Kuitansi di Laci Koperasi
Bab 6
Bau solar dan sisa solder yang terbakar menyambutku saat melangkah masuk ke gubuk kayu yang disulap menjadi bengkel itu. Haris duduk membelakangi pintu, bahunya yang tegap tampak kaku di balik kemeja yang mulai lusuh di bagian siku. Di depannya, mesin hitung peninggalan ayahnya yang berbahan besi berat tampak mencolok di tengah tumpukan kabel dan komponen radio yang berserakan. Aku mengetuk kusen pintu kayu yang kasar, membiarkan suaranya bergema di ruangan sempit itu sebelum dia menoleh.
"Salma? Ada apa?" tanyanya pelan. Dia meletakkan obeng di meja, tangannya yang penuh noda hitam tampak kontras dengan kertas putih yang terhampar di depannya.
Aku tidak langsung menjawab. Mataku tertuju pada buku kas yang terbuka lebar di samping mesin hitung itu. "Aku butuh penjelasan soal kiriman kayu jati dari dermaga kemarin," kataku sambil melangkah masuk, membiarkan debu lantai kayu berdesir di bawah kakiku. "Mas Dirman mencatat di buku dagang kalau dia mengirim dua puluh batang kayu kualitas utama untuk pesanan koperasi. Tapi di buku catatanmu, angka yang muncul setara dengan jumlah itu. Padahal di dermaga, aku hanya melihat sepuluh batang yang diturunkan."
Haris mengernyit. Dia menarik buku kas itu mendekat, jarinya menelusuri deretan angka yang dia tulis dengan tinta hitam yang rapi. Dia terdiam sejenak, wajahnya yang muda tampak menua saat dia membandingkan catatannya dengan informasi yang kubawa. Tidak ada keraguan di sana, hanya keterkejutan yang tertahan.
"Mas Dirman bilang semua kayu sudah sampai ke gudang belakang pesantren," jawab Haris dengan suara yang lebih rendah. Dia menatapku, matanya mencari kepastian di wajahku. "Jika memang yang datang hanya sepuluh, berarti ada selisih besar dalam catatan pembukuan yang aku terima. Siapa yang memberikan laporan itu padamu?"
"Buku dagangku tidak pernah berbohong soal jumlah, Haris. Mas Dirman mungkin kakakku, tapi dia berdagang dengan cara yang tidak aku pahami," sahutku ketus. Aku menunjuk angka-angka di bukunya. "Kau mencatat harga penuh untuk barang yang tidak pernah sampai. Apa kau tidak memeriksa gudang sendiri sebelum membubuhkan tanda tangan?"
Haris berdiri, dia tampak gelisah. "Aku percaya pada laporan Rasyid yang diteruskan dari gudang. Tapi jika kau benar, berarti seseorang sedang bermain di belakang kita."
Dia segera menyambar kunci bengkel di dinding, tidak menungguku bicara lagi. Langkah kakinya berat menuju pintu. Aku mengikuti tepat di belakangnya, merasakan hawa laut yang mulai mendingin saat kami bergegas menuju dermaga. Langit mulai meredup, menyisakan garis jingga yang samar di ufuk barat.
Kami berjalan menembus angin pesisir yang membawa aroma amis ikan dan sisa pembakaran sampah. Langkah Haris lebar dan cepat. Aku harus sedikit berlari kecil untuk mengimbangi derap sepatunya di atas jalan setapak yang berlumpur. Dia tidak menoleh, matanya terpaku ke arah dermaga di mana perahu milik Mas Dirman baru saja ditambatkan. Kapal kayu berukuran sedang itu bergoyang pelan, dipukul ombak yang mulai pasang. Di atas dek, Mas Dirman sedang mengawasi dua anak buahnya yang sibuk mengikat tali tambang. Dia tampak tenang, seolah tidak ada beban di pundaknya. Saat dia menyadari kehadiran kami, senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang selalu dia pasang setiap kali dia merasa memiliki posisi tawar yang lebih tinggi.
"Haris, Salma. Ada urusan apa kalian datang kemari menjelang maghrib?" sapa Mas Dirman sambil melompat turun dari dek. Dia mengelap tangannya yang kotor ke celana kain yang ia kenakan. Tatapannya beralih padaku, lalu pada Haris, dengan sorot mata yang sulit dibaca.
Haris tidak membalas sapaan itu dengan ramah. Dia langsung berhenti tepat di depan Mas Dirman. Napasnya masih memburu, namun suaranya terkendali. "Mas Dirman, aku baru saja memeriksa kembali catatan pengiriman kayu jati untuk koperasi. Ada ketidaksesuaian antara dokumen yang aku terima dengan apa yang sampai di gudang. Sepuluh batang kayu hilang dari daftar kiriman yang dibayar penuh oleh koperasi."
