Kuitansi di Laci Koperasi
Bab 8
Aroma ikan asin yang dijemur di bawah terik siang ini menusuk hidung, bercampur dengan bau garam laut yang pekat. Aku berdiri di ambang pintu dapur umum, memperhatikan Satrio yang duduk di atas bangku kayu pendek. Anak itu, yang seharusnya sedang berada di ruang tamu kediaman Kiai Mahfud untuk jamuan kehormatan, justru memilih duduk di sini, di antara kepulan asap tungku Mbok Rukayah. Tangannya memegang piring seng berisi nasi jagung dan urap sayur, mengunyah dengan perlahan. Ia tampak asing dengan kemeja bersih yang mulai terkena noda abu, namun wajahnya terlihat lebih tenang daripada saat ia tiba dengan mobil ayahnya kemarin lusa.
"Kau tidak akan kenyang jika hanya makan di sini, Satrio," ucapku pelan, melangkah mendekatinya. Satrio mendongak, menyisakan sedikit senyum di sudut bibirnya yang kering.
"Ayah selalu menyuruhku makan di meja dengan taplak putih, Salma. Tapi di sana, setiap sendok yang kusematkan ke mulut terasa seperti sedang ditimbang oleh Kiai. Di sini, setidaknya aku bisa mendengar suara laut tanpa harus takut ada pertanyaan tentang masa depan," jawabnya dengan suara rendah. Aku tertegun. Kalimat itu bukan sekadar keluhan seorang anak remaja, melainkan pengakuan atas beban yang ia pikul sebagai putra Raden Sastro.
Aku duduk di sampingnya, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara kami selama beberapa detik. "Ibumu pasti lebih suka kau makan dengan lahap, di mana pun kau berada."
Satrio berhenti mengunyah. Matanya menerawang ke arah dermaga, ke arah laut yang tenang namun menyimpan banyak cerita pahit. "Ibu tidak pernah peduli dengan meja. Ia hanya peduli apakah aku sudah tidur dengan nyenyak atau belum. Ayah mengganti semua kenangan tentang Ibu dengan buku besar dan angka-angka yang harus aku salin setiap malam. Sekarang, aku hanya ingin belajar membetulkan radio, Salma. Hanya itu."
Baru saja aku hendak menanggapi, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat dari arah pintu belakang. Zulaikha muncul dengan wajah sedikit kemerahan, napasnya tersengal. Tangannya memegang sebuah buku catatan tipis yang sampulnya sudah lusuh.
"Salma, kau di sini?" tanya Ika dengan nada cemas yang disembunyikan. Ia melirik Satrio sejenak sebelum menatapku lekat. "Aku butuh bantuanmu. Bisakah kau mengajariku membukukan iuran kelas dapur minggu ini? Aku sudah mencoba mencatatnya sendiri, tapi angkanya tidak pernah pas dengan saldo di kas. Aku harus memastikan ini benar supaya bisa membantu Mas Haris. Ia terlihat sangat kelelahan akhir-akhir ini."
Aku memperhatikan buku itu, lalu beralih menatap Ika yang menatapku dengan penuh harap. Ada ketulusan yang murni di sana, sebuah keinginan untuk meringankan beban seseorang yang bahkan belum tentu menyadari perhatiannya. Aku mengambil napas panjang, meresapi aroma kayu jati dan garam yang kini terasa menyesakkan.
Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma kayu jati dan garam yang kini terasa menyesakkan meresap ke dalam paru-paru. Ika berdiri di depanku, jemarinya yang lentik meremas pinggiran buku catatan tipis itu. Ia tidak tahu bahwa angka-angka yang ia catat dengan ketulusan hati sedang menjadi bahan perdebatan di meja para penguasa pulau. Satrio, yang masih duduk di bangku kayu, kini menatap Ika dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kesedihan yang asing di sana, seolah ia melihat dirinya sendiri dalam keinginan orang lain untuk menjadi berguna.
"Kemarilah, Ika," kataku sambil menggeser duduk, memberi ruang di bangku panjang kayu jati yang sudah halus permukaannya. "Bawa buku itu kemari. Kita akan mencocokkannya dengan saldo kas yang sebenarnya. Jangan biarkan angka-angka itu menipu ketelitianmu."
Ika mengangguk cepat, lalu duduk di sampingku. Ia mulai membacakan deretan angka iuran santri dari kelas dapur. Suaranya jernih, namun ada keraguan saat ia sampai pada kolom pengeluaran untuk bahan tambahan yang diminta oleh staf desa. Aku menyimak, jemariku bergerak lincah di atas lembar buku dagangku sendiri. Memang ada selisih di sana. Bukan karena Ika salah berhitung, melainkan karena ada beban biaya tak resmi yang sengaja disisipkan ke dalam akun dapur. Aku melirik Satrio yang masih memperhatikan kami dengan diam.
"Satrio, apa ayahmu selalu memerintahkanmu untuk mencatat hal-hal yang tidak ada dalam daftar belanja?" tanyaku tiba-tiba. Suaraku pelan, namun cukup tajam untuk membuat anak itu tersentak.
