Kunci yang Dijual Nabil
Bab 3
Angin dermaga membawa bau amis ikan yang membusuk, menusuk hidung hingga ke tenggorokan. Haji Rokib berdiri dengan kaki terbuka lebar, bayangannya memanjang di atas kayu dermaga yang lapuk. Ia tidak memandangku, melainkan menatap Ibu yang duduk lunglai di atas tumpukan karung goni bekas. Di tangan kanannya, buku kas kecil bersampul kulit imitasi itu terbuka lebar. Jempolnya yang kasar menjilat ujung kertas, membalik lembaran demi lembaran dengan irama yang membuat detak jantungku berpacu tidak karuan.
"Sudah empat tahun, Mardiyah," suara Haji Rokib berat, nyaris seperti geraman. "Perahu Barokah Dua itu sudah lama dimakan kayu lapuk, tapi utangmu masih tegak berdiri. Bunga berjalan terus, tidak peduli apa kau punya uang atau tidak."
Ibu berusaha menegakkan punggung. Napasnya pendek, tersengal karena kelelahan setelah perjalanan perahu yang kasar. Ia menyentuh tas kain yang kosong, lalu menatap Haji Rokib dengan mata yang sayu namun keras kepala. "Saya sedang berusaha, Haji. Bulan depan, hasil jemuran ikan saya pasti cukup untuk cicilan."
Haji Rokib mendengus. Ia menunjuk angka-angka di buku itu dengan telunjuknya yang kotor. "Empat belas juta. Itu sisa pokok dan bunganya. Jangan beri saya janji kosong lagi. Kalau tidak ada uang sekarang, jangan salahkan saya jika rumah itu pindah kepemilikan sebelum bulan berganti."
Ibu terdiam cukup lama. Ia menunduk, tangannya gemetar saat meraba jemari tangan kirinya sendiri. Sebuah cincin emas tipis, satu-satunya perhiasan yang tersisa dari pernikahan mereka, ia tarik pelan. Logam itu terasa dingin dan kusam, namun di mata Haji Rokib, benda itu tampak seperti mangsa yang lezat. Ibu meletakkan cincin itu di atas buku kas Haji Rokib.
"Ini saja yang saya punya," bisik Ibu. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh deburan ombak di bawah kaki kami. "Tolong, jangan ambil rumah itu. Nabil butuh tempat untuk pulang setelah sekolah."
Aku berdiri mematung di belakang Ibu, mengepalkan tangan hingga buku-bukuku memutih. Haji Rokib mengambil cincin itu, menimbangnya di telapak tangan seolah sedang menakar harga nyawa kami. Aku mencuri pandang ke arah buku yang masih terbuka di depan matanya. Di sana, di bawah baris nama Ayah, deretan angka bunga terlihat jauh lebih rapi daripada tulisan lainnya. Tintanya tampak lebih pekat, lebih baru, dan menumpuk di atas coretan yang sengaja ditebalkan. Mataku membelalak. Ada selisih hitungan yang tidak masuk akal di sana, seolah-olah setiap kali Ibu terlambat membayar, Haji Rokib tidak hanya menambah bunga, tapi juga memanipulasi angka dasar utang kami agar tidak pernah bisa lunas.
Haji Rokib memasukkan cincin tipis itu ke dalam saku kemeja batiknya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia tidak menatap wajah Ibu, seolah barang berharga itu hanyalah debu yang baru saja ia bersihkan dari permukaan bukunya. Ia menutup buku kas itu dengan bunyi debuman pelan yang terasa seperti palu hakim bagi telingaku. Aku merasa tenggorokanku kering. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke ujung jariku, sebuah kemarahan yang tidak lagi bisa kutahan. Haji Rokib menepuk sampul buku itu dua kali, lalu menatapku dengan sudut mata yang menyipit.
"Ingat, Nabil. Sekolahmu itu mahal, tapi utang bapakmu jauh lebih mahal," ucap Haji Rokib tanpa nada iba. Ia memutar tubuhnya, meninggalkan kami di dermaga yang mulai sepi. Langkahnya yang mantap di atas kayu dermaga terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa waktu kami di rumah kapur itu.
Ibu masih terduduk diam. Wajahnya pucat pasi, hampir sewarna dengan kain jemuran ikan yang ia bawa. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap ke arah laut yang kini berwarna kelabu di bawah langit senja. Aku mendekat, berjongkok di sampingnya, berusaha menutupi tangannya yang kosong dengan telapak tanganku yang kasar karena sering berada di depan keyboard warnet.
"Bu, seharusnya tidak perlu memberikan cincin itu," bisikku. Suaraku tercekat.
Ibu menoleh pelan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang selalu berhasil membuat hatiku mencelos. "Cincin itu hanya benda, Nabil. Rumah kita adalah tempatmu tumbuh. Selama atap itu masih milik kita, Ayahmu tidak akan benar-benar hilang dari ingatan. Kamu harus fokus sekolah. Jangan pedulikan hal-hal lain di luar sana."
