Kunci yang Dijual Nabil
Bab 8
Ruangan bengkel komputer itu terasa dingin, kontras dengan udara dermaga yang lengket oleh garam dan bau amis ikan. Pratama menunjuk layar monitor tua yang menyala redup, menampilkan deretan teks hitam dengan latar hijau pucat. Aku berdiri mematung di sampingnya, masih merasakan getaran aneh di jemari setelah tadi pagi berhasil melarikan diri dari tatapan tajam Cak Wildan di warnet. Pratama tidak memintaku memperbaiki apa pun kali ini. Ia hanya menggeser kursi plastik, lalu mengetik sesuatu dengan ritme yang tenang.
"Perhatikan ini, Nabil," ucap Pratama. Ia menekan tombol enter. Sesaat kemudian, sebuah lampu bohlam kecil di sudut meja bengkel yang tadinya mati, tiba-tiba menyala terang. Aku tersentak. Tidak ada kabel yang tersambung ke sana secara kasat mata, hanya rangkaian logika yang ia susun di layar.
"Hanya enam baris kode," lanjutnya tanpa menoleh padaku. "Kamu sering menghabiskan malam di warnet untuk menang melawan musuh virtual, tapi pernahkah kamu terpikir bahwa layar itu bukan cuma tempat untuk menang? Layar itu adalah alat untuk membuat sesuatu yang nyata."
Aku menatap lampu itu lekat-lekat. Sesuatu di dadaku terasa sesak. Selama ini, aku hanya menggunakan komputer untuk memanipulasi angka agar bisa bermain lebih lama, bukan untuk menciptakan cahaya. "Tapi, semua ini hanya simulasi," jawabku pelan, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaraku.
Pratama memutar kursi, menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan. "Simulasi adalah cara kita belajar sebelum menghancurkan sesuatu yang asli. Kalau kamu bisa membuat lampu menyala dari baris kode, bayangkan apa yang bisa kamu lakukan untuk ibumu."
Aku tersentak. Namanya disebut seolah ia tahu beban yang kupanggul. Aku teringat joran peninggalan Ayah yang tadi pagi kulepas kepada pengepul barang bekas di pasar. Uang di sakuku terasa panas, hasil dari menjual satu-satunya benda yang membuatku merasa masih memiliki hubungan dengan pria yang hilang di laut itu. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan amplop berisi uang hasil penjualan joran tersebut. Aku tahu uang itu tidak cukup untuk melunasi utang Haji Rokib, tapi itu cukup untuk mengembalikan uang kotak amal yang kucuri kemarin.
"Saya harus pergi, Kak," ucapku sambil berpamitan dengan sopan, mencoba menutupi kegugupanku. Pratama hanya mengangguk, membiarkanku melangkah keluar. Saat aku berjalan kembali ke arah masjid, rasa bersalah itu terasa jauh lebih berat daripada beban utang yang menumpuk di rumah. Setibanya di sana, aku memasukkan uang itu ke celah kotak amal kayu di serambi, berharap Tuhan masih mau menerima sesuatu yang kotor untuk disucikan kembali.
Jalan setapak menuju rumahku terasa lebih panjang dari biasanya. Angin laut malam ini membawa aroma garam yang menusuk, seolah mengingatkan bahwa setiap langkahku di pulau ini selalu diawasi oleh pasang surut yang tak menentu. Aku masuk ke rumah melalui pintu dapur yang sudah rapuh, suara engselnya yang berderit memecah kesunyian malam. Ibu sedang duduk di kursi kayu rendah, membelakangiku dengan napas yang terdengar berat dan terputus-tus, seperti gesekan amplas pada permukaan kayu.
Aku meletakkan tas di lantai, mencoba bersikap normal agar Ibu tidak bertanya tentang uang atau ke mana aku pergi seharian. Namun, setiap sudut ruangan ini seolah menagih jawaban. Bau obat-obatan dari RSUD yang masih menempel di jaketku bercampur dengan bau amis ikan asin yang dijemur Ibu pagi tadi. Aku melangkah mendekat, namun terhenti saat melihat tangan Ibu yang gemetar memegang pinggiran meja.
"Nabil, kamu sudah pulang?" suaranya lemah, hampir tenggelam dalam suara debur ombak di kejauhan. Ia tidak menoleh, tapi aku tahu ia menyadari kehadiranku dari bunyi derit pintu tadi.
"Sudah, Bu. Maaf telat, tadi mampir ke bengkel sebentar," jawabku pelan sambil mendekatinya. Aku ingin menyentuh bahunya, tapi aku takut getaran tanganku akan membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang aku sembunyikan.
