Kunci yang Dijual Nabil
Bab 1
"Tiga ribu, Nabil. Jangan sampai kurang satu perak pun untuk ongkos perahu Ibu besok subuh," ujar Ibu sambil menyodorkan selembar uang kertas yang terlipat rapi di atas meja kayu yang mulai lapuk.
Aku mengangguk cepat, menyambar uang itu tanpa menatap matanya. Bau anyir ikan asin yang dijemur di depan rumah menusuk hidung, bercampur dengan aroma obat-obatan yang selalu terselip di sudut dapur. Aku tidak peduli pada tatapan Ibu yang lelah, yang aku pikirkan hanyalah layar monitor di warnet Pak Kusnan. Di sana, di dunia yang penuh warna dan kemenangan, aku bukan anak nelayan yang ayahnya hilang entah ke mana.
"Sudah Ibu taruh di kaleng biskuit, ya," tambahnya pelan sebelum melangkah ke dapur dengan napas yang terdengar berat dan tersendat.
Aku tidak menunggu jawaban. Kaki telanjangku berlari melewati dermaga, menghindari tatapan orang-orang yang mengenali wajahku sebagai anak Surahman yang selalu punya utang. Di ujung pasar, warnet Pak Kusnan yang pengap menyambutku dengan suara dentuman keyboard yang bagiku adalah musik paling indah. Aku menyerahkan uang tiga ribu rupiah itu kepada Pak Kusnan tanpa ragu. Satu jam. Hanya satu jam untuk menjadi pemenang di turnamen kampung yang sedang berlangsung.
Saat aku duduk, tanganku dengan lincah menggerakkan mouse. Konsentrasiku pecah sesaat ketika suara batuk keras terdengar dari arah rumah, namun aku segera menepisnya. Di layar, target sudah terkunci. Aku harus menang. Kemenangan di layar adalah satu-satunya hal yang bisa kucapai dengan mudah saat dunia nyata terasa seperti jerat yang semakin mengencang.
Ketika aku kembali ke rumah satu jam kemudian dengan perasaan puas karena berhasil meraih peringkat pertama, suasana rumah terasa ganjil. Pintu depan sedikit terbuka. Aku menemukan Ibu sedang bersimpuh di lantai dapur, satu tangannya memegang perut sementara tangan lainnya menyembunyikan sesuatu di balik tumpukan ikan asin yang baru saja diangkat dari jemuran. Wajahnya sepucat kapur, dengan keringat dingin yang membasahi dahi.
"Ibu?" panggilku, suaraku sedikit bergetar.
Ibu menoleh, mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang kesakitan. Ia dengan cepat memasukkan selembar kertas rujukan dari RSUD yang tadi sempat terlihat di lantai ke dalam tumpukan ikan. "Tidak apa-apa, Nabil. Ibu hanya lelah karena menjemur ikan seharian," ucapnya dengan suara serak yang dipaksakan stabil.
Aku terdiam, merasa ada yang salah dengan napasku. Aku berjalan menuju kaleng biskuit di atas meja tempat Ibu biasa menyimpan uang untuk perahu. Saat aku membukanya, kaleng itu kosong melompong. Aku menatap Ibu yang masih membelakangiku, lalu kembali menatap kaleng itu. Sesuatu yang dingin merayap di dadaku. Yang hilang bukan hanya tiga ribu rupiah untuk ongkos hari ini, melainkan seluruh simpanan untuk perahu hari Sabtu.
Aku menatap dasar kaleng biskuit itu berulang kali, berharap tumpukan uang kertas akan muncul dari ketiadaan jika aku memicingkan mata lebih dalam. Namun, yang tersisa hanyalah remah-remah biskuit yang sudah berbau tengik dan debu tipis. Suara napas Ibu yang memberat di dapur seolah menjadi latar belakang yang semakin menekan dadaku. Aku baru saja memenangkan turnamen, mendapatkan tepuk tangan dari teman-teman warnet, dan merasa seolah-olah aku adalah raja di dunia virtual. Namun, di sini, di dapur yang dindingnya terkelupas dimakan lembap, aku baru saja menyadari bahwa aku telah membakar perahu Ibu.
"Nabil, kamu sudah makan?" tanya Ibu dari ruang belakang. Suaranya terdengar jauh, seolah ia sedang berbicara dari dasar sumur yang dalam.
Aku tidak menjawab. Aku bergegas meletakkan kaleng itu kembali ke tempatnya dengan tangan yang gemetar. Aku tidak bisa membiarkan Ibu tahu bahwa aku telah menghabiskan uang itu. Jika dia tahu, dia mungkin akan berhenti mencoba berobat. Dia selalu berkata bahwa jika aku sudah sekolah dengan benar, dia tidak akan keberatan menahan lapar. Tapi kenyataannya, dia tidak hanya menahan lapar, dia sedang menahan nyawanya sendiri di atas perahu yang akan berangkat subuh nanti.
