Kunci yang Dijual Nabil
Bab 10
Udara bengkel terasa lebih dingin dari biasanya, bercampur dengan aroma timah solder dan debu kayu yang menempel di sudut-sudut meja. Pratama meletakkan sebuah benda logam kecil di telapak tanganku, dingin dan terasa berat. Ia menatapku dengan tatapan yang tenang, seolah ia bisa melihat melampaui rahasia-rahasia kecil yang selama ini kusimpan di balik saku seragam sekolah yang mulai memudar warnanya.
"Ini kunci cadangan bengkel, Nabil," ucapnya pelan sembari menyeka tangan dengan kain lap kotor. "Kadang, ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyewa komputer di warnet. Kamu bisa masuk ke sini kapan saja untuk belajar, terutama saat malam hari jika rumah terlalu bising untuk berpikir."
Aku menggenggam kunci itu erat-erat. Logamnya yang kasar beradu dengan kulit telapak tanganku, terasa seperti beban sekaligus jalan keluar. Selama ini, satu-satunya tempat bagiku untuk menyentuh layar hanyalah warnet milik Cak Wildan, tempat yang kini terasa seperti jebakan karena utang ibuku yang terus membengkak. Pratama memberiku akses tanpa meminta apa pun sebagai gantinya, sebuah kebaikan yang justru membuat dadaku terasa sesak oleh rasa bersalah.
"Terima kasih, Pak," jawabku singkat. Lidahku terasa kelu. Ada keinginan untuk menceritakan tentang buku kas Haji Rokib dan tanda tangan konyol yang baru saja kububuhkan di atas kertas bermaterai, namun aku menelannya kembali. Aku tidak ingin dia melihat kebobrokan keluargaku.
Setelah pamit, aku berjalan pulang melewati gang-gang sempit yang diapit rumah-rumah kapur. Langkahku berat, memikirkan bagaimana kunci ini harus kusimpan. Sesampainya di rumah, aku tidak langsung masuk ke kamar. Aku menuju dapur, membuka kaleng biskuit bekas yang sudah kosong dan berkarat di bagian tutupnya. Di dalamnya, sudah bersarang secarik kertas kuitansi utang dari Haji Rokib yang dilipat rapi dengan sudut-sudut yang mulai menguning.
Aku meletakkan kunci bengkel itu tepat di atas tumpukan kertas tersebut. Bunyi logam yang beradu dengan kertas tipis itu terdengar nyaring di keheningan dapur. Aku menatap keduanya cukup lama, membiarkan cahaya lampu minyak yang temaram memperlihatkan kontras di antara keduanya. Yang satu adalah kunci untuk membuka pintu masa depan melalui ilmu, yang lainnya adalah bukti bahwa masa depan itu sudah habis terjual sebelum aku sempat memulainya. Aku menyadari dengan getir bahwa kedua benda itu kini sama-sama menagihku. Kertas kuitansi itu menagih uang yang tidak kumiliki, sementara kunci ini menagih tanggung jawab agar aku menjadi orang yang bisa dipercaya. Aku menutup kaleng itu rapat-rapat, menguncinya seolah bisa menyembunyikan kenyataan bahwa aku sedang berdiri di antara dua jalan yang berlawanan arah.
Aku mendengarkan suara napas Ibu yang tersengal di balik pintu kamar. Ia tidak tahu bahwa di dalam kaleng biskuit ini, masa depan kami sedang ditarik ke dua kutub yang berbeda. Aku berjalan perlahan, mencoba tidak menghasilkan suara derit lantai kayu yang bisa membangunkan Ibu. Tanganku masih gemetar saat memasukkan kaleng itu ke dalam celah sempit di bawah dipan bambu. Sembunyi dari pandangan, tapi tidak dari ingatan. Kunci bengkel itu, yang awalnya terasa seperti pemberian cuma-cuma, kini menjelma menjadi beban yang jauh lebih berat daripada koin seribuan yang dulu kukumpulkan untuk menyewa warnet.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku duduk di depan laptop tua milik Ayah yang layarnya sudah mulai berkedip-kedip, seolah ikut merasakan kelelahan yang sama denganku. Aku membuka kembali dokumen kode yang sempat kubuat tadi siang. Baris-baris logika itu sekarang terasa asing. Biasanya, ketika aku mengetik, aku hanya memikirkan kepuasan melihat layar merespons dengan benar. Namun sekarang, setiap kali jemariku menyentuh papan tik, pikiranku melompat pada kunci di bawah dipan dan kuitansi di dalam kaleng. Apakah jika aku bisa membuat sistem yang hebat, Pak Pratama akan tetap percaya padaku setelah tahu aku berutang pada Haji Rokib demi biaya cuci darah Ibu? Pertanyaan itu terus berputar, lebih kencang daripada kipas laptop yang mulai menderu.
