Kunci yang Dijual Nabil
Bab 4
Gerbang Pesantren Darul Hikmah berdiri kokoh, membelakangi angin laut yang membawa aroma garam dan sisa-sisa keringat para santri. Di sana, seorang pemuda asing dengan kacamata yang sedikit miring duduk termenung di bangku kayu dekat pos jaga. Tas ranselnya terlihat berat, menekan punggungnya hingga ia sedikit membungkuk. Sudah hampir tiga jam ia di sana. Beberapa kali ia berdiri, mencoba melangkah ke arah gerbang, namun tertahan oleh tatapan tajam penjaga yang sudah terbiasa mengusir pengamen atau peminta sumbangan liar. Aku memperhatikannya dari balik tiang dermaga, heran kenapa dia tidak segera pergi saat penolakan sudah jelas tertulis di raut wajah para pengurus yang lewat.
"Nabil, jangan bengong saja di sini. Mau sampai kapan menunggu keajaiban?" Rendi menyenggol bahuku, suaranya cempreng memecah lamunan. Ia sudah berdiri di sampingku, tangannya sibuk memutar-mutar koin logam. "Ikut aku ke warnet sebentar saja. Wildan baru saja buka server baru. Game-nya gampang, tinggal klik yang benar, uangnya mengalir sendiri."
Aku menoleh ke arah pemuda berkacamata itu sekali lagi sebelum akhirnya mengangguk pelan. Tidak ada gunanya terus memantau orang asing yang sudah pasti gagal masuk ke sana. Di warnet, udara terasa jauh lebih sejuk karena kipas angin tua yang terus berputar di sudut ruangan. Cak Wildan menyambut kami dengan senyum lebar yang selalu terasa seperti umpan pancing yang disebar ke air keruh.
"Mau mencoba keberuntungan hari ini?" tanya Cak Wildan sambil menunjuk ke monitor yang menampilkan deretan angka berkedip.
Aku duduk di kursi plastik yang retak, tanganku gemetar saat menyentuh papan tik. Rendi sudah lebih dulu masuk ke dalam sistem, jemarinya lincah menekan tombol. Aku hanya mengikuti instruksinya, menunggu momen yang tepat saat gambar di layar berhenti pada simbol yang sama. Tiba-tiba, suara denting nyaring muncul dari speaker pecah warnet. Angka di sudut layar berubah. Lima puluh ribu rupiah. Uang itu nyata, angka yang muncul di layar bukan lagi sekadar piksel, melainkan kesempatan untuk membayar ongkos perahu Ibu besok pagi.
"Kau lihat? Ini jauh lebih masuk akal daripada menunggu di gerbang pesantren," bisik Rendi penuh kemenangan. Aku terdiam, memandangi angka itu dengan perasaan bercampur aduk antara rasa takut dan lega yang menyesakkan dada.
Sesampainya di rumah, Ibu sedang duduk di lantai dengan napas yang terdengar berat. Wajahnya pucat pasi, namun ia masih sempat menyambutku dengan senyum yang dipaksakan. Aku meletakkan uang itu di atas meja kayu kecil di sampingnya. Ibu menatap lembaran kertas itu dengan kening berkerut.
"Nabil, ini uang dari mana? Siapa yang begitu baik memberikanmu uang sebanyak ini di saat kita sedang terjepit begini?"
Aku menelan ludah. Lidahku terasa kelu, seperti ada gumpalan pasir yang menyumbat tenggorokan. Ibu memandang uang itu bukan sebagai berkat, melainkan sebagai sesuatu yang harus dipertanyakan asal-usulnya. Tangannya yang kurus gemetar saat ia meraih lembaran uang itu, memastikan bahwa itu bukan mainan atau kertas yang salah kutemukan di jalan. Aroma obat-obatan dan sisa ikan asin dari dapur memenuhi ruangan, membuat suasana terasa kian menyesakkan.
"Ini hasil dari membantu Cak Wildan di warnet, Bu," jawabku pelan, mencoba menyusun kalimat agar tidak terdengar seperti pengakuan dosa. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku menang taruhan di dalam game yang dipandu Rendi. "Tadi servernya sedang sibuk, jadi saya membantu merapikan data dan dia memberi bonus untuk ongkos perahu Ibu besok."
