Kunci yang Dijual Nabil
Bab 2
Angin laut subuh berbau garam pekat dan sisa minyak solar. Ibu melangkah pelan, memegang erat pinggiran dinding kayu saat menuruni dermaga menuju perahu kayu yang bergoyang pelan. Wajahnya pucat pasi, nyaris sewarna dengan kain penutup kepala yang ia kenakan. Aku berjalan di belakangnya, berusaha menyembunyikan getar di jemariku ke dalam saku celana. Di dalam sana hanya ada koin sisa yang tidak akan cukup untuk membeli dua tiket perahu, apalagi untuk biaya cuci darah di daratan nanti.
"Nabil, bawa tas ini pelan-pelan," bisik Ibu. Suaranya serak, seperti ada pasir yang mengganjal di tenggorokannya. Aku mengangguk, mengambil tas berisi baju ganti dan surat rujukan yang terselip rapi di antara lipatan kain. Aku teringat kuitansi yang kututup-tutupi kemarin, dan rasa sesak di dada ini terasa lebih menyesakkan daripada udara laut yang dingin.
Perahu Barokah Tiga menderu, memecah kesunyian muara. Kami duduk di sudut bangku kayu yang keras. Selama perjalanan, Ibu hanya memejamkan mata, bibirnya bergerak lirih merapal doa. Aku menatap punggung perahu, memikirkan bagaimana cara agar besok Sabtu, Ibu tetap bisa sampai ke rumah sakit. Jika uang itu tidak ada, ginjal Ibu akan terus menumpuk racun, dan aku adalah anak yang membelanjakan racun itu di warnet demi kenyamanan fana di depan layar.
Sesampainya di RSUD, lorong rumah sakit sudah ramai oleh orang-orang dengan wajah serupa: lelah dan menunggu. Aku duduk di kursi besi yang dingin, menatap lantai keramik yang berkilau. Perutku perih karena belum sempat makan sejak semalam. Aku hanya bisa mengamati pergerakan suster dan suara mesin hemodialisis yang menderu pelan di balik pintu ruang tindakan.
Beberapa jam kemudian, dr. Laila memanggil kami ke ruangannya. Ia tidak tersenyum seperti biasanya. Di tangannya, ia memegang selembar formulir yang sudah ia coret-coret dengan tinta merah.
"Bu Mardiyah, saya harus sampaikan ini," ucap dr. Laila dengan nada hati-hati. Ia menatap Ibu, lalu beralih menatapku. "Kartu jaminan kesehatan Ibu tidak bisa digunakan hari ini. Ada tunggakan iuran selama tiga bulan yang belum dibayarkan. Sistem mencatat statusnya tidak aktif."
Ibu terdiam. Tangannya yang kurus mencengkeram ujung kursi dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Tapi saya sudah menitipkan uang itu, Dok. Apakah tidak ada kebijakan lain untuk hari ini saja?"
Dr. Laila menghela napas panjang, menatap kami dengan tatapan iba yang justru membuatku merasa lebih kecil dan kotor. "Saya sudah coba bantu lewat jalur administrasi, tapi pusat menolak karena datanya terkunci otomatis oleh sistem. Tanpa pelunasan, jadwal cuci darah hari ini harus tertunda."
Aku membantu Ibu berdiri. Kakinya gemetar saat melangkah keluar dari ruang dr. Laila. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang lebih menakutkan daripada kemarahan. Di lorong rumah sakit yang berbau karbol tajam, setiap langkah Ibu terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. Aku memapah lengannya, merasakan tulang-tulangnya yang menonjol di balik kain tipis. Ibu tidak menoleh padaku, matanya lurus menatap pintu keluar, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang di balik pintu besi itu.
"Kita pulang, Nabil," ucapnya pelan. Suara itu begitu datar, menghilangkan semua sisa harapan yang sempat aku bangun di dalam kepala. Aku ingin berkata sesuatu, ingin mengaku bahwa uang yang seharusnya untuk iuran itu telah habis di tangan pemilik warnet, tapi lidahku terasa kaku. Setiap kali aku mencoba membuka mulut, bayangan layar monitor yang berwarna-warni dan perasaan menang dalam permainan itu justru muncul, menampar kesadaranku dengan kenyataan yang memuakkan.
