Bab 9 Gratis Novel Religi & Keluarga

Kuitansi di Laci Koperasi

Angin Barat Pertama

2 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 9

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Kuitansi di Laci Koperasi

Bab 9

Gratis

Udara laut berbau amis dan tajam, menusuk masuk ke celah jendela bengkel kayu tempatku menghabiskan malam. Angin barat mulai bertiup kencang, mengguncang atap seng yang sudah berkarat. Di luar, laut yang biasanya tenang kini berubah menjadi gundukan ombak kelabu yang memaksa para nelayan melabuhkan perahu mereka jauh lebih awal. Koperasi nelayan yang kubangun atas kepercayaan Kiai Mahfud kini menghadapi ujian pertama. Persediaan beras di gudang menipis, dan banyak keluarga nelayan mulai mengeluhkan jatah yang belum turun.

"Haris, apa kita tidak bisa mengambil sedikit dari kas untuk membeli beras di pasar kota?" tanya Pak Zaenal. Suaranya serak, tangan kirinya yang kaku bergerak gelisah di atas meja kas kayu. Ia menatapku dengan mata yang lelah, menanti jawaban yang tidak menyakiti siapa pun.

Aku menarik napas panjang, menatap deretan angka di buku kas yang kususun rapi. Semuanya harus seimbang, itu sumpahku pada diri sendiri. "Kita tidak punya dana cadangan, Pak. Tapi, bagaimana jika kita meminjamkan simpanan sukarela untuk dibayarkan nanti saat musim ikan kembali? Tanpa bunga, hanya catatan jujur di buku ini."

Pak Zaenal terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan keraguan sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Jika itu jalan agar tidak ada anak yang lapar, aku akan mengaturnya. Asal kau yang bicara pada Kiai agar beliau merestui rapat malam nanti."

Aku mengangguk. Rapat malam itu berlangsung singkat namun berat. Kiai Mahfud hanya duduk diam, membiarkan nelayan memutuskan sendiri nasib mereka. Kepercayaan nelayan pada koperasi perlahan tumbuh, namun ketenangan itu terganggu keesokan harinya. Pak Kasmadi, kepala desa, datang ke bengkel dengan langkah angkuh, sepatu botnya yang berlumpur meninggalkan jejak di lantai bengkelku yang bersih.

"Haris, kau anak muda yang pintar menghitung, tapi kau lupa satu hal," ujar Kasmadi sambil menaruh tangan di atas meja servis radionya. "Nelayan-nelayan itu warga desa. Koperasi ini beroperasi di tanah desa. Sudah seharusnya urusan uang dan pembukuan ada di bawah pengawasan kantor desa, bukan di tangan santri luar pulau."

Aku meletakkan solder yang sedang kugunakan, menatapnya dengan tenang meski detak jantungku mulai terasa di tengkuk. "Koperasi ini adalah amanah pesantren untuk kesejahteraan nelayan, Pak Kasmadi. Aturan sudah disepakati dalam rapat dan dicatat sesuai prosedur yang transparan."

Kasmadi tertawa kecil, suara yang terdengar lebih seperti ejekan. Ia mengeluarkan buku besar dari balik jaketnya. "Transparan atau tidak, aturan tetap aturan. Jika tidak mau di bawah desa, jangan harap ada kemudahan izin saat kau butuh sesuatu dari kecamatan nanti."

Ia membuka buku itu, mencelupkan pulpennya ke tinta, dan menulis sesuatu dengan kasar. Aku hanya diam, menahan diri agar tidak membalas dengan kata-kata yang mungkin akan kusesali kemudian. Ia pergi tanpa berpamitan, meninggalkan gurat nama di kolom yang seharusnya tidak memuat namaku.

Aku tertegun menatap punggung Kasmadi yang menjauh dari ambang pintu bengkel. Angin barat kembali menderu, membawa aroma garam yang lebih kuat, seolah hendak menutupi jejak langkah kaki kepala desa itu. Di atas meja kayu tua peninggalan ayah, buku besar desa itu baru saja menutup sebuah babak bagiku. Aku membalikkan badan, menatap barisan komponen radio yang tersusun rapi di rak. Di antara kabel-kabel tembaga dan kapasitor, aku tidak lagi merasa bengkel ini adalah tempat yang aman untuk berlindung. Kasmadi baru saja mengganti statusku dari seseorang yang diundang menjadi seseorang yang diawasi. Keputusan untuk menolak bukan sekadar keberanian, melainkan sebuah pertaruhan yang mungkin tidak bisa kubayar jika keadaan menjadi lebih buruk.