Ibu menarik napas panjang, lalu mencoba berdiri. Kakinya yang bengkak tampak menyulitkannya untuk tegak. "Tadi Haji Rokib datang saat kamu tidak ada. Dia menanyakan perihal cicilan perahu yang bulan ini sudah lewat jatuh tempo. Ibu hanya bilang sedang berusaha mengumpulkan uangnya."
Jantungku seolah berhenti berdetak. Haji Rokib sudah mulai datang ke rumah. Ini artinya, Cak Wildan mungkin sudah memberikan sinyal bahwa aku mulai sulit dikendalikan. Aku merasa marah, tapi juga merasa tidak berdaya. Aku hanyalah seorang anak yang mencoba bertahan dengan baris kode, sementara di dunia nyata, utang adalah jerat yang perlahan mengencang di leher kami.
"Jangan pikirkan utang itu dulu, Bu. Fokuslah pada kesehatan Ibu," kataku sambil membimbingnya menuju tempat tidur. Ibu hanya tersenyum, senyum yang selalu membuat dadaku sakit karena di baliknya ada kepasrahan yang tak terucapkan.
Setelah memastikan Ibu berbaring dan meminum obatnya, aku kembali ke sudut ruangan tempat laptop tua milikku berada. Laptop itu adalah satu-satunya barang yang tersisa dari masa lalu Ayah, sebuah mesin yang sekarang menjadi senjata sekaligus ruang pelarianku. Layarnya yang pecah di bagian pojok kiri atas memancarkan cahaya biru yang redup, menerangi wajahku yang kusam.
Aku membuka program editor teks yang tadi diajarkan oleh Pratama. Jemariku yang tadi gemetar saat memasukkan uang ke kotak amal, kini terasa dingin dan kaku di atas keyboard. Aku mencoba mengingat kembali enam baris kode itu. Kuncinya bukan pada apa yang diprogram, melainkan pada logika yang membangun jembatan antara perintah dan tindakan.
Aku mulai mengetik. Huruf-huruf muncul di layar, satu demi satu. Setiap karakter yang kuketik terasa seperti peluru yang meluncur dari senapan. Aku tidak sedang bermain game sekarang. Aku sedang mencoba membangun sesuatu agar Ibu tidak perlu lagi pergi ke RSUD dengan perahu subuh yang dingin.
"Logika pertama, akses dasar," bisikku pada diri sendiri. Layar merespons dengan baris teks baru. Aku merasa seolah sedang memegang kendali atas sesuatu yang selama ini hanya bisa kulihat dari kejauhan. Pratama benar, layar ini adalah alat, bukan sekadar pelarian.
Di saat yang sama, aku mendengar suara batuk yang parah dari arah dapur. Itu bukan batuk biasa. Itu adalah suara batuk yang dalam, penuh dengan penderitaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Aku tidak berani menoleh, karena aku takut melihat apa yang ada di ember di samping tempat tidur Ibu.
Aku terus mengetik, mencoba mengabaikan suara yang kian memburuk itu. Aku harus menyelesaikan modul ini malam ini juga. Jika kode ini berhasil, aku bisa menawarkan sistem ini kepada pihak yang lebih baik, mungkin ke sekolah atau koperasi, untuk mendapatkan uang yang halal. Aku harus keluar dari jeratan Wildan sebelum rumah ini benar-benar disita.
Namun, suara batuk itu tiba-tiba berhenti, disusul oleh suara benda jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berat, dan jemariku berhenti di atas tombol spasi. Keheningan yang menyusul terasa lebih mencekam daripada suara debur ombak di luar sana. Aku memberanikan diri untuk berdiri, meski kakiku terasa seperti ditanam di lantai tanah rumah kami.
"Ibu?" panggilku, tapi tidak ada jawaban. Aku melangkah menuju dapur, cahaya dari layar laptop di kamar membayang di dinding, menciptakan siluet yang panjang dan menakutkan. Saat aku sampai di ambang pintu dapur, mataku menangkap bercak merah yang menetes di lantai kayu.
Ibu terbaring di samping ember, kepalanya terkulai lemah. Di dalam ember itu, aku melihat sesuatu yang membuat dunia seolah berhenti berputar. Darah segar bercampur dengan sisa air cucian, merah pekat di bawah lampu gantung yang redup. Malam itu, saat aku akhirnya berhasil menulis baris kode pertamaku sendiri, komputer memang merespons dengan sempurna, namun kenyataan di dapur justru menghancurkan segalanya.



