Bab 6 Gratis Novel Religi & Keluarga

Kunci yang Dijual Nabil

Kipas yang Macet

4 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 6

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Kunci yang Dijual Nabil

Bab 6

Gratis

Udara di kamar kos sederhana itu terasa berat, berbau debu dan logam panas yang terjebak di antara lembaran papan kayu dinding. Aku berdiri di ambang pintu, membeku saat melihat punggung Pratama yang membungkuk di atas meja. Laptop perak miliknya terbuka lebar, menampakkan isi perut mesin yang biasanya tertutup rapat. Berbagai obeng kecil berserakan di samping tumpukan komponen yang tampak rumit. Ia tidak menyadari kehadiranku. Napasnya teratur, namun sesekali ia mengembuskan napas panjang dengan bahu yang merosot. Laptop itu mati total. Tidak ada lampu indikator yang berkedip, tidak ada suara dengungan kipas yang biasanya menjadi tanda bahwa mesin itu sedang berpikir.

"Kipasnya macet," ucapku pelan, memecah kesunyian kamar yang hanya diisi suara gesekan obeng.

Pratama tersentak kecil, lalu menoleh ke arahku dengan alis terangkat. Ia tidak tampak terkejut, hanya sedikit lelah. Ia menggeser tubuhnya, memberi ruang agar aku bisa melihat lebih dekat ke bagian dalam laptop itu. Ada gumpalan debu yang tebal menyumbat bilah kipas kecil di sudut mesin. Persis seperti kondisi mesin tempel perahu Ayah yang seringkali mogok di tengah laut karena tersumbat garam dan kotoran.

"Sudah dua jam aku mencoba, tapi dayanya tidak mau masuk ke sistem," kata Pratama sembari meletakkan obengnya. "Mungkin ada jalur yang terputus atau komponen yang sudah menyerah pada usia."

Aku mendekat, mencium aroma minyak pelumas yang samar. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil sepotong lidi tipis yang tergeletak di meja, lalu secara perlahan menyapu debu yang menempel di bilah kipas. Aku teringat tangan Ayah yang kasar saat membersihkan karburator di dermaga, penuh ketelitian meski badai sedang mengintai di cakrawala. Aku memutar bilah kipas itu dengan ujung lidi, perlahan hingga pergerakannya kembali lancar. Setelah itu, aku menyambungkan kembali kabel daya yang terlihat longgar.

Pratama menekan tombol power. Suara desis halus muncul, disusul oleh deru kipas yang kini berputar ringan tanpa hambatan. Layar itu menyala, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajahnya yang letih. Ia menarik napas lega, namun sorot matanya tidak berpaling dari barisan kode yang mulai bermunculan di layar.

"Kamu punya tangan yang tenang, Nabil," ucap Pratama tanpa menatapku. Ia kemudian meraih buku catatan kecil yang bersandar di tumpukan kabel. Dengan pulpen yang ujungnya sudah sedikit pecah, ia menuliskan sesuatu di sana. Aku mengintip sekilas, melihat namaku tertulis dengan huruf-huruf tegas di baris paling atas. Pikiranku langsung melayang pada pengurus pesantren yang sering mencatat daftar santri bermasalah sebelum dilaporkan kepada Kiai.

Aku segera mundur selangkah, menjaga jarak seolah buku itu adalah daftar hukuman yang siap dieksekusi. Pratama menutup bukunya, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Ruangan itu mendadak terasa semakin sempit. Suara kipas laptop yang berputar halus di atas meja kini terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa waktu sebelum nasibku di pesantren diputuskan. Aku teringat bagaimana Pak Haris, ayah Pratama, selalu dianggap sebagai pengacau di masa lalu sebelum ia pergi meninggalkan pulau. Apakah ini yang akan terjadi padaku? Apakah setelah membantu memperbaiki mesinnya, aku justru menjadi orang pertama yang ia serahkan ke pengurus karena ketahuan sering berada di warnet?

"Kenapa kamu diam saja?" tanya Pratama pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kayu yang mulai lapuk.

Aku menelan ludah, mencoba mencari alasan yang tepat. "Tidak, Ustaz. Saya hanya... saya hanya tidak menyangka laptop ini bisa kembali menyala hanya karena debu. Biasanya, kalau mesin sudah tidak bisa hidup, kami akan membuangnya atau menjualnya sebagai besi tua ke pengepul di dermaga."

Pratama terkekeh, suara tawanya kering dan pendek. "Besi tua masih punya nilai, Nabil. Tergantung siapa yang memegang kuncinya. Sama seperti layar warnet yang kamu sewa setiap malam. Kamu membayar untuk waktu, tapi kamu tidak pernah menanyakan apa yang bisa kamu bangun dengan waktu tersebut."

Aku terdiam. Dadaku sesak. Ia tahu. Pratama tahu persis ke mana saja langkahku selama ini. Aku merasa seperti pencuri yang tertangkap basah, meski ia belum mengatakan apa pun tentang warnet milik Cak Wildan. Aku bergegas berpamitan, langkah kakiku terasa berat menuruni tangga kayu menuju halaman pesantren yang mulai gelap.