Esok paginya, aroma amis ikan asin yang dijemur Ibu di halaman depan menyambut indra penciumanku. Ibu sudah bangun lebih awal, meski wajahnya pucat pasi. Ia sedang berusaha mengumpulkan jemuran, gerakannya lambat dan kaku. Aku segera berlari ke luar, mengambil alih beban dari tangannya. Ibu menatapku dengan mata yang redup, namun ada senyum tipis yang dipaksakan. Aku tahu ia sedang menahan rasa sakit di perutnya, rasa sakit yang selalu ia sembunyikan dengan menanyakan apakah aku sudah belajar atau belum.
"Nabil, nanti kalau ke bengkel, jangan lupa bawa bekal yang Ibu siapkan di meja," ucapnya lirih. Suaranya serak, seperti ada pasir yang mengganjal di tenggorokannya. Aku mengangguk, tidak sanggup menatap matanya terlalu lama. Ada rahasia di balik tanda tanganku yang membuatnya merasa aman, padahal justru itu yang sedang menghancurkan fondasi rumah ini. Ibu percaya Haji Rokib adalah orang baik yang memberikan pinjaman karena kasihan. Ibu tidak tahu bahwa di balik angka-angka di buku kas itu, rumah kami sudah dicatat sebagai jaminan yang hampir jatuh tempo.
Saat aku sampai di bengkel, suasana sudah ramai oleh beberapa santri yang sedang membantu Pak Pratama membereskan kabel-kabel berserakan. Pak Pratama menyapaku dengan anggukan yang ramah, tidak ada kecurigaan sedikit pun di wajahnya. Ia justru memanggilku mendekat ke meja kerja utama. Di sana sudah terpasang papan sirkuit yang sedang ia rakit. Ia menjelaskan bahwa ia sedang membutuhkan seseorang yang teliti untuk memeriksa logika input pada modul yang akan ia pasang di pintu gerbang.
"Aku butuh bantuanmu, Nabil. Kamu punya mata yang jeli untuk melihat kesalahan kecil dalam kode," katanya. Aku merasa tersanjung, sekaligus merasa menjadi penipu ulung. Di satu sisi, aku sangat ingin membantu, tapi di sisi lain, aku merasa tidak pantas menerima kepercayaan ini. Aku mulai bekerja, tanganku lincah menyolder komponen-komponen kecil di atas papan sirkuit. Pak Pratama sesekali melihat dari balik bahuku, memberikan koreksi atau sekadar bertanya tentang apa yang kupikirkan. Untuk sesaat, aku merasa seperti anak biasa yang hanya peduli pada ilmu, bukan anak nelayan yang memegang surat utang rentenir.
Namun, ketenangan itu terusik saat Rendi muncul di ambang pintu bengkel. Ia tidak datang untuk belajar. Ia datang dengan gaya yang angkuh, ponsel pintar baru yang berkilauan di tangannya tampak sangat mencolok di tengah kesederhanaan bengkel Pak Pratama. Rendi memandangku dengan seringai mengejek. Ia tahu betul ke mana uang Ibu pergi, dan ia tahu betul bagaimana Wildan bekerja di balik layar warnet. Rendi berjalan mendekat, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh Pak Pratama.
"Wah, Nabil, sibuk sekali jadi babu orang Jawa?" ejeknya. Rendi tertawa, memutar-mutar ponselnya di udara. "Bos daratan baru saja kasih aku bonus karena setoran kemarin lancar. Kamu masih di sini, gratisan, mengabdi pada guru yang tidak tahu siapa kamu sebenarnya?"
Aku diam. Lidahku kelu. Aku tidak membalas karena pikiranku sedang bekerja dengan sangat cepat. Aku menghitung harga ponsel itu, membaginya dengan biaya satu kali perjalanan perahu ke RSUD untuk cuci darah Ibu. Ponsel itu mungkin bisa membayar dua kali perjalanan. Dan Rendi, dengan segala kebanggaannya, adalah budak dari sistem yang sama yang saat ini sedang mencekik keluargaku. Pak Pratama menoleh ke arah Rendi, wajahnya tetap datar namun matanya menatap tajam, membuat Rendi akhirnya pergi dengan perasaan canggung yang ia tutupi dengan tawa sumbang.
Aku kembali menatap layar laptop. Pak Pratama tidak menanyakan apa pun soal ucapan Rendi. Ia justru memberikan secangkir teh hangat dan memintaku fokus kembali pada modul absensi. Aku sadar, dunia di luar sana sedang menuntutku untuk memilih. Apakah aku akan terus terperosok dalam jerat Wildan dan Rokib demi bertahan hidup, atau mengikuti jalan yang ditawarkan Pak Pratama di bengkel ini. Kunci bengkel yang ada di saku celanaku terasa panas. Di rumah, ada kuitansi utang yang menagih uang yang harus kupenuhi dengan cara apa pun, dan di bengkel ini, ada kepercayaan yang menagihku untuk menjadi orang yang bisa diandalkan. Keduanya adalah penagih yang kejam dengan caranya masing-masing.



