Bab 7 Gratis Novel Religi & Keluarga

Kunci yang Dijual Nabil

Kotak Amal yang Terlalu Ringan

3 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 7

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Kunci yang Dijual Nabil

Bab 7

Gratis

Layar monitor di warnet Cak Wildan tampak lebih redup dari biasanya, atau mungkin mataku saja yang sudah terlalu lelah menatap deretan angka yang tidak kunjung memberikan kemenangan. Saldo akunku di situs judi online itu sudah menyentuh angka nol, dan dua ratus ribu rupiah yang kupinjam dari saku celanaku sendiri, uang yang seharusnya kusimpan untuk biaya perahu Ibu besok, telah raib ditelan mesin algoritma yang kejam. Aku terduduk kaku, memandangi kursor yang berkedip di pojok layar, seolah mengejek kebodohanku sendiri. Napas terasa sesak, membayangkan Ibu yang besok pagi harus duduk di dermaga, menunggu perahu yang tidak mungkin datang jika aku tidak memiliki uangnya.

Aku beranjak dari kursi, berjalan gontai menuju pojok masjid dekat warnet tempat kotak amal TPQ diletakkan. Suasana sunyi, hanya ada suara derit pintu kayu yang tertiup angin laut. Dengan tangan gemetar, aku membuka gembok kecil kotak amal itu menggunakan kunci cadangan yang pernah ditemukan Rendi di bawah karpet pesantren minggu lalu. Aku mengambil dua lembar uang seratus ribu, menggantinya dengan harapan kosong untuk mengembalikan uang itu sebelum Jumat tiba. Pikiranku kacau, namun kebutuhan Ibu selalu menempati posisi pertama di atas rasa takut akan dosa.

"Ternyata kau tidak sebersih yang kelihatannya, Nabil," suara itu muncul dari balik bayang-bayang pilar masjid. Rendi berdiri di sana, menyilangkan tangan di dada dengan senyum miring yang tidak sampai ke matanya. Ia tidak terlihat marah, justru tampak tenang, seolah apa yang kulakukan adalah hal yang sangat biasa di dunia kami.

Aku membeku, memegang uang itu erat-erat di dalam saku. "Aku hanya meminjamnya, Rendi. Aku akan mengembalikannya segera."

Rendi berjalan mendekat, aroma rokok kretek yang tersisa di bajunya tercium tajam di udara malam yang asin. Ia menepuk bahuku dengan keras. "Tenang saja. Aku tidak peduli kau mau mencuri atau meminjam. Tapi kalau kau butuh uang cepat, jangan pakai kotak amal. Itu recehan yang tidak cukup untuk menutupi utang Rokib."

"Apa maksudmu?" tanyaku, merasa jantungku berdegup tidak karuan.

Rendi mengeluarkan ponsel tuanya, mengetik sesuatu di layar yang retak, lalu menatapku lekat-lekat. "Ada orang di daratan yang membayar anak-anak seperti kita untuk menyelesaikan tugas kecil. Hanya menginput data, atau memindahkan file dari satu server ke server lain. Bayarannya jauh lebih besar daripada uang receh di kotak amal itu."

Aku menggeleng pelan, meski tanganku sudah berkeringat. "Aku tidak mau terlibat dengan urusan ilegal di luar sana. Aku sudah cukup bermasalah dengan Cak Wildan."

Rendi tertawa pendek, lalu menarik tanganku. Dengan ujung pena, ia menuliskan sebuah deret angka di telapak tanganku.

Aku menepis tangan Rendi dengan kasar. Tinta pulpen yang basah di telapak tanganku terasa seperti cap stempel seorang pesakitan. Aku tidak menjawab tawarannya, melainkan segera melangkah keluar dari serambi masjid menuju jalan setapak yang membelah pemukiman nelayan. Angin malam membawa bau amis ikan yang membusuk, beradu dengan aroma kayu terbakar dari dapur-dapur penduduk Karang Asta. Langkahku berat, seolah setiap inci tanah kapur yang kupijak menghisap sisa keberanianku. Di dalam saku celanaku, uang dua ratus ribu rupiah itu terasa seperti bongkahan batu yang membakar kulit.

Sesampainya di rumah, aku mendapati pintu kayu yang sudah dimakan rayap sedikit terbuka. Cahaya lampu minyak dari dalam rumah tampak temaram, memantulkan bayangan Ibu yang sedang berbaring di dipan bambu. Napasnya terdengar pendek dan kasar. Aku mendekat, menyalakan lampu dinding dengan tangan gemetar. Wajah Ibu tampak pucat, dengan kulit yang terlihat lebih kusam dibanding minggu lalu. Ia menatapku tanpa bertanya dari mana aku datang, namun matanya yang sayu seolah bisa membaca kegelisahan di balik bahuku yang bungkuk.

"Sudah makan, Nabil?" suaranya serak, nyaris tenggelam oleh suara debur ombak yang menghantam karang di bawah gubuk kami.

"Sudah, Bu. Tadi di warnet Cak Wildan ada makanan ringan," jawabku berbohong. Aku tidak sanggup menatap wajahnya lebih lama. Aku tahu besok pagi, saat subuh masih menggantung di langit, perahu sewaan akan menunggu di dermaga. Jika aku gagal membawa uang itu, Ibu tidak akan bisa berangkat ke daratan untuk cuci darah. Utang Haji Rokib yang menumpuk di buku kas, ditambah biaya medis yang tak kunjung usai, telah mengubah hidup kami menjadi siklus keputusasaan yang berulang.

Aku masuk ke dapur, mencoba menyibukkan diri dengan mencuci piring sisa makan siang. Tanganku tanpa sadar menengadah, melihat kembali deretan angka yang ditulis Rendi. Angka-angka itu tidak hanya sekadar nomor telepon. Itu adalah pintu masuk menuju dunia yang selama ini ditakuti oleh Pratama dan dianggap sebagai jalan pintas oleh Cak Wildan. Aku teringat apa yang dikatakan Pratama tentang tanggung jawab atas layar. Namun, bagaimana aku bisa bertanggung jawab atas layar jika untuk sekadar bernapas saja aku harus berutang pada kotak amal masjid?

"Jangan terlalu memaksakan diri bekerja di warnet, Nabil," Ibu berbicara dari arah dipan, suaranya kini lebih tegas meski fisiknya lemah. "Ayahmu dulu sering bilang, laut tidak pernah berbohong kepada nelayan yang jujur. Jika kita berusaha dengan cara yang benar, hasilnya akan berkah meski sedikit."

Aku terdiam. Kejujuran Ayah adalah sesuatu yang membuat kami kehilangan segalanya saat Haji Rokib mempermalukannya di dermaga. Ayah yang memilih melunasi utang dengan mempertaruhkan nyawanya di laut lepas justru berakhir sebagai nama yang hilang ditelan ombak. Aku menggenggam erat telapak tanganku, menghapus coretan pena itu dengan air, namun tintanya justru melebar, meninggalkan noda hitam yang makin sulit dibersihkan.

Aku menghabiskan sisa malam dengan menatap langit-langit atap yang bocor. Rendi benar tentang satu hal: dunia di daratan memang bergerak jauh lebih cepat daripada perahu nelayan kami. Jika aku tetap di sini, menjadi pengembang yang dibatasi oleh administrator Cak Wildan, aku hanya akan berakhir seperti Rendi, menjadi kurir yang tidak dihargai. Namun, jika aku menggunakan nomor itu, aku akan mengkhianati kepercayaan Kiai Mahfud dan harapan Pratama yang mulai melihat potensi di diriku. Aku masih memegang nomor itu di pikiranku. Aku belum meneleponnya, namun setiap kali aku memejamkan mata, deretan angka itu muncul seperti mantra yang menjanjikan jalan keluar instan.

Keesokan harinya, matahari terbit dengan warna kemerahan yang pucat. Aku mengantar Ibu ke dermaga tepat saat perahu Pak Kusnan bersandar. Ibu naik dengan susah payah, dibantu oleh sesama pasien yang juga akan melakukan cuci darah. Saat perahu mulai menjauh, aku berdiri di dermaga hingga sosok Ibu hanya menjadi titik hitam di tengah laut yang tenang. Aku kembali ke warnet, bukan untuk bermain game, melainkan untuk melihat apakah ada celah dalam sistem yang bisa kupelajari. Namun, Cak Wildan sudah berdiri di depan pintu, menungguku dengan senyum yang dipaksakan.

"Bagaimana, Nabil? Apakah kau sudah mendapatkan data yang kuminta dari laptop Pratama?" tanya Wildan dengan nada yang merendahkan.

Aku menggeleng. "Dia belum membukanya lagi di depanku, Cak."

Wildan menatapku tajam. "Jangan buat aku kecewa. Beasiswa ibumu bergantung pada hal-hal kecil yang kau kerjakan untukku. Jangan sampai aku harus menagih jaminan rumah itu kepada ibumu saat dia baru saja pulang dari rumah sakit."

Ancaman itu terasa seperti pisau yang ditusukkan ke tengkukku. Aku masuk ke ruang warnet, menyalakan komputer, namun tanganku justru membuka notepad kosong. Aku mulai mengetikkan angka yang diberikan Rendi semalam sebagai pengingat di layar monitor. Aku belum meneleponnya, aku belum memberikan data apa pun kepada orang di daratan tersebut, dan aku belum mengembalikan uang kotak amal itu.

Aku hanya berdiri di persimpangan jalan yang gelap, memegang kunci yang mungkin akan menghancurkan masa depanku sendiri. Aku menolak untuk menyerah pada sistem Wildan, namun aku juga belum memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri. Dengan tangan gemetar, aku kembali mematikan layar, menatap pantulan diriku sendiri di monitor yang mati. Aku tidak bisa terus seperti ini.

Namun, saat aku berjalan keluar warnet, aku menyadari bahwa aku masih mencatat nomor itu di telapak tanganku, sebuah jejak rahasia yang siap kupanggil kapan saja aku merasa sudah tidak sanggup lagi.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.