Kuitansi di Laci Koperasi
Bab 7
Debu tipis beterbangan di udara saat perahu kayu besar merapat ke dermaga. Dari atas geladak, Raden Sastro Wibawa melangkah turun dengan langkah tenang, diikuti Syamsul Arifin yang menjinjing tas kulit, dan seorang anak lelaki kurus yang tampak asing dengan seragam bersihnya. Aku berdiri di depan gubuk koperasi, membersihkan tangan dari sisa oli mesin radio dengan lap kotor. Kiai Mahfud sudah menyambut mereka di tepi dermaga, wajahnya teduh namun menyimpan guratan yang tidak bisa kusembunyikan di balik buku kas.
"Koperasi kita butuh napas lebih panjang, Kiai," ujar Sastro setelah bersalaman, suaranya mantap seolah sedang membacakan keputusan pengadilan. Ia tidak menunggu jawaban, melainkan memberi isyarat kepada Syamsul untuk mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tasnya. "Ini bantuan awal untuk atap asrama yang roboh. Tanpa syarat, murni untuk santri."
Aku memperhatikan jemari Sastro yang menyentuh pinggiran amplop itu. Ia tidak memberikannya langsung kepada Kiai, melainkan menoleh ke arahku. Matanya menatap tajam, seolah sedang menimbang berapa banyak lagi angka yang bisa kumasukkan ke dalam buku besar koperasi tanpa membuat kecurigaan muncul. Di sampingnya, anak lelaki bernama Satrio itu hanya menunduk, memegang erat tali ranselnya. Ia terlihat lebih tertarik pada mesin bubut di sudut gubuk daripada pada bincang-bincang orang dewasa.
"Haris, sebagai pengurus, silakan tanda tangani ini," pinta Sastro sambil menyodorkan selembar kertas kuitansi yang sudah disiapkan di atas map kulit. "Ini hanya prosedur agar catatan yayasan tetap rapi. Kita tidak ingin uang yang datang dengan niat baik justru hilang tanpa jejak, bukan?"
Kiai Mahfud diam sejenak. Aku bisa melihat otot rahangnya mengetat. Beliau bukan orang yang mudah menerima pemberian dari orang yang baru kemarin menanyakan batas tanah tanjung. Kiai memandang ke arah anak kurus di belakang Sastro, lalu menarik napas panjang.
"Uang itu, simpanlah dulu, Raden," suara Kiai pelan namun tegas. "Tetapi, kalau niat Anda memang untuk membantu pendidikan di sini, biarkan anak ini tinggal di pesantren sebagai santri. Ia akan belajar dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang kita beli."
Sastro tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak menyentuh matanya. Ia melirik Syamsul yang segera menarik kembali map kuitansi tersebut. Saat Syamsul memasukkan kertas itu ke dalam map, mataku tertangkap pada tumpukan kertas lain di dalamnya. Di sana, di balik kertas yang batal kutandatangani, terdapat lembaran lain yang sudah terisi tulisan tangan rapi dengan nama Kiai Mahfud di bagian bawahnya. Tulisan itu tampak familiar, dan napasku tercekat saat menyadari bahwa itu adalah kuitansi yang berbeda bunyi dari yang baru saja mereka tawarkan.
Aku terpaku di depan gubuk, tanganku yang masih kotor oleh sisa oli terasa dingin. Bayangan kertas yang tersembunyi di balik map Syamsul itu terus menari di pikiranku. Itu bukan sekadar kuitansi kosong. Itu adalah bukti bahwa Kiai Mahfud telah terikat dalam urusan yang tidak pernah beliau ceritakan padaku. Sastro Wibawa berbalik, menepuk bahu anak lelaki kurus di sampingnya dengan gerakan yang terasa sangat mekanis. Satrio tidak menoleh pada bapaknya. Matanya justru tertuju pada meja servis radio yang kubangun dengan susah payah di sudut gubuk.
"Dia butuh tempat untuk belajar, Kiai," kata Sastro sambil menoleh ke arah gubuk dengan tatapan yang sulit diartikan. "Biarkan dia mengenal kerja keras di tempat yang tepat. Saya rasa, tidak ada guru yang lebih baik daripada seseorang yang terbiasa menghitung setiap butir garam dan setiap putaran mesin radio, bukan begitu, Haris?"
Aku mengangguk kaku. Sastro tertawa kecil, suara yang terdengar sumbang di tengah desau angin laut yang membawa bau amis pesisir. Syamsul tidak berkata apa-apa. Ia menutup map kulitnya dengan tenang, seolah tidak menyadari bahwa mataku masih terpaku pada sudut kertas yang mengintip dari balik celah map. Kiai Mahfud maju satu langkah, menatap Satrio dengan pandangan teduh, lalu mengulurkan tangannya. Satrio menyambut tangan itu dengan ragu, namun ada binar penasaran di matanya yang kurus.
"Selamat datang di Darul Hikmah, Nak," ucap Kiai Mahfud pelan. "Di sini kita belajar bahwa ilmu tidak hanya tumbuh di atas kertas, tetapi juga di atas keringat dan kejujuran."
