bisa menepis perasaan bahwa Rasyid menuliskan kalimat itu bukan sekadar sebagai anjuran, melainkan sebagai tanda bahwa ia sudah mengetahui arah angin yang akan bertiup. Kalimat itu adalah baris yang kelak dicoret orang.