Sore harinya, hujan turun dengan lebat, menghapus sisa jejak lumpur dari sepatu Kasmadi. Aku berdiri di depan jendela yang berderit menahan angin, memperhatikan pelataran pesantren yang mulai sepi. Rasyid melintas dengan payung hitam, langkahnya tergesa menuju rumah Kiai. Aku tahu, apa yang terjadi di bengkel hari ini tidak akan lama tersimpan sebagai rahasia. Kasmadi bukan tipe orang yang menyimpan ketidaksukaan sendirian di dalam saku jaketnya. Jika ia sudah melabeliku sebagai pendatang, maka setiap hitungan kas yang aku buat di koperasi akan dipandang sebagai ancaman, bukan lagi sebagai pengabdian.

"Haris, apa kau sudah mendengar kabar dari dermaga?" suara Pak Zaenal memecah lamunanku. Ia berdiri di balik pintu bengkel, pakaiannya basah kuyup meski telah memakai pelindung plastik. Napasnya memburu, seolah ia baru saja berlari dari ujung desa. Ia tidak menunggu jawabanku, melainkan langsung masuk dan duduk di kursi kayu yang biasa ia tempati untuk memeriksa catatan koperasi.

"Kasmadi baru saja dari sini, Pak," jawabku pelan. Aku mematikan lampu meja agar cahaya tidak terlalu mencolok dari luar. "Dia menginginkan koperasi ditarik ke bawah kendali desa. Aku menolaknya dengan cara yang paling sopan yang bisa kupikirkan, tapi kurasa dia tidak menghargai kesopanan itu."

Pak Zaenal memijat keningnya yang berkerut. "Dia tidak akan berhenti di sini, Haris. Orang seperti Kasmadi melihat tanah dan uang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dia merasa jika koperasi ada di tanganmu, maka jalur bantuan yang dibawa Sastro akan tetap melalui pesantren dan bukan melalui tangannya sendiri. Kita sedang berada di tengah-tengah dua kepentingan besar, dan aku takut koperasi ini hanyalah pion yang akan dikorbankan."

Aku menggeser buku kas ke arah Pak Zaenal. "Apakah Kiai sudah tahu?"

"Beliau tahu segalanya, Haris. Tapi beliau memilih diam. Diam adalah cara beliau menjaga stabilitas pesantren saat ini. Namun, aku tidak bisa diam. Aku melihat catatan di laci koperasi. Ada pengeluaran yang tidak pernah masuk dalam buku laporan resmi yang kusampaikan dalam rapat. Uang itu mengalir ke pihak yang tidak seharusnya, atas instruksi yang tidak bisa kubantah. Aku takut, jika nanti audit datang, namamu yang akan terseret sebagai penanggung jawab utama karena kau yang memegang pena."

Kata-kata Pak Zaenal terasa seperti beban berat yang dijatuhkan tepat di atas dadaku. Aku selalu percaya bahwa kejujuran adalah garis lurus yang tidak akan pernah meleset. Namun, di pulau ini, garis lurus itu dibengkokkan oleh kepentingan orang-orang yang memiliki kuasa lebih besar daripada angka-angka yang kutulis. Aku menatap mesin radio yang mati di sudut ruangan. Ayah selalu berkata bahwa kejujuran adalah alat ukur terbaik untuk kehidupan, namun dia tidak pernah memberitahuku apa yang harus dilakukan ketika alat ukur itu sendiri dianggap rusak oleh lingkungan.

"Aku akan tetap mencatat dengan benar, Pak Zaenal," ucapku tegas. "Jika mereka ingin memfitnah, biarkan mereka melakukannya dengan bukti yang mereka ciptakan sendiri. Aku tidak akan membiarkan namaku tercoreng karena aku menjual prinsip demi ketenangan."

Pak Zaenal menatapku dengan tatapan kasihan. "Kau masih muda, Haris. Kau belum mengerti bahwa di sini, kebenaran tidak selalu memenangkan argumen. Terkadang, kebenaran hanyalah sesuatu yang disimpan di laci, menunggu seseorang yang cukup berani untuk membukanya di waktu yang tepat."

Setelah Pak Zaenal pergi, aku kembali duduk di meja kerja. Aku membuka lembar buku desa yang sempat terlintas di ingatanku. Nama itu tertulis dengan tinta hitam yang tebal, tegas, dan dingin. Sebagai pendatang, hakku untuk membela diri di forum desa akan jauh lebih kecil. Kasmadi telah mengunci pintu sebelum aku sempat mengetuknya. Aku menyalakan lampu kecil, mengambil solder, dan mulai memanaskan kembali mesin radio yang rusak. Jika dunia luar mencoba menguasai langkahku, setidaknya di dalam bengkel ini, aku masih memiliki kendali atas aliran listrik yang harus kusempurnakan. Namun, saat kulihat kembali barisan angka di buku kas yang terbuka, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Aku telah menolak Kasmadi, namun dia telah menuliskan takdir administratif yang mungkin akan menutup aksesku selamanya di pulau ini.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.