Satrio meletakkan piring sengnya. Bunyi denting logam itu terasa nyaring di dapur yang sepi. Ia menatapku, matanya yang jernih tampak beradu dengan tatapanku. "Ayah tidak pernah memintaku mencatat apa yang ada. Ia memintaku menyalin apa yang ia ingin lihat sebagai kenyataan. Salinannya harus sempurna, Salma. Jika salah sedikit saja, aku harus mengulang dari awal dengan tangan yang gemetar karena takut salah memegang solder."
Ika terdiam, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan kami. Ia hanya memandang buku catatannya dengan bingung. "Mengapa harus begitu? Bukankah kejujuran dalam angka adalah kunci agar koperasi tidak ambruk?"
Aku tersenyum getir. "Di pulau ini, Ika, kejujuran adalah komoditas yang paling mahal harganya, namun justru yang paling murah untuk diinjak-injak."
Aku mengambil pulpen, lalu mulai menuliskan catatan perbaikan di halaman kosong buku Ika. Aku tidak memberitahu Ika bahwa angka-angka yang ia catat adalah bukti nyata bagaimana kas koperasi disedot pelan-pelan oleh tangan-tangan yang tidak terlihat. Aku hanya memberikan langkah-langkah untuk menyamarkan jejak agar tidak ada yang bisa menyalahkan Ika atas perbedaan saldo tersebut. Jika aku membantunya memperbaiki pembukuan, setidaknya ia tidak akan terjerat jika suatu saat audit dilakukan.
"Ingat, Ika," kataku sambil menyerahkan kembali buku itu. "Jangan pernah bertanya pada siapa pun tentang selisih ini. Cukup catat apa yang kau lihat di pasar, dan serahkan sisanya pada ketelitianmu sendiri. Jangan bawa Mas Haris ke dalam persoalan angka-angka yang tidak jelas ini."
Ika menatapku, matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk paham, meski aku tahu ia belum sepenuhnya mengerti bahaya yang mengintai. Ia pamit dengan terburu-buru, meninggalkan dapur dengan langkah yang lebih ringan, seolah beban di pundaknya telah berkurang setelah berbagi dengan orang yang ia percayai.
Satrio masih di sana. Ia bangkit, mendekat ke arah meja kayu tempatku bekerja. Ia melirik buku dagangku, tempat aku mencatat setiap keluar-masuk barang dagang kayu jati milik ayahku dan hubungannya dengan kapal-kapal yang dikendalikan oleh keluarga Wibawa.
"Kau berbohong padanya, Salma," ucap Satrio pelan. "Kau tahu ke mana uang itu pergi. Kau tahu bahwa ayahku tidak sedang berdagang. Ia sedang membangun tembok dari angka-angka untuk mengurung pesantren ini."
Aku mengunci buku dagangku, lalu memasukkannya ke dalam tas kulit kecil yang selalu kubawa. "Aku tidak berbohong. Aku hanya melindungi seseorang yang masih memiliki hati yang bersih. Kau sendiri, Satrio, apakah kau akan terus menjadi tangan bagi ayahmu untuk mematikan keinginan orang lain?"
Satrio terdiam. Ia memandang ke arah bengkel Haris yang terletak di ujung gang, tempat radio-radio rusak menumpuk menunggu sentuhan jemari yang jujur. "Aku ingin menjadi seperti Haris. Aku ingin memegang solder untuk menyambung sesuatu yang rusak, bukan untuk membakar fondasi yang sudah berdiri tegak. Tapi aku tidak punya pilihan."
"Setiap orang punya pilihan, Satrio. Hanya saja, terkadang pilihannya adalah sesuatu yang tidak ingin kita tanggung akibatnya," jawabku dingin. Aku berdiri, merapikan pakaian, dan berjalan meninggalkan dapur. Udara malam mulai terasa dingin, membawa aroma laut yang semakin pekat. Angin barat mulai berembus kencang, pertanda bahwa masa berlayar akan segera berakhir.
Sesampainya di kamar, aku menyalakan lampu minyak. Cahaya kuning yang temaram menerangi dinding papan kayu. Aku membuka buku dagangku kembali. Di sana, aku telah membuat tabel kecil tentang jadwal kapal yang akan membawa jati terakhir musim ini. Aku menghitung hari dengan teliti. Jika kapal itu datang lebih cepat dari jadwal, berarti rencana Sastro untuk menguasai tanah tanjung akan segera mencapai puncaknya. Dan jika itu terjadi, aku harus pergi.
Aku menuliskan angka-angka itu di atas kertas buram. Hari pertama, hari kedua, hingga hari di mana aku harus naik ke perahu milik Mas Dirman dan kembali ke Sumberjati. Namun, hatiku merasa berat. Setiap angka yang kutuliskan terasa seperti hitung mundur menuju perpisahan yang tidak kuinginkan. Aku menatap deretan angka itu berulang kali, mencoba mencari kesalahan dalam perhitunganku sendiri. Aku berharap ada satu variabel yang terlewat, satu angka yang salah letak, sehingga waktu keberangkatanku bisa ditunda lebih lama lagi. Namun, setiap kali aku menghitung ulang, hasilnya tetap sama. Malam itu Salma menghitung dari buku dagangnya berapa hari lagi ia di pulau, dan untuk pertama kali ia berharap hasilnya salah.



