Laut yang Menagih Janji
Bab 1
"Dermaga ini jauh lebih pendek dari yang aku ingat, Kin," ucapku sambil melangkah turun dari kapal cepat yang mesinnya masih bergemuruh pelan di belakang kami.
Kinanti membetulkan letak kacamatanya, menatap kayu-kayu lapuk yang kini tampak seperti jari-jari patah yang muncul dari permukaan air. "Mungkin karena abrasi laut yang kamu ceritakan itu, Raka. Atau mungkin kita yang sudah tumbuh terlalu besar untuk pulau kecil ini."
Aku mengabaikan nada bicaranya yang terdengar seperti sedang menganalisis data proyek. Bau amis laut yang pekat langsung menusuk hidung, bercampur dengan aroma solar dari kapal-kapal keruk yang tampak seperti raksasa besi di kejauhan. Aku mencari sosok Ayah di kerumunan orang yang menunggu di pangkal dermaga, namun yang kutemukan hanyalah Zahra, adikku, yang melambai dengan gelisah di dekat sebuah motor bebek tua.
"Mas Raka! Mbak Kinanti!" Zahra berlari kecil mendekat, wajahnya tampak lebih tirus daripada foto yang dikirimkan Ibu bulan lalu. Ia tidak menunggu kami sampai di daratan beton sebelum berbisik dengan suara tertahan.
Aku menoleh ke arah Kinanti sejenak, memberi isyarat agar ia menunggu, lalu maju dua langkah untuk merangkul bahu Zahra. "Ke mana Ayah, Zahra? Kenapa dia tidak ikut menjemput seperti janji di telepon?"
Zahra menghela napas, tangannya yang kasar karena sering membantu Ibu di kebun meremas ujung kerudung. "Ayah tidak bisa meninggalkan rumah, Mas. Dia sedang menghitung tumpukan kertas utang di ruang kerja. Dia bilang, setiap kali dia mencoba menjumlahkan angkanya, angka itu berubah menjadi beban yang lebih berat."
Aku merasakan otot rahangku mengeras. Kepulangan ini seharusnya menjadi solusi, sebuah titik temu antara rasionalitas kota dan keras kepalanya orang tua di kampung. Namun, melihat dermaga yang semakin tenggelam dan mendengar kabar tentang Ayah yang terkurung dalam hitungan, aku merasa rencana yang kubawa di dalam tas laptop terasa seperti secarik kertas yang sia-sia.
"Jangan terlalu dipikirkan, Zahra. Kita akan bicara nanti setelah sampai di rumah," kataku mencoba menenangkan, meskipun aku sendiri tidak yakin apakah rumah itu masih menyimpan ruang untuk diskusi.
Saat kami berjalan beriringan menuju arah desa, pandanganku terhenti pada papan reklame besar yang berdiri angkuh di batas dermaga. Itu adalah papan iklan resor mewah yang rencananya akan dibangun di sisi timur. Namun, bukan kemewahan gambar resor itu yang membuat langkahku terhenti mendadak. Di latar belakang desain grafis resor yang dipoles dengan warna biru langit yang menipu, sang desainer menggunakan siluet menara Masjid Darul Hikmah sebagai elemen pemanis. Mereka memakai rumah ibadah kami sebagai alat jualan untuk menjual tanah yang seharusnya dijaga oleh orang-orang seperti Ayah.
Aku terpaku cukup lama di depan papan reklame itu. Kinanti berhenti di sampingku, mengikuti arah pandanganku. Napasnya tertahan sejenak saat ia menyadari apa yang membuatku membeku. Siluet menara Darul Hikmah di papan itu tampak kontras dengan deretan vila bergaya minimalis yang digambarkan begitu rapi. Ini bukan sekadar promosi properti. Ini adalah klaim atas identitas pulau yang sedang mereka pelajari untuk digusur.
"Mereka tidak hanya ingin tanahnya, Raka," bisik Kinanti. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara debur ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga. "Mereka ingin membangun narasi bahwa kehadiran mereka di sini adalah berkah bagi pesantren, bukan ancaman."
Aku tidak menjawab. Tanganku mengepal di dalam saku jaket. Di kota, aku terbiasa melihat proyek-proyek besar yang menggeser permukiman lama, tapi melihat menara tempat kakekku dulu memanggil azan kini menjadi ornamen latar iklan resor benar-benar terasa seperti tamparan.
Zahra yang menyadari kami diam, ikut menatap papan reklame itu. Ia bergidik. "Ayah sudah melihatnya minggu lalu. Dia marah besar, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyiram papan itu dengan cat hitam di malam hari. Besok paginya, orang-orang resor sudah membersihkannya kembali seolah tidak terjadi apa-apa."
Aku mengalihkan pandangan dari papan itu ke arah Zahra. "Berapa banyak orang yang terlibat dalam proyek ini, Zahra? Apakah Pak Marzuki sudah benar-benar setuju dengan ini semua?"
Zahra mengangkat bahu, sorot matanya tampak lebih tua dari usianya. "Pak Kades selalu bilang ini demi kemajuan desa. Dia bilang, daripada tanah kita terus tergerus abrasi tanpa hasil, lebih baik kita menjualnya agar bisa membangun asrama baru yang lebih kokoh di lokasi lain."