Sastro menunduk sedikit, memberi hormat yang terasa seperti sebuah sandiwara yang sudah ia latih berkali-kali. Tanpa perlu banyak kata lagi, ia berbalik menuju dermaga. Syamsul mengekor di belakangnya, langkahnya ringan namun tegas. Aku masih berdiri di tempat yang sama saat mereka menjauh. Angin sore bertiup lebih kencang, membawa debu pasir yang mengaburkan pandangan ke arah perahu yang mulai melepas tambatannya. Pikiranku berpacu, mencoba menghubungkan titik-titik yang baru saja kulihat. Mengapa Kiai sudah menandatangani kertas itu? Mengapa Sastro begitu gigih meletakkan anaknya di sini, tepat di bawah pengawasanku dan di bawah jangkauan alat-alat bengkelku?
Satrio melepaskan ranselnya, lalu berdiri diam di sampingku. Anak itu tampak kikuk, namun ada sesuatu dalam cara ia memandang mesin radio yang rusak di meja kerjaku. Ia tidak tampak seperti anak orang kaya yang dipaksa ayahnya melakukan sesuatu. Ia lebih terlihat seperti seseorang yang sedang mencari jalan keluar dari sangkar emas.
"Apa yang kau cari di sini, Satrio?" tanyaku pelan, berusaha mengabaikan sesak di dada karena kuitansi yang kulihat tadi.
Satrio menatapku, matanya yang tajam tampak kontras dengan tubuhnya yang ringkih. "Ayah bilang aku harus belajar cara menghitung biaya hidup yang sebenarnya. Tapi menurutku, dia hanya ingin aku tahu kenapa radio-radio di desa ini bisa mati dan kenapa uang di koperasi tidak pernah cukup untuk membangun dermaga beton."
Aku tersentak. Anak ini tahu terlalu banyak, atau mungkin dia hanya pengamat yang terlalu tajam untuk usianya. Aku segera membereskan meja kerjaku, memasukkan kunci pas dan obeng ke dalam kotak kayu. Kiai Mahfud mendekat, menepuk bahuku sekali, sebuah isyarat yang selalu beliau berikan saat beliau merasa aku memikul beban yang terlalu berat.
"Haris, ajaklah dia ke asrama. Rasyid sudah menyiapkan tempat di sana," ujar Kiai Mahfud sebelum beliau berbalik menuju masjid untuk bersiap menyambut waktu maghrib. Beliau tidak menyinggung soal kuitansi, tidak juga soal kedatangan Sastro yang tiba-tiba. Beliau seolah ingin aku berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku mengantar Satrio menuju asrama kayu yang atapnya masih dalam perbaikan. Di sepanjang jalan, anak itu hanya diam, mengamati setiap jengkal pesantren dengan teliti. Ia tidak menanyakan di mana dia harus tidur, atau siapa yang akan menjamin makannya. Ia terus bertanya tentang cara kerjaku di koperasi, tentang bagaimana aku mencatat setiap pengeluaran, dan apakah aku benar-benar percaya bahwa buku kas itu bisa menjaga pulau ini tetap utuh.
"Angka tidak pernah bohong, Satrio," jawabku singkat. "Yang berbohong adalah orang yang memegang pena untuk menulisnya."
Satrio berhenti melangkah, menatapku dengan tatapan yang membuatku merasa sedang dinilai oleh seorang auditor dewasa. "Bagaimana jika pena itu dipaksa bergerak oleh tangan yang lebih kuat? Apakah angka itu masih bisa disebut jujur?"
Aku terdiam. Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada ombak yang menabrak dermaga. Aku menyadari bahwa di balik kesederhanaan pesantren ini, ada jaringan kepentingan yang sudah merayap masuk, bahkan sebelum aku sempat menyadari bahayanya. Sesampainya di asrama, kutinggalkan Satrio dengan Rasyid. Aku kembali ke gubuk koperasi dalam keadaan hari yang sudah hampir gelap. Lampu minyak di dalam gubuk baru saja kunyalakan saat aku melihat map kulit yang tertinggal di atas meja kayu. Syamsul tadi sempat menaruhnya di sana untuk beberapa detik sebelum Sastro memanggilnya kembali ke dermaga. Aku mendekatinya dengan tangan gemetar. Aku tahu seharusnya aku tidak menyentuhnya, namun rasa penasaran itu sudah berubah menjadi ketakutan yang mendalam.
Aku membuka map itu sedikit. Di sana, di antara tumpukan kertas kosong, kulihat kembali kuitansi yang tadi tidak jadi kutandatangani. Namun, tepat di bawahnya, ada sebuah lembaran kuitansi lain yang sudah terisi lengkap. Namanya, tanda tangannya, dan angka yang tercantum di sana membuat darahku serasa berhenti mengalir. Itu bukan kuitansi hibah. Itu adalah surat pengakuan utang dengan jaminan tanah tanjung yang ditandatangani sendiri oleh Kiai Mahfud. Kertas itu tampak kusam, seolah sudah disimpan lama di dalam tas Syamsul, menunggu waktu yang tepat untuk dikeluarkan. Syamsul menyimpan kuitansi yang tidak jadi ditandatangani ke dalam map, dan Haris melihat map itu sudah berisi kuitansi lain dengan nama Kiai.