Aku melangkah ke dapur dengan langkah kaku. Ibu sedang duduk di kursi kayu pendek, tangannya yang kurus memegangi pinggiran meja. Di hadapannya ada tumpukan ikan asin yang baru saja dia jemur. Aku melihat ujung kertas putih yang menyembul dari balik tumpukan ikan itu. Itu adalah surat rujukan RSUD yang seharusnya sudah dia bawa sejak bulan lalu. Kenapa dia menyembunyikannya? Kenapa dia tidak memberi tahu siapa pun tentang jadwal cuci darahnya yang terlewat?
"Aku sudah makan di luar tadi, Bu," bohongku. Aku mendekatinya, mencoba meraih tangannya yang dingin. "Ibu kenapa? Apa mau aku ambilkan air hangat?"
Ibu menatapku dengan mata yang redup. "Tidak perlu, Nabil. Ibu hanya perlu istirahat sebentar. Kamu simpan uang untuk perahu di kaleng tadi?" tanyanya, suaranya pelan namun penuh selidik.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Sudah, Bu. Aman," jawabku, menekan rasa bersalah yang kini menghujam ulu hatiku. Aku tidak sanggup menatap matanya. Aku teringat bagaimana tadi di warnet, aku dengan sombongnya memamerkan layar monitor kepada teman-temanku, sementara di rumah, Ibu mungkin sedang menghitung koin demi koin untuk membiayai perahu yang membawanya menuju mesin penyaring darah.
"Syukurlah," gumam Ibu sambil memejamkan mata. "Besok kita harus berangkat sebelum azan subuh. Haji Rokib bilang perahu Barokah Tiga akan berangkat lebih awal karena ada kiriman ikan yang harus segera sampai ke daratan."
Aku mengangguk pelan, lalu mematikan lampu dapur. Aku membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan itu agar Ibu tidak melihat wajahku yang pasti terlihat pucat pasi. Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku berbaring di atas tikar yang tipis, mendengarkan suara debur ombak yang menghantam karang di bawah rumah kami. Setiap suara ombak terasa seperti detak jam yang menghitung sisa waktu Ibu. Aku teringat kembali pada layar monitor di warnet tadi. Mengapa aku begitu terobsesi dengan permainan itu? Mengapa aku merasa bahwa dengan menang di sana, aku bisa mengubah kenyataan di sini?
Aku bangun saat langit masih gelap. Suara azan subuh belum terdengar, tapi aku sudah bisa mendengar suara batuk Ibu dari kamar sebelah. Aku segera bangkit, menyiapkan tas yang berisi pakaian ganti untuk Ibu dan botol minum. Aku harus mencari uang itu. Aku harus mencari cara untuk mengganti tiga ribu rupiah yang hilang hari ini, dan setidaknya tiga ribu lagi untuk hari Sabtu.
"Nabil, sudah siap?" panggil Ibu dari depan pintu. Dia sudah mengenakan kerudung lamanya yang sudah sedikit pudar warnanya.
Aku keluar, mencoba menutupi kegelisahanku dengan senyum tipis. "Sudah, Bu. Ayo, aku bantu jalan ke dermaga."
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang becek. Udara pagi terasa menusuk, membawa bau garam dan sisa-sisa jaring nelayan yang tertinggal di pesisir. Di dermaga, lampu-lampu kapal yang bergoyang di atas air terlihat seperti kunang-kunang yang kesepian. Orang-orang sudah mulai sibuk mengangkut peti-peti ikan. Di kejauhan, aku melihat sosok tinggi besar yang berdiri dengan tangan bersedekap. Itu Haji Rokib. Dia selalu ada di mana saja, seolah-olah dia adalah pemilik dari setiap inci tanah dan air di Karang Asta ini.
"Sudah bawa uangnya, Mardiyah?" tanya Haji Rokib begitu kami mendekat. Suaranya berat dan berwibawa, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa kecil.
Ibu meraba saku bajunya, lalu menatapku dengan penuh harap. "Sudah, Pak Haji. Nabil yang memegangnya," jawab Ibu.
Aku merogoh saku celanaku. Tanganku menyentuh koin-koin yang tersisa. Aku menghitungnya dalam hati. Tiga ribu rupiah untuk hari ini sudah tidak ada. Aku hanya memiliki koin yang nilainya jauh dari cukup untuk dua kali perjalanan perahu. Aku menatap kaleng biskuit di rumah tadi, dan baru sekarang aku benar-benar mengerti hitungannya. Uang yang aku ambil di warnet bukan sekadar tiket masuk ke dunia virtual, itu adalah jatah perjalanan Ibu. Dan saat aku kembali menghitung sisa uang di tangan, yang terasa kurang bukan lagi hanya tiga ribu untuk hari ini, melainkan ongkos perahu untuk hari Sabtu yang sudah tidak mungkin terbayar lagi.