Di luar, udara malam terasa dingin, membawa bau garam dari arah laut. Aku berjalan melewati deretan asrama, menghindari sorot lampu utama. Kepalaku penuh dengan bayangan namaku yang tertulis di buku itu. Jika aku dilaporkan, Ibu akan tahu. Jika Ibu tahu, itu akan menjadi pukulan terakhir bagi kesehatannya. Setiap kali memikirkan wajah Ibu yang pucat saat menungguku di dermaga, rasa bersalah itu merayap lebih dalam daripada rasa lapar yang sering menemaniku di malam hari.

Besoknya, di warnet, Cak Wildan menyambutku dengan senyum yang terlalu lebar. Ia baru saja mengganti perangkat keras di salah satu bilik paling ujung. Matanya menatap layar kasir dengan tajam saat aku masuk.

"Sudah ada progres dengan orang yang di pesantren itu?" tanya Wildan tanpa basa-basi.

Aku menghentikan langkahku sejenak. "Dia hanya guru, Cak. Dia memperbaiki laptopnya sendiri."

Wildan tertawa pelan, lalu menyodorkan sebuah voucher internet baru. "Guru atau bukan, dia punya akses yang tidak dimiliki orang pulau ini. Dekati dia. Cari tahu apa yang sebenarnya dia simpan di balik kode-kode yang dia tulis. Kamu tahu, kan, Nabil, beasiswa ibumu tidak akan bertahan selamanya tanpa bantuan dari teman-teman seperti kami?"

Aku meraih voucher itu, namun tanganku gemetar. Ucapan Wildan terasa seperti jerat yang semakin mengencang di leherku. Aku teringat kembali pada Pratama yang menulis namaku. Mungkin, catatan itu memang bukan untuk pengurus pesantren. Mungkin, Pratama sedang memetakan sesuatu yang jauh lebih besar, dan aku, tanpa sadar, telah berada di pusat pusaran itu. Aku duduk di depan komputer, menatap layar yang kini terasa asing. Aku tidak membuka situs judi, tidak juga membuka game yang biasa kumainkan. Aku membuka terminal, mencoba meniru perintah-perintah yang kemarin sempat kulihat di laptop Pratama.

Namun, sistem warnet ini terkunci rapat. Wildan telah membatasi segalanya. Aku merasa seperti burung yang sayapnya dipotong, hanya bisa menatap langit dari balik jeruji besi yang dibuat oleh orang yang mengaku sebagai penyelamatku. Aku merindukan cara kipas itu berputar setelah aku membersihkannya. Sederhana, mekanis, dan jujur. Di sana, di kamar kos Pratama, tidak ada sandi yang disembunyikan, tidak ada rahasia yang disimpan di balik buku kas. Hanya ada alat yang perlu diperbaiki.

Aku menoleh ke arah jendela, melihat ke arah menara masjid yang puncaknya samar-samar tertutup kabut malam. Aku teringat nasihat Pratama soal membuat sesuatu. Apa yang bisa dibuat oleh anak nelayan yang bahkan tidak memiliki rumah sendiri? Aku menarik napas panjang, menatap pantulan wajahku di layar monitor yang hitam. Aku tidak akan membiarkan hidupku berakhir sebagai kurir judi atau anak yang dibuang oleh pesantren.

Kembali ke kamar Pratama sore itu, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu lagi. Kali ini tidak ada perbaikan mesin. Aku hanya ingin tahu apa yang ia tulis di buku itu. Pratama membukakan pintu, wajahnya tampak lebih segar dari kemarin. Ia sedang menyesap kopi hangat yang aromanya memenuhi ruangan.

"Kamu lagi," ujarnya dengan nada yang tidak bisa kutebak. Ia tidak melarangku masuk, malah memberikan isyarat dengan dagunya ke arah kursi kayu kecil di sudut.

"Ustaz, apa yang Ustaz catat tentang saya kemarin?" tanyaku langsung, tidak sanggup lagi memendam kecemasanku.

Pratama meletakkan cangkirnya. Ia menatapku cukup lama, membuatku merasa seolah seluruh rahasia di kepalaku terbaca olehnya. Ia kemudian meraih buku catatan yang kemarin tergeletak di meja.

"Kamu ingin tahu?" tanyanya singkat. Ia membuka halaman tersebut, namun tidak memberikan buku itu padaku. Ia hanya membacanya dalam hati. "Ini bukan daftar pengurus pesantren, Nabil. Ini daftar anak-anak yang menurutku punya potensi untuk melihat dunia jauh melampaui pulau ini, tapi mereka justru terperangkap dalam sistem yang tidak memberi mereka ruang untuk bernapas. Namamu ada di urutan pertama karena kamu satu-satunya yang paham bahwa mesin yang macet bukan berarti mesin yang rusak."

Aku membeku. Jadi, aku bukan target untuk dilaporkan. Aku adalah target untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berat dari sekadar hukuman pengurus pesantren, namun terasa lebih menakutkan karena ia menuntut tanggung jawab atas bakat yang selama ini kusia-siakan di warnet.

"Kenapa saya?" bisikku.

"Karena kamu butuh kunci untuk membuka pintu yang selama ini kamu kunci sendiri," jawabnya. Ia kembali menuliskan sesuatu di buku itu, lalu menutupnya dengan bunyi gedebuk yang pelan. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa lega atau semakin takut, karena di luar sana, Cak Wildan masih menunggu laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi di kamar ini.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.