Mas Dirman tertawa kecil, suara yang terdengar sumbang di tengah deburan ombak. "Ah, soal itu. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi laut akhir-akhir ini, Haris. Kadang muatan harus dikurangi di tengah jalan karena cuaca buruk atau pertimbangan keamanan kapal. Apakah itu masalah besar? Bukankah koperasi masih punya cukup dana untuk menutupi selisih itu?"
Aku maju selangkah, rasa sesak di dada membuat suaraku sedikit bergetar. "Itu bukan masalah besar jika kau jujur dari awal, Mas. Tapi kau mencatat semuanya lengkap di buku dagang yang kau serahkan padaku, sementara Haris dipaksa membukukan pembayaran penuh. Kau membuat Haris terlihat tidak becus di mata Kiai dan pengurus lainnya."
Mas Dirman berhenti tertawa. Dia menatapku tajam, lalu beralih kembali ke arah Haris dengan tatapan yang meremehkan. "Salma, kau masih terlalu muda untuk mengerti bagaimana roda bisnis berputar di sini. Aku tidak memanipulasi apa pun. Selisih itu adalah biaya tambahan untuk kelancaran transportasi di jalur ini. Sastro Wibawa sendiri yang memintaku memastikan koperasi mendapatkan barangnya, meskipun harus dengan sedikit penyesuaian."
Haris mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak peduli siapa yang memintamu. Aku yang bertanggung jawab atas setiap koin yang keluar dari kas koperasi. Jika kayu itu tidak ada, maka uangnya harus kembali ke kas sekarang juga. Aku tidak akan membiarkan pesantren menanggung beban dari kesepakatan gelap yang tidak pernah aku setujui."
Mas Dirman terdiam sejenak. Dia menatap Haris dengan pandangan yang perlahan berubah, dari meremehkan menjadi sesuatu yang lebih dingin dan penuh perhitungan. Dia kemudian merogoh saku dalam jaketnya, mengeluarkan bungkusan kertas cokelat yang tebal. Tanpa bicara, dia melemparkan bungkusan itu ke dada Haris. Haris menangkapnya dengan tangkas.
"Itu selisih uangnya. Ambillah," ujar Mas Dirman dengan nada dingin yang menusuk. "Tapi ingat, Haris, uang ini tidak membuatmu bersih. Kau sudah terlanjur menandatangani kuitansi pengiriman yang mencantumkan jumlah penuh. Sekarang, kau sendiri yang memegang selisihnya. Jika suatu saat nanti ada audit, kau tidak bisa lagi berdalih bahwa kau tidak tahu ke mana uang itu mengalir. Uang itu sekarang ada di tanganmu, dan secara hukum, itu adalah barang bukti yang paling nyata."
Aku tertegun. Haris membuka bungkusan itu sedikit, melihat lembaran uang di dalamnya. Wajahnya pucat pasi. Dia baru saja dijebak lebih dalam lagi. Jika dia menerima uang itu, dia mengaku bersalah atas manipulasi. Jika dia menolaknya, dia tidak bisa mengembalikan uang koperasi yang sudah terlanjur hilang dari pembukuan. Mas Dirman telah menutup semua pintu keluar.
"Kenapa kau lakukan ini, Mas?" tanyaku dengan suara hampir berbisik. Aku merasa dunia di sekelilingku runtuh. Kakakku sendiri adalah arsitek dari kehancuran masa depan pemuda yang selama ini berusaha menjaga kejujurannya di pulau ini.
Mas Dirman tidak menjawab pertanyaanku. Dia justru menatap Haris dengan tatapan yang menyiratkan rasa kasihan yang palsu. Dia menepuk bahu Haris dengan keras, sebuah tindakan yang terasa seperti penghinaan bagi kami berdua.
"Adikku menghitung terlalu rapi," kata Mas Dirman kepada Haris sambil menatapku sekilas sebelum kembali menatap mata Haris. "Kau juga. Kalian berdua terlalu sibuk dengan angka-angka di kertas sampai lupa bahwa di pulau ini, kebenaran adalah barang mewah yang tidak mampu dibeli oleh orang jujur seperti kalian. Kalian pikir bisa mengubah keadaan dengan ketelitian? Kalian justru membuat diri kalian sendiri terlihat mencurigakan. Orang seperti kalian yang pertama dicari kalau ada yang hilang."



