Bab 9 Gratis Novel Religi & Keluarga

Kunci yang Dijual Nabil

Darah di Ember Dapur

2 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 9

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Kunci yang Dijual Nabil

Bab 9

Gratis

Bau amis darah di dapur itu menusuk hidung, bercampur dengan aroma sisa cucian ikan asin yang belum sempat Ibu selesaikan. Aku mematung di ambang pintu, tanganku yang masih gemetar karena baris kode pertama di layar laptop kini hanya bisa mencengkeram kusen kayu. Ibu terbaring miring di lantai, napasnya memburu pendek-pendek. Di samping kepalanya, ember plastik itu berisi cairan merah pekat yang tampak begitu nyata dan mengerikan.

"Ibu?" suaraku pecah. Tidak ada jawaban, hanya rintihan pelan yang keluar dari sela bibirnya yang pucat.

Aku berlari mendekat, mengabaikan laptop yang masih menyala di meja kayu di ruangan sebelah. Tanpa memikirkan apa pun lagi, aku berteriak memanggil Pak Kusnan, tetangga terdekat kami. Kami menggotong tubuh Ibu ke atas gerobak kayu yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil tangkapan nelayan. Jalanan berbatu di Karang Asta terasa begitu panjang dan tidak rata. Setiap kali roda gerobak menghantam lubang, Ibu mendesah kesakitan. Aku terus memegang tangannya yang dingin, memohon agar ia tidak memejamkan mata.

Di puskesmas, dr. Laila menyambut kami dengan wajah yang langsung berubah tegang saat melihat kondisi Ibu. Ia memerintahkan perawat menyiapkan tandu. Ruangan tindakan terasa dingin, jauh lebih dingin daripada udara malam di dermaga.

"Nabil, dengarkan saya," ujar dr. Laila setelah memeriksa Ibu sejenak di ruang periksa. Suaranya rendah, berusaha tenang namun sorot matanya tidak bisa berbohong. "Ginjal Ibu sudah masuk ke tahap lima. Ini sudah sangat kritis."

Aku berdiri kaku, berusaha mencerna kata-kata dokter itu. Tahap lima. Angka itu terdengar seperti lonceng kematian.

"Apa artinya itu, Dok?" tanyaku pelan.

"Ibu butuh transplantasi ginjal segera. Biayanya ratusan juta," dr. Laila mengucapkannya nyaris seperti bisikan, agar tidak terdengar seperti vonis yang mutlak. "Kita harus segera merujuknya ke rumah sakit di kota. Kamu butuh biaya untuk ongkos transportasi dan penanganan awal di sana."

Sebelum aku sempat menjawab, pintu ruangan terbuka. Haji Rokib masuk dengan langkah mantap, menyapu ruangan dengan tatapan yang selalu membuatku merasa kecil. Ia mengenakan kemeja koko yang rapi, kontras dengan kondisi kami yang berantakan.

"Saya dengar Mardiyah masuk rumah sakit," suara Haji Rokib menggema, berat dan tenang. Ia meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja periksa. "Ini lima juta untuk ongkos rujukan. Saya tahu kamu tidak punya uang tunai sebanyak itu sekarang."

Aku menatap amplop itu, lalu menatap Ibu yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Haji Rokib menyodorkan sebuah buku kecil berwarna cokelat dan pulpen kepadaku. "Tanda tangani di sini, Nabil. Agar perahu dan rumahmu tetap aman sementara ibumu berobat."

Tanganku gemetar hebat saat memegang pulpen itu. Ujung mata penanya terasa tajam, menusuk permukaan kertas kuitansi yang disodorkan Haji Rokib. Di depanku, Ibu masih terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di punggung tangan kirinya. Suara detak monitor jantung di ruangan itu terdengar seperti irama yang semakin melambat. Aku menatap Haji Rokib, lalu bergantian menatap wajah Ibu yang pucat pasi, nyaris transparan di bawah lampu neon puskesmas yang berkedip-kedip.

"Cepat, Nabil. Waktu tidak menunggu orang yang ragu," desak Haji Rokib. Suaranya tidak lagi menunjukkan keramahan tetangga yang peduli. Ada nada mendesak yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku tidak punya pilihan lain. Bayangan utang lama yang mencekik Ibu, ditambah kenyataan pahit bahwa ginjalnya tidak lagi berfungsi, membuat otakku buntu. Aku tidak memikirkan bunga yang berlipat ganda atau bagaimana cara mengembalikannya nanti. Yang ada di pikiranku hanya satu: uang lima juta ini adalah napas tambahan bagi Ibu. Jika aku menolak, Ibu mungkin tidak akan pernah meninggalkan puskesmas ini dengan keadaan bernapas.