Perjalanan pulang dengan perahu terasa jauh lebih panjang. Matahari sudah tinggi, memantulkan cahaya menyilaukan di atas permukaan air laut yang tenang. Ibu duduk di tempat yang sama, memandang cakrawala dengan tatapan kosong. Aku duduk di depannya, sibuk menghitung sisa koin di dalam saku celana. Jumlahnya tidak akan cukup untuk menutupi tunggakan itu, apalagi untuk membayar ongkos perahu tambahan yang harus kami keluarkan hari ini karena gagal prosedur. Aku merasa seperti orang asing di hadapan Ibu, seorang anak yang baru saja merampok nyawa ibunya sendiri demi kesenangan sesaat.
"Ibu tidak apa-apa?" tanyaku akhirnya, setelah keheningan muara menyiksa pendengaranku selama dua jam perjalanan.
Ibu menoleh pelan. Ia tersenyum tipis, jenis senyuman yang biasanya ia berikan saat menyuapiku makan di masa kecil, saat ayah masih ada dan perahu kami masih sering pulang membawa ikan dalam jumlah banyak. "Ibu hanya lelah, Nabil. Mungkin ini pertanda bahwa Ibu harus beristirahat lebih banyak di rumah."
"Tapi jadwal cuci darah itu penting, Bu. Dokter bilang racun di tubuh Ibu harus dibuang," jawabku, suaraku sedikit meninggi karena panik.
Ibu menggeleng pelan. Ia menatap tanganku yang gemetar di atas paha. "Segala sesuatu ada waktunya. Jika hari ini pintu itu tertutup, mungkin memang belum saatnya untuk dibuka. Jangan terlalu memikirkan biaya, Nabil. Tugasmu hanya belajar dan bersekolah. Biar Ibu yang memikirkan sisanya."
Aku menunduk dalam-dalam. Kata-kata itu adalah beban terberat yang pernah aku pikul. Ibu masih menganggapku anak kecil yang perlu dilindungi, sementara di dalam hatiku, aku sudah tahu bahwa aku telah menghancurkan satu-satunya jaminan keselamatan yang ia miliki. Aku adalah pengkhianat di rumah sendiri, yang menjual akses ke masa depan hanya untuk sekadar merasa hebat di dunia digital yang palsu.
Saat perahu akhirnya merapat ke dermaga Karang Asta, matahari sudah condong ke barat, memberikan semburat jingga di langit yang mulai meredup. Suasana dermaga tidak seramai biasanya. Hanya ada beberapa nelayan yang sibuk menambatkan jaring, dan seorang laki-laki tua yang berdiri tegak di dekat tumpukan peti ikan, memegang sebuah buku bersampul kulit yang sudah retak dimakan usia.
Itu Haji Rokib. Ia berdiri dengan tangan bersedekap, matanya tajam memperhatikan setiap orang yang turun dari perahu. Ketika ia melihat aku dan Ibu mendekat, senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. Senyum itu bukan untuk menyapa, melainkan untuk menegaskan bahwa waktu yang ia berikan sudah habis.
Aku menelan ludah. Kakiku terasa berat saat harus melangkah ke arahnya. Ibu tampak sedikit terkejut, namun ia tetap melangkah dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia tahu, seperti halnya aku, bahwa pertemuan ini tidak akan membawa kabar baik. Kami melewati kerumunan nelayan lain dan berhenti tepat di depan Haji Rokib. Aroma garam dan amis ikan laut seolah menghilang, digantikan oleh aroma kertas tua yang keluar dari buku di tangan Haji Rokib.
"Mardiyah," sapa Haji Rokib. Suaranya berat, bergema di antara deburan ombak kecil yang menghantam dinding dermaga kayu.
"Haji," jawab Ibu singkat, menundukkan kepala dengan takzim. Ia terlihat begitu ringkih di hadapan laki-laki yang memegang seluruh nasib keluarga kami melalui catatan utang di buku itu.
Aku berdiri di samping Ibu, mencoba menatap tanah agar tidak melihat tatapan merendahkan dari Haji Rokib. Namun, rasa penasaran yang aneh menarik mataku ke arah buku itu. Haji Rokib membuka halaman pertama buku kecil tersebut. Jemarinya yang kasar membalik lembaran kertas yang menguning dengan pelan, seolah ia sedang menikmati setiap detik ketakutan yang kami rasakan. Di sana, tertulis dengan tinta hitam yang sudah memudar, nama ayahku, Pak Surahman, dengan deretan angka di sampingnya yang terlihat seperti belenggu yang tidak akan pernah putus.