Ibu menghela napas panjang. Bunyi napasnya terdengar seperti gesekan kertas kering. Ia tidak langsung percaya, aku tahu itu. Ibu mengenal perangaiku, tapi ia juga mengenal bagaimana keputusasaan bisa mengubah seseorang menjadi pembohong yang ulung. Ia meletakkan uang itu kembali di meja, tepat di samping kaleng biskuit kosong tempat ia biasa menyimpan sisa recehan yang sudah lama tidak terisi.
"Nabil, Ibu tidak ingin kamu berutang budi pada orang yang tidak jelas," suaranya lemah namun tegas. "Cak Wildan itu orang baik, tapi di pulau ini tidak ada kebaikan yang benar-benar gratis. Semua ada harganya, apalagi di tempat seperti warnet itu."
Aku hanya bisa menunduk. Bayangan wajah Haji Rokib di dermaga tadi siang masih membekas jelas di ingatanku. Jika Ibu tahu bahwa cincin nikahnya sudah berpindah tangan sebagai cicilan utang, mungkin ia akan lebih memilih untuk tidak berangkat ke rumah sakit sama sekali. Uang lima puluh ribu ini adalah satu-satunya jembatan agar ia tidak perlu membatalkan jadwal cuci darahnya lagi. Aku harus memastikan dia tetap hidup, meskipun itu berarti aku harus berbohong sedikit lebih banyak setiap harinya.
Besok pagi, perahu kayu yang membawa kami ke daratan akan berangkat tepat saat azan subuh berkumandang. Aku harus memastikan Ibu cukup kuat untuk menempuh perjalanan itu. Aku masuk ke dapur, mencoba menyibukkan diri dengan menata piring-piring plastik yang sudah retak. Ibu tidak lagi bertanya, ia memejamkan mata, mencoba mengumpulkan tenaga untuk hari esok yang berat.
Saat malam semakin larut, aku duduk di teras depan, mendengarkan deru ombak yang menghantam karang. Pikiranku melayang kembali ke pemuda berkacamata yang kulihat di gerbang pesantren tadi. Dia masih di sana saat aku lewat terakhir kali, duduk sendirian seolah sedang menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang. Apakah dia juga sedang mencari jalan keluar? Atau dia justru membawa jalan masuk yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh anak-anak seperti kami?
Aku teringat betapa mudahnya angka di layar warnet itu bertambah. Lima puluh ribu bukan angka yang besar bagi orang di kota, tapi di Karang Asta, itu adalah nyawa. Itu adalah biaya perahu yang memastikan Ibu tidak tumbang di tengah laut. Rendi bilang, selama kita punya akses ke server yang benar, kita tidak akan pernah kekurangan. Namun, semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa seperti sedang ditarik ke dalam arus yang sama dengan yang pernah menenggelamkan Ayah.
Aku berdiri, berjalan mendekati jendela kamar yang terbuka sedikit. Ibu sudah terlelap, napasnya lebih tenang meski sesekali ia merintih kecil. Aku menatap uang di atas meja itu sekali lagi. Uang itu bersih, tapi rasanya di tanganku sangat panas. Aku tahu persis bahwa Cak Wildan tidak pernah memberi uang tanpa alasan. Dia pasti mengharapkan sesuatu, mungkin bukan sekarang, tapi suatu hari nanti, saat dia membutuhkan tangan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang dewasa.
Keesokan harinya, subuh datang dengan warna langit yang kelabu. Aku membangunkan Ibu dengan lembut. Kami berjalan menuju dermaga dalam sunyi. Angin pagi terasa menusuk tulang, membawa kabut tipis yang menyelimuti perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar. Haji Rokib tidak terlihat di sana, mungkin dia masih tertidur atau memang sengaja membiarkan kami pergi karena cincin Ibu sudah di tangannya. Saat naik ke atas perahu, aku menyerahkan uang itu kepada tukang perahu sebagai ongkos jalan.
Laki-laki tua itu menghitung uangnya dengan teliti, memastikan tidak ada yang kurang sebelum menyalakan mesin perahu. Ibu menatapku saat kami duduk di bangku kayu yang basah oleh embun. Ia menatap laut, lalu menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan. Dia tidak tampak lega, justru tampak lebih cemas dari sebelumnya. Ia memegang tanganku erat, dingin sekali.
"Nabil," bisiknya di tengah suara mesin perahu yang mulai menderu keras. "Kamu tidak melakukan sesuatu yang berbahaya untuk mendapatkan uang ini, kan? Ibu hanya ingin kamu jujur. Siapa sebenarnya yang begitu baik memberikanmu uang sebanyak ini di tengah kesulitan kita?"