Dengan helaan napas panjang yang terasa menyesakkan dada, aku menorehkan tanda tanganku di bawah baris yang ditunjuk jari telunjuk Haji Rokib yang kasar. Huruf-huruf itu tampak goyah, mencerminkan ketakutan yang merayap di seluruh syarafku. Haji Rokib menarik kembali buku itu dengan gerakan cepat. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya yang gelap.

"Bagus. Sekarang, urusan rujukan itu sudah selesai. Fokuslah pada ibumu," ucapnya sambil memasukkan buku kecil itu ke dalam saku baju kokonya. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Suara langkah sepatunya di lantai keramik puskesmas terdengar seperti ketukan palu hakim yang mengunci nasibku.

dr. Laila masuk kembali ke ruangan tidak lama setelah Haji Rokib pergi. Ia menatapku dengan tatapan yang menyiratkan rasa iba sekaligus kecemasan. Ia melihat amplop yang tertinggal di meja.

"Nabil, apa yang baru saja terjadi?" tanyanya pelan.

"Saya hanya mengambil bantuan untuk biaya rujukan, Dok," jawabku lirih. Aku tidak berani menatap matanya. Aku tahu dia mungkin akan melarangku jika dia tahu itu berasal dari Haji Rokib.

dr. Laila menghela napas panjang. "Kamu masih sangat muda. Jangan sampai keputusan hari ini menjadi beban yang tidak bisa kamu pikul di masa depan. Ingat, rumah sakit di kota butuh administrasi yang bersih. Pastikan kamu memegang bukti pembayaran yang sah."

Aku hanya mengangguk pelan, meski kepalaku terasa pening. Aku tidak lagi memikirkan administrasi. Aku hanya ingin Ibu sadar. Aku mendekati tempat tidur Ibu, menggenggam tangannya yang sedingin es. Di sela-sela rasa takut yang mendera, aku teringat laptop tua milik Ayah yang tertinggal di atas meja kayu di rumah. Aku teringat baris kode yang baru saja kupelajari, tentang bagaimana sebuah sistem harus memiliki logika yang kuat agar tidak runtuh saat menerima input yang salah. Namun di sini, di dunia nyata, logikaku sudah runtuh sejak detik pertama aku setuju meminjam uang itu.

Malam itu, aku menghabiskan waktu dengan duduk di kursi besi yang keras di samping tempat tidur Ibu. Aroma obat-obatan dan cairan antiseptik memenuhi udara, menekan rongga dadaku. Aku mencoba memanjatkan doa, memohon petunjuk, namun pikiranku justru melayang pada kertas yang baru saja kutandatangani. Aku adalah seorang anak yang belum genap tiga belas tahun, tapi di mata hukum yang dibawa Haji Rokib, tanda tanganku sudah dianggap memiliki kekuatan hukum yang setara dengan orang dewasa. Itu berarti, setiap hutang yang aku sepakati malam ini adalah tanggung jawab yang akan mengejarku hingga bertahun-tahun ke depan.

Ibu mulai menggeliat pelan. Matanya terbuka sedikit, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. "Nabil?" bisiknya parau.

"Aku di sini, Bu," jawabku segera, mencondongkan tubuh ke arahnya.

"Apa... apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Jangan... jangan berurusan dengan Haji Rokib."

Aku menelan ludah dengan susah payah. Kebohongan itu terasa seperti kerikil di tenggorokanku. "Tidak, Bu. Ini hanya bantuan dari puskesmas. Semuanya akan baik-baik saja."

Ibu memejamkan mata kembali, napasnya terdengar sedikit lebih teratur meski masih terlihat sangat lemah. Aku merasa sangat kecil di ruangan itu. Aku menyadari bahwa di balik kebaikan yang tampak dari amplop itu, ada jerat yang telah terpasang rapi. Seseorang seperti Haji Rokib tidak akan pernah memberikan sesuatu tanpa mengharapkan timbal balik yang berkali-kali lipat nilainya. Dan aku, dengan kepolosan yang naif, telah memberikan kunci akses bagi mereka untuk menguasai sisa hidupku dan Ibu. Aku baru saja menyadari bahwa dengan tanda tangan itu, aku tidak hanya menggadaikan rumah, tapi juga masa depanku sendiri sebagai anak yang telah menandatangani kontrak di atas buku kas seorang rentenir, sebuah tindakan yang ternyata sah secara hukum meski aku hanyalah anak berusia tiga belas tahun.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.