Kuitansi di Laci Koperasi
Bab 10
Aroma solar dan kayu jati basah menguar dari dermaga, menempel di serat baju dan kulitku. Aku berdiri di balik tumpukan karung garam, mengamati Mas Dirman yang tampak gelisah di samping mesin perahu motornya. Dia berkali-kali menarik tali starter, namun hanya bunyi batuk logam yang menyahut. Di sisi lain, Haris sedang berjongkok dengan Satrio. Mereka berdua begitu tenang, seolah mesin yang mati itu hanyalah teka-teki radio biasa yang menunggu sentuhan solder yang tepat.
"Sudah kubilang, jangan dipaksa terus," Haris berkata dengan suara rendah. Dia mengusap peluh di keningnya dengan punggung tangan yang berlumur oli.
Satrio mengangguk, tangan anak itu lincah memutar kunci pas. "Sepertinya ada sumbatan di saluran bahan bakarnya, Mas. Mari kita bongkar dulu."
Di ujung dermaga, Raden Sastro Wibawa berdiri tegak dengan tongkat kayu jati di tangannya. Dia tidak melihat ke arah perahu yang macet, namun kehadirannya terasa seperti pemberat yang menekan napas siapa pun di sana. Ketika perahu akhirnya tetap diam, Sastro melangkah mendekat. Dia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada Mas Dirman. Aku melihat tangan kakakku gemetar saat menerimanya. Sastro tidak bicara banyak, hanya menepuk bahu Mas Dirman dua kali, sebuah gerakan yang terasa seperti pengikatan rantai.
"Terima kasih, Pak," suara Mas Dirman nyaris tidak terdengar, tertelan deru ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga.
Sastro berlalu tanpa menoleh lagi ke arah bengkel. Haris dan Satrio masih sibuk dengan mesin itu, tidak menyadari bahwa di balik tumpukan karung, aku mencatat semua yang terjadi. Haris tampak jujur dengan keringatnya, namun dia tidak tahu bahwa setiap detik yang dia habiskan untuk memperbaiki perahu itu, dia sedang memperbaiki kendaraan bagi seseorang yang berutang nyawa dan kehormatan pada pria yang berdiri di ujung dermaga tadi.
Aku kembali ke penginapan dengan perasaan dingin. Di bawah lampu minyak yang berkedip, aku membuka buku dagangku. Biasanya, deretan angka di sana adalah tentang harga kayu per meter kubik atau berat garam per pikul. Namun malam ini, tanganku menulis kalimat yang berbeda. Pena hitamku menekan kertas dengan cukup keras hingga meninggalkan guratan dalam. Mas Dirman berutang pada orang yang memberi Haris pekerjaan. Aku menatap kalimat itu lama sekali, menyadari bahwa di pulau ini, kejujuran hanyalah angka yang bisa dimanipulasi oleh siapa pun yang memegang buku kas lebih besar. Aku menutup buku itu dengan bunyi pelan yang terasa seperti pintu terkunci.
Aku meletakkan pena di atas meja kayu yang kasar, namun pikiranku masih terpaku pada jemari Mas Dirman yang gemetar saat menerima amplop dari Raden Sastro. Biasanya, dia akan dengan bangga memamerkan kuitansi pelunasan kayu atau menghitung sisa keuntungan dari perjalanan laut kami. Namun malam ini, dia bahkan tidak menatap mataku saat masuk ke dalam kamar. Dia hanya meletakkan tas kainnya di sudut, berbalik memunggungi pintu, dan tertidur dengan napas yang terdengar berat dan tidak teratur. Aku bisa mencium bau solar yang tertinggal di udara kamar, bau yang sama dengan yang menempel di tangan Haris saat dia berlutut memperbaiki mesin perahu itu.
Aku berdiri dan berjalan menuju jendela. Dari sini, aku bisa melihat cahaya lampu dari bengkel koperasi yang masih menyala. Haris dan Satrio belum pulang. Mereka mungkin masih bergelut dengan onderdil mesin yang tersumbat, berusaha menghidupkan kembali perahu yang sebenarnya sudah dibayar untuk tetap diam di dermaga. Satrio, anak yang seharusnya menjadi pewaris jalur perdagangan garam dan jati, justru lebih memilih menghabiskan malamnya dengan mencium bau mesiu solder dan debu elektronik di bengkel. Aku membayangkan wajahnya yang serius, cara dia memegang kunci pas dengan tangan yang dilatih Haris. Ada semacam rasa bersalah yang menusuk dadaku. Apakah mereka tahu bahwa kebaikan mereka memperbaiki mesin itu justru sedang membantu orang yang ingin menghancurkan pesantren mereka sendiri?
Keesokan paginya, suasana di pasar kecil dekat dermaga terasa lebih sesak dari biasanya. Aku melihat beberapa nelayan berbisik-bisik saat Haris lewat dengan membawa tas alat kerjanya. Mereka tidak menyapa seperti biasanya. Kasmadi, sang kepala desa, berdiri di dekat pos penjagaan pelabuhan dengan tangan bersedekap, matanya mengikuti setiap langkah Haris dengan tatapan tajam yang tidak menyembunyikan rasa tidak suka. Aku sengaja memperlambat langkahku, membiarkan diriku berada cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.
"Dia pikir dia bisa terus bertahan di sini dengan modal kejujuran saja," gumam salah satu nelayan kepada temannya. "Padahal, semua orang tahu di mana angin berhembus. Kiai Mahfud sudah mulai menutup diri, dan koperasi itu tinggal menunggu waktu sampai uangnya benar-benar habis."
Aku menelan ludah. Koperasi itu adalah jantung dari kesejahteraan nelayan di pulau ini, dan Haris telah bekerja keras menjaga setiap sen di dalamnya agar tetap transparan. Namun, fitnah adalah benih yang tumbuh lebih cepat daripada tanaman apa pun di pulau ini jika disiram oleh kekuasaan yang tepat. Aku sempat berpapasan dengan Zulaikha di dekat sumur pesantren. Matanya sembap, dan di tangannya tergenggam buku kas yang sudah lusuh karena terlalu sering dibuka dan ditutup.
"Salma, aku tidak tahu harus menulis apa lagi," bisik Zulaikha saat kami berada di balik tembok dapur. "Ada pengeluaran yang tidak tercatat di buku resmiku, tapi di laci koperasi, Pak Zaenal menyimpan catatan yang berbeda. Semuanya tidak cocok. Aku takut, Salma. Jika aku menunjukkan ini kepada Haris, dia akan tahu bahwa aku telah menyalinnya atas permintaan orang lain. Tapi jika aku diam, koperasi akan bangkrut."
Aku meraih pundaknya, merasakan tubuhnya yang bergetar. "Jangan tunjukkan pada siapa pun dulu. Simpan catatan itu di tempat yang aman. Kita perlu mencari tahu apakah Pak Zaenal menyimpannya karena dia diperintah, atau karena dia sendiri sedang dilindungi oleh seseorang."
Zulaikha mengangguk lemah, lalu berlari kecil menuju kelas dapur saat mendengar suara lonceng panggilan santri. Aku kembali ke dermaga, di mana perahu Mas Dirman sudah bisa berbunyi menderu. Mesin itu hidup, namun bunyinya terdengar sumbang, seolah ada bagian di dalamnya yang dipaksakan untuk berfungsi tidak semestinya. Mas Dirman sibuk memuat peti-peti jati ke dalam lambung perahu. Dia terlihat jauh lebih pucat daripada semalam.
Aku mendekatinya sambil membawa ember berisi bekal air minum. "Mas, apakah kita benar-benar harus berangkat hari ini? Cuaca terlihat kurang bersahabat di ufuk barat," tanyaku pelan, mencoba memancing reaksinya.
Mas Dirman menghentikan gerakannya sejenak, menatap laut yang berwarna abu-abu gelap dengan tatapan kosong. "Kita tidak punya pilihan, Salma. Utang tetaplah utang. Semakin lama kita menunda, semakin besar bunga yang harus kubayar pada jalur Wibawa. Sastro tidak peduli dengan cuaca atau kerusakan mesin. Dia hanya ingin kayu-kayu ini sampai ke kota tepat waktu."
Dia menatapku dengan mata yang lelah, penuh tekanan yang tidak sanggup dia tanggung sendiri. Aku melihat bayangan ketakutan di sana, ketakutan yang sama dengan yang kulihat pada Satrio saat dia terpaksa memalsukan tanda tangan. Pulau ini perlahan-lahan sedang diikat oleh janji-janji palsu dan kuitansi yang tidak berbunyi jujur.
Aku kembali ke kamar penginapan sebelum matahari benar-benar tenggelam. Suara ombak menghantam dermaga terdengar seperti detak jantung yang tidak beraturan. Aku duduk di depan meja kayu, membuka buku dagangku yang berisi catatan rapi tentang arus barang dan uang. Namun, di lembar terakhir, aku tidak lagi menulis tentang berat kayu jati atau harga garam. Aku mengambil pena, dan dengan tangan yang sedikit bergetar, aku menuliskan sebuah kenyataan pahit yang baru saja kusadari sepenuhnya.
Mas Dirman berutang pada orang yang memberi Haris pekerjaan. Kalimat itu berdiri sendirian di halaman yang bersih, menjadi saksi bisu atas jebakan yang sedang dipasang di sekeliling Haris tanpa dia sadari. Aku menutup buku itu rapat-rapat, berharap kegelapan di dalam laci akan menjaga rahasia ini sampai aku menemukan cara untuk memberitahu Haris bahwa pria yang selama ini dia anggap penyelamat, sebenarnya adalah orang yang sama dengan yang sedang memegang leher kakaknya.



