Bab 5 Gratis Novel Religi & Keluarga

Kunci yang Dijual Nabil

Kabel di TPQ

5 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 5

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Kunci yang Dijual Nabil

Bab 5

Gratis

Udara di dalam ruang TPQ terasa pengap, bercampur bau debu kayu dan sisa keringat anak-anak yang tadi berebut tempat duduk. Aku berdiri kaku di sudut ruangan, tepat di bawah kaligrafi ayat kursi yang bingkainya sudah miring. Pak Rasyid tidak menoleh saat aku menggeser kaki yang pegal. Tadi, sebelum kelas dimulai, mataku memang sempat terpejam saat ia sedang menerangkan hukum tajwid. Sekarang, hukumannya adalah berdiri sampai pelajaran selesai. Aku menunduk, memperhatikan debu yang menari di bawah sorotan lampu neon yang berkedip lemah.

Di dekat pintu belakang, seorang pemuda asing sedang memanjat kursi kayu. Dia membawa tas ransel besar dan sebuah kotak perkakas yang tampak berat. Itu Pratama, orang yang kabarnya baru datang dari kota untuk mengajar di pesantren. Dia tidak mempedulikan tatapan heran santri lain. Tangannya lincah, menarik kabel hitam yang menjuntai dari langit-langit, lalu melilitkannya ke terminal listrik yang sudah berkarat.

"Kabel ini sudah putus sejak tahun lalu, Ustaz," suara pemuda itu memecah sunyi kelas. Suaranya tenang, tidak terganggu oleh suara santri yang berbisik-bisik di belakangku.

Pak Rasyid hanya mengangguk pelan. "Silakan, Nak Pratama. Asalkan tidak mengganggu jalannya tadarus."

Aku mencuri pandang ke arah meja kayu tempat Pratama meletakkan barang-barangnya. Sebuah laptop tua berwarna perak terbuka lebar di sana. Layarnya tidak menampilkan gambar orang atau permainan, melainkan deretan huruf-huruf berwarna hijau dan putih yang berbaris rapi di atas latar hitam. Itu tampak seperti tumpukan kode yang rumit, sesuatu yang belum pernah kulihat di warnet Cak Wildan. Di warnet, aku hanya berurusan dengan barisan angka taruhan dan ikon tombol mulai.

Tanpa sadar, aku melangkah sedikit lebih dekat. Kakiku yang tadi pegal seolah lupa pada hukuman Pak Rasyid. Fokusku terkunci pada layar itu. Huruf-huruf itu berkedip, seolah bernapas.

"Apa yang kau cari, Nabil?" suara itu mengejutkanku. Aku tersentak hingga hampir jatuh.

Pratama sudah berdiri di belakangku, tangannya memegang obeng. Dia tidak tampak marah meski aku tertangkap basah mengintip. Matanya justru menatapku dengan sorot yang dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.

"Hanya... hanya penasaran dengan layarnya, Kang," jawabku terbata-bata, meremas ujung baju koko yang sudah mulai kusam.

Pratama melirik laptopnya, lalu kembali menatapku. "Tiap malam, kau menyewa layar di warnet itu. Aku sering melihatmu di sana saat jalan pulang. Tapi, kenapa kau tidak pernah membuat sesuatu dengan layar itu? Kau hanya memainkannya seperti orang yang sedang menunggu waktu habis."

Aku terdiam. Pertanyaannya terasa seperti duri yang menusuk tepat ke dada. Di warnet, layar hanyalah alat untuk menukar koin dengan angka-angka yang kuharap bisa berubah menjadi lembaran rupiah. Aku tidak pernah berpikir untuk membuat sesuatu. Bagi orang sepertiku, layar adalah cermin dari apa yang aku perlukan untuk bertahan hidup, bukan untuk menciptakan apa pun. Pratama masih menatapku, menunggu jawaban yang tidak sanggup kuberikan.

"Aku hanya mencari uang untuk Ibu," bisikku akhirnya, hampir tak terdengar. Aku menunduk, menatap lantai kayu yang retak. Di sudut mata, aku melihat Pak Rasyid telah selesai menutup bukunya, memberi aba-aba agar santri lain bersiap pulang. Hukuman berdiriku selesai, tapi kakiku terasa lebih berat daripada saat aku mulai berdiri tadi.

Pratama tidak menuntut penjelasan lebih lanjut. Ia kembali ke mejanya, menutup laptop peraknya dengan pelan, lalu memasukkannya ke dalam tas. Suara gesekan ritsleting tas itu terdengar nyaring di ruangan yang mulai sepi. Ia tidak memarahiku karena kelancanganku mengintip, bahkan tidak melaporkanku kepada pengurus pesantren. Sikap tenangnya justru membuat rasa bersalahku bertambah. Seolah-olah, ketidaktahuanku tentang apa yang bisa dilakukan dengan layar adalah sebuah kegagalan yang lebih besar daripada nilai ujian ngajiku yang buruk.