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa memberitahunya bahwa di dalam warnet, aku sering kali kehilangan fokus hanya untuk memenangkan poin permainan yang sama sekali tidak ada harganya. Aku tidak bisa jujur bahwa uang yang seharusnya menjadi cicilan atau ongkos perahu, telah kuhabiskan untuk menyewa akses internet yang menjanjikan kemenangan semu. Rasa bersalah itu kini terasa seperti beban yang menghimpit paru-paruku.
Kami berjalan pulang dengan langkah yang sangat berat. Jalanan kampung yang berbatu terasa begitu panjang. Setiap rumah yang kami lewati seolah menjadi saksi bisu atas kemiskinan yang perlahan menggerogoti kami. Sesampainya di rumah, Ibu langsung menuju dapur, mencoba menyalakan kompor untuk memanaskan sisa air. Aku masuk ke kamar kecilku, tempat di mana aku menyimpan tumpukan kertas catatan tentang sistem yang sedang kupelajari. Namun, pikiranku tidak bisa lepas dari buku kas Haji Rokib.
Aku teringat kembali pada barisan angka yang kulihat tadi. Ada sesuatu yang janggal. Sebagai seseorang yang terobsesi dengan logika angka dan urutan data, aku tahu kapan sebuah tulisan dibuat dengan terburu-buru dan kapan sebuah catatan disengaja untuk menipu. Tulisan di halaman utang ayahku memiliki ketajaman yang berbeda. Tinta hitamnya terlalu pekat dibandingkan dengan catatan di halaman depan yang sudah menguning dimakan waktu. Itu bukan catatan utang yang asli. Itu adalah sebuah rekayasa yang dilakukan secara berulang.
Aku duduk di lantai kayu, menyandarkan punggung pada dinding kapur yang dingin. Di luar, suara ombak menghantam tebing pulau. Aku memikirkan bagaimana Haji Rokib bisa begitu kejam. Dia tidak hanya menagih utang, dia menciptakan jebakan yang tidak mungkin dihindari. Jika setiap keterlambatan pembayaran membuat bunga itu dihitung ulang dengan angka baru yang dimanipulasi, maka sampai kapan pun, utang itu tidak akan pernah mencapai titik nol. Kami terjebak dalam putaran yang dirancang untuk merampas segalanya, termasuk rumah yang menjadi satu-satunya peninggalan Ayah.
Aku teringat sosok Cak Wildan di warnet. Dia pernah bilang bahwa setiap angka di dunia ini memiliki jejak, dan jika seseorang cukup teliti, dia bisa melacak ke mana arah uang tersebut mengalir. Namun, di kampung ini, angka-angka itu seolah dipegang oleh penguasa tunggal seperti Haji Rokib. Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang selama ini kugunakan untuk mengetik perintah di layar, tangan yang terbiasa dengan kode-kode rumit, kini merasa sangat tidak berdaya menghadapi kenyataan di dunia nyata.
Ibu memanggilku dari dapur, suaranya lemah. Aku beranjak, melangkah dengan gontai. Di meja makan, hanya ada sepiring kecil ikan asin dan nasi yang sudah dingin. Kami makan dalam diam. Suara kunyahan kami beradu dengan suara cicak di dinding. Ibu tidak mengeluh sedikit pun tentang rasa sakit di pinggangnya, padahal aku tahu prosedur cuci darah yang gagal hari ini pasti membuat racun di tubuhnya menumpuk. Dia tetap tenang, seolah ketenangannya adalah perisai agar aku tidak ikut hancur.
"Jangan terlalu dipikirkan soal Haji Rokib," ucap Ibu tiba-tiba, seolah dia bisa membaca isi kepalaku. "Haji Rokib juga manusia. Dia punya hitungannya sendiri, dan kita punya Tuhan yang Maha Melihat. Yang penting, kamu tetap sekolah. Jangan sampai kamu menjadi seperti nelayan yang hanya melaut tanpa arah."
Aku mengangguk, meski hatiku menolak mentah-mentah nasihat itu. Bagi Ibu, kesabaran adalah segalanya. Tapi bagiku, diam saja sama saja dengan menyerahkan diri untuk dibantai. Aku mulai berpikir tentang apa yang bisa kulakukan. Jika aku bisa mendapatkan akses ke buku kas itu, jika aku bisa membuktikan bahwa angka-angka itu adalah sebuah kebohongan, apakah kami bisa bebas? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, lebih bising daripada suara angin malam di luar rumah.
Saat aku berbaring di tempat tidur, aku membayangkan kembali halaman buku Haji Rokib di bawah cahaya lampu dermaga yang temaram. Jemari kasar Haji Rokib, aroma kertas tua yang lembap, dan deretan angka yang seolah mengejekku. Sekarang aku mengerti kenapa Ibu selalu kalah. Dia bermain dengan kejujuran melawan seseorang yang memegang pena untuk memanipulasi takdir. Tulisan di halaman itu bukan sekadar catatan utang, melainkan sebuah pengkhianatan yang ditulis dengan rapi, di mana setiap bunga dihitung ulang setiap kali ibuku terlambat, dengan tulisan yang jauh lebih baru dari halaman sebelahnya.