Kinanti mengeluarkan buku catatan kecil dari tas selempangnya. Ia mulai menulis sesuatu dengan cepat, gerakannya tampak terukur seperti seorang peneliti yang sedang mengumpulkan data lapangan. Aku tahu dia sedang membandingkan apa yang dia lihat dengan lampiran dokumen yang dia bawa secara diam-diam.
"Jangan menulis di sini, Kin," bisikku memperingatkan. "Orang-orang Pak Marzuki ada di mana-mana. Kita tidak ingin dicap sebagai orang asing yang membawa masalah sebelum sempat menginjakkan kaki di rumah."
Kinanti menutup bukunya dengan sekali hentak. Ia menatapku tajam. "Aku hanya ingin memastikan bahwa apa yang aku bawa di tas ini tidak akan sia-sia, Raka. Jika tanah ini benar-benar milik koperasi seperti yang kamu duga, maka kita punya dasar hukum untuk menghentikan iklan bodoh ini."
Kami melanjutkan perjalanan menuju motor Zahra. Jalanan setapak menuju desa yang dulu terasa lebar, kini menyempit karena semak belukar yang tidak lagi terurus. Aku melihat ke arah timur, ke arah laut yang tampak lebih tenang namun menyimpan arus yang mematikan. Kapal keruk itu masih beroperasi, memuntahkan pasir dari dasar laut ke perut kapal besi yang besar.
"Bagaimana dengan Ibu?" tanyaku akhirnya, mencoba mengalihkan pembicaraan dari beban utang dan resor. "Apakah dia masih menulis?"
Zahra tersenyum kecil, namun matanya tidak ikut tersenyum. "Ibu selalu menulis, Mas. Tapi belakangan ini, dia lebih sering memegang kertas putih kosong dan hanya menatapnya selama berjam-jam. Dia bilang, dia sedang menunggu inspirasi datang dari debur ombak."
Aku terdiam. Ibu selalu menjadi tempatku pulang saat aku merasa dunia terlalu bising, tapi mendengar Zahra berkata demikian membuat dadaku sesak. Apakah Ibu juga sedang menyembunyikan sesuatu dariku, seperti Ayah yang menutupi ketakutannya di balik angka-angka utang?
Sesampainya di halaman rumah, aroma kayu bakar dan air laut yang asin menyambut kami. Rumah kami, bangunan tua dengan dinding kapur yang mulai mengelupas, tampak seperti saksi bisu yang sudah lelah berdiri. Pratama, Ayahku, berdiri di depan pintu dengan kemeja yang sudah lusuh dan kacamata tebal yang melorot ke hidung.
"Kalian sudah sampai," suaranya serak. Tidak ada pelukan, tidak ada senyuman penyambutan yang hangat. Ia hanya mengangguk ke arah Kinanti dengan sopan, lalu segera memalingkan wajah ke arah tumpukan kertas di meja kayu ruang tengah.
Aku membiarkan Kinanti masuk lebih dulu. Aku tahu dia sedang mengamati setiap sudut rumah, membandingkan kemiskinan yang tampak di depan mata dengan proposal yang aku janjikan padanya tentang masa depan yang lebih baik. Kami tidak datang untuk berlibur. Kami datang untuk menagih janji laut, atau mungkin, untuk menyerahkan diri pada takdir yang sedang dipertaruhkan di meja kayu itu.
Saat aku melangkah masuk, aku melewati cermin tua yang tergantung di dinding ruang tamu. Bayanganku tampak asing di sana, seorang pemuda yang mencoba membawa rasionalitas ke tempat yang sudah terlalu lama dihuni oleh luka masa lalu. Aku menyadari bahwa mungkin bukan tanah ini yang perlu diselamatkan, melainkan cara kami memandang rumah itu sendiri.
Pratama masih berkutat dengan kalkulatornya. Ia tidak menoleh saat aku duduk di sampingnya. Ia hanya menunjuk tumpukan berkas yang berserakan. "2,3 miliar, Raka. Itulah harga dari setiap jengkal tanah yang ingin kau jual untuk menyelamatkan masa depan."
Aku menarik napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Namun, sebelum aku sempat membuka mulut, suara Ibu terdengar dari balik tirai kamar. Suaranya pelan namun tegas, seolah dia sudah berdiri di sana sejak lama, menunggu saat yang tepat untuk memecah keheningan yang menyiksa.
"Utang bukanlah alasan untuk menjual akar, Pratama," ucap Ibu sambil melangkah keluar, tangannya meraba dinding kayu untuk menyeimbangkan tubuhnya. Aku baru menyadari betapa lambat gerakan kakinya, dan betapa kosong tatapan matanya yang kini tidak lagi tertuju padaku, melainkan pada titik yang tidak ada di udara.
Aku bangkit berdiri, hendak menuntun Ibu, namun ia menolak dengan lembut. Kinanti di sudut ruangan mematung, menatap Ibu dengan campuran rasa kagum dan kebingungan. Rumah ini tidak lagi menyimpan kehangatan yang aku ingat, melainkan sebuah medan perang di mana setiap penghuninya sedang berjuang dengan rahasia yang mereka simpan rapat-rapat.
Di luar, matahari mulai tenggelam, membiarkan kegelapan merayap perlahan ke arah pantai. Siluet menara di papan reklame itu kini seolah lenyap ditelan malam, namun bayangannya tetap menempel di kepalaku, sebuah pengingat bahwa di ujung pulau ini, janji bukan lagi soal kata-kata, melainkan soal siapa yang sanggup bertahan hingga pagi tiba.