"Pulanglah, Nabil," ucapnya singkat sebelum ia berjalan menuju pintu keluar, diikuti oleh cahaya lampu neon yang kini menyala terang benderang setelah ia memperbaiki kabel tadi. Ruangan itu kini tampak berbeda. Sudut-sudut yang biasanya gelap dan berdebu kini tersapu cahaya putih, menampakkan jejak-jejak ketidakteraturan yang selama ini kami abaikan. Aku tetap berdiri di sana, memandangi terminal listrik yang baru saja diperbaiki. Dulu, tempat ini mati dan bisu, namun sekarang, arus itu mengalir, memberikan kehidupan pada ruang yang sebelumnya hanya tempat untuk menunduk dan menghafal.

Aku berjalan keluar, menyusuri jalan setapak menuju pasar. Angin laut membawa aroma garam dan ikan yang dijemur, bercampur dengan bau asap dari dapur-dapur penduduk. Di kepalaku, pertanyaan Pratama masih terus berputar. Mengapa aku tidak pernah membuat sesuatu? Apakah karena aku memang tidak mampu, atau karena aku sudah terlalu terbiasa menjadi budak dari apa yang ditampilkan layar kepadaku?

Sesampainya di rumah, Ibu sudah tertidur di kursi rotan dengan napas yang memburu pelan. Di sampingnya, buku utang Haji Rokib tergeletak di atas meja, tertutup rapat. Aku mendekat, mencium tangannya yang dingin, lalu melepaskan sarungku. Aku merasa seolah baru saja melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Layar bukan sekadar jendela untuk judi atau pelarian, tapi sebuah kanvas. Namun, kanvasku sudah terlanjur kotor oleh angka-angka hutang dan keringat Ibu yang habis untuk menambal kebohonganku.

Keesokan harinya, aku kembali ke warnet. Cak Wildan menyambutku dengan senyum lebar yang biasa, tangannya sibuk mengetik sesuatu di layar kasir yang juga penuh dengan kode-kode. "Sudah siap untuk menang hari ini, Nabil?" tanyanya, menunjuk ke arah komputer favoritku di sudut ruangan.

Aku duduk di depan layar itu. Cahaya biru memancar ke wajahku, membiaskan bayangan lelah di retina. Aku membuka situs perjudian yang biasa kumasuki, namun jari-jariku mendadak kaku. Aku teringat pada layar perak milik Pratama tadi malam. Layarnya tidak berkedip dengan iklan judi yang murahan, melainkan dengan barisan logika yang tertata. Aku mulai mengetik, bukan untuk bermain, melainkan mencoba mencari tahu bagaimana kode itu bekerja. Namun, sebuah peringatan muncul di layar, memberitahuku bahwa akses ke folder sistem dikunci oleh administrator. Cak Wildan.

Aku menoleh ke arah meja kasir. Wildan sedang memperhatikan layar di depannya dengan saksama. Dia bukan hanya pengelola warnet. Dia adalah pengatur lalu lintas dari semua kegagalan yang terjadi di pulau ini, termasuk kekalahan Ibu di depan meja Haji Rokib. Aku menyadari bahwa aku tidak hanya terjebak dalam utang, tetapi juga terjebak dalam sistem yang dirancang agar aku tetap menjadi pengguna, bukan pencipta.

"Ada apa, Nabil? Kenapa tidak segera masuk?" suara Wildan terdengar berat, menekan pundakku dari belakang. Aku tersentak, menutup tab sistem dan kembali ke layar utama. Jantungku berdegup tak beraturan. Aku harus menemukan cara lain. Jika Pratama bisa memperbaiki kabel yang mati selama setahun, mungkin aku juga bisa memperbaiki apa yang rusak di hidupku, asal aku tahu di mana letak kerusakannya.

Aku keluar dari warnet lebih awal hari itu, mengabaikan tatapan heran teman-temanku. Aku tidak pulang ke rumah, melainkan memutar langkah menuju bengkel kecil di dekat dermaga. Aku teringat pada laptop tua yang pernah kulihat teronggok di sudut meja Pratama saat aku mengintip tadi. Jika aku bisa mendapatkan akses ke sana, mungkin aku bisa belajar sesuatu yang lebih berarti daripada sekadar menebak angka.

Di dermaga, nelayan-nelayan mulai bersiap untuk melaut. Angin malam ini terasa lebih dingin, menusuk kulit. Aku berdiri menatap perahu-perahu yang mulai meninggalkan pantai, membawa mimpi-mimpi yang seringkali kandas di tengah laut. Ayah dulu adalah salah satu dari mereka, seseorang yang berani menyeberang malam demi melunasi hutang yang sebenarnya sudah lunas, namun berakhir dengan kehampaan. Aku tidak ingin berakhir seperti itu. Aku tidak ingin menjadi bagian dari statistik yang hilang di muara.

Aku berjalan pulang dengan langkah yang lebih pasti. Meskipun aku belum tahu bagaimana cara memulainya, satu hal yang pasti: aku tidak akan lagi menyewa layar hanya untuk menunggu waktu habis. Jika Pratama benar, maka setiap detik yang kuhabiskan di depan layar haruslah menjadi sesuatu yang bisa kupertanggungjawabkan. Malam itu, aku tertidur dengan bayangan layar perak Pratama, menungguku untuk membuka pintu yang selama ini kukunci sendiri.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.