Laut yang Menagih Janji
Bab 2
Surat itu berada di atas meja kayu yang permukaannya sudah kasar karena usia. Aku menatap amplop cokelat dengan kop surat bank yang terasa begitu asing di mataku. Huruf-huruf di sana tidak lagi diam. Mereka menari, berenang ke kiri dan kanan, membentuk kabut hitam yang menyakitkan. Aku memicingkan mata, berusaha menangkap angka total utang yang dituliskan Faiz dalam catatannya, namun yang kulihat hanyalah coretan tinta yang saling bertabrakan.
"Zahra, kemarilah sebentar," panggilku pelan, mencoba menjaga suaraku agar tetap datar. Aku tidak ingin Raka atau Pratama mendengar nada gemetar dalam suaraku. Anak itu datang dengan langkah ringan, wajahnya selalu menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.
"Ada apa, Ibu? Apakah Ibu ingin aku membelikan sesuatu di pasar?" tanya Zahra sambil membetulkan posisi kerudungnya.
Aku tersenyum tipis, menggeser kertas itu sedikit ke arahnya. "Tolong bacakan angka-angka di surat ini untuk Ibu. Mata Ibu sedang sangat lelah, mungkin karena terlalu banyak membaca naskah di bawah lampu remang kemarin malam."
Zahra mengangguk tanpa curiga. Ia memungut kertas itu, membacanya dengan suara yang jernih dan tenang. Setiap angka yang ia sebutkan seolah menghujam tepat di ulu hatiku. Dua koma tiga miliar. Angka yang cukup untuk meruntuhkan dinding-dinding pesantren yang selama ini kami jaga dengan napas dan doa. Aku berpura-pura mengangguk, seolah sedang mencerna informasi tersebut, padahal pikiranku sibuk menyusun strategi untuk menutupi kabut yang kian menebal di depan mataku.
Suara langkah kaki di teras depan mengalihkan perhatian kami. Kinanti telah tiba. Ia berdiri di ambang pintu dengan membawa tas kecil, wajahnya tampak canggung namun terukur. Aku bangkit, menyambutnya dengan tangan yang sedikit meraba pinggiran kursi kayu. Aku harus memastikan bahwa menantu yang dibawa Raka ini bukan hanya sekadar perempuan berpendidikan kota, melainkan seseorang yang memiliki ketajaman rasa.
Aku mempersilakannya duduk. Di atas meja, aku sengaja meletakkan buku kumpulan esaiku dalam posisi terbalik. Sampulnya yang berwarna krem kontras dengan serat kayu meja. Aku ingin melihat apakah ia memiliki kebiasaan memperhatikan detail di sekitarnya, atau apakah ia hanya peduli pada apa yang tampak secara permukaan.
Kinanti duduk dengan sopan. Matanya sempat melirik ke arah buku itu, lalu ia menarik napas panjang. Tanpa aku minta, ia mengulurkan tangan dan membetulkan posisi buku tersebut agar terbaca dengan benar. Ia menatapku sejenak, lalu bertanya dengan nada yang sangat tenang, "Apakah huruf di sampul ini memang sengaja dibuat sebesar itu, Bu?"
Aku tertegun sejenak. Pertanyaan itu sederhana, namun terasa seperti tusukan jarum yang tepat sasaran. Aku mengamati jemari Kinanti yang kini terlipat di atas pangkuan. Ia tidak menunggu jawabanku dengan gelisah, melainkan menatap sampul buku itu dengan tatapan yang bisa kubaca sebagai sebuah apresiasi atau mungkin, kritik tersembunyi.
"Itu adalah keputusan editor saat cetakan kedua," jawabku berusaha tenang sembari meraba tepi meja untuk memastikan posisinya. "Mereka bilang pembaca muda butuh sesuatu yang langsung terbaca dari jarak jauh. Aku sendiri tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, isi jauh lebih penting daripada ukuran tipografi di kulit luar."
Kinanti tersenyum kecil. Senyum itu tidak sepenuhnya menyembunyikan ketegangan yang ia bawa dari kota. Ia menatap ke arah jendela, ke arah dermaga yang semakin pendek, lalu kembali menatapku. "Terkadang, Bu, apa yang terlihat jelas dari jarak jauh justru sering kali mengaburkan apa yang sedang retak di dekat kaki kita sendiri."
Aku merasakan jantungku berdesir. Apakah ia tahu tentang utang 2,3 miliar itu? Ataukah ia sedang membicarakan kondisi rumah ini secara metaforis? Zahra yang masih berdiri di dekat meja perlahan menarik diri, menyadari bahwa percakapan kami bukanlah percakapan biasa antara mertua dan calon menantu yang baru datang. Ia permisi untuk ke dapur, meninggalkan kami berdua dalam ruang tamu yang hanya diterangi lampu gantung temaram.
"Raka banyak bercerita tentang pulau ini," lanjut Kinanti dengan nada yang lebih rendah. "Tentang bagaimana setiap sudutnya menyimpan sejarah. Namun, melihat langsung dari dekat, aku merasa sejarah di sini lebih mirip dengan pasir yang terus berpindah. Ada sesuatu yang menuntut untuk diselesaikan, bukan sekadar dicatat dalam buku."
Aku mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan fakta bahwa pandanganku kini hanya berupa bayang-bayang samar. Kinanti adalah perencana wilayah. Ia terbiasa melihat peta, menghitung arus, dan memprediksi masa depan sebuah lahan. Jika ia melihat Karang Asta sebagai lahan yang sedang berdarah, maka ia pasti sudah memiliki data yang mungkin belum dimiliki suamiku.
"Apakah kau merasa pulau ini adalah tempat yang salah untuk memulai hidup, Kinanti?" tanyaku langsung. Aku ingin tahu apakah dia datang membawa niat untuk membantu, atau justru membawa rencana untuk membawa Raka pergi dari sini selamanya.
Kinanti terdiam. Ia tampak sedang menimbang kata-kata. Di luar, suara deburan ombak terdengar lebih keras dari biasanya, menghantam dinding batu yang sudah mulai retak di sisi utara. "Tidak ada tempat yang salah, Bu. Yang ada hanyalah tempat yang menuntut harga lebih mahal untuk setiap janji yang pernah diucapkan. Saya datang karena Raka percaya bahwa solusi bisa ditemukan jika kita berani melihat angka-angka yang selama ini disembunyikan."
Aku terkesiap. Angka. Apakah dia sudah tahu tentang cessie itu? Apakah dia sudah tahu bahwa bank telah mengalihkan utang pesantren kepada PT Wibawa Samudra Lestari? Aku harus berhati-hati. Pratama sangat menjaga martabat pesantren, dan jika ada orang luar yang ikut campur, apalagi seseorang dari kota yang punya akses ke data teknis, ini bisa menjadi bencana.
"Angka tidak selalu menceritakan kebenaran," ucapku dengan suara sedikit lebih tegas. "Di pulau ini, ada hal-hal yang tidak bisa dihitung dengan rumus statistik atau proyeksi pertumbuhan. Ada hubungan antara manusia dan tanah yang sudah terjalin lebih lama dari usia perusahaan mana pun."
Kinanti tidak mendebat. Ia justru menunduk, tangannya merogoh tas kecil dan mengeluarkan sebuah map tipis. Ia meletakkannya di meja, tepat di samping bukuku. "Saya tidak membawa statistik untuk mendebat Ibu. Saya membawa lampiran yang menurut saya perlu dibaca oleh Bapak, sebelum segala sesuatunya terlambat. Ini bukan soal angka, Bu. Ini soal bagaimana tanah ini nanti akan diingat."
Aku tidak bisa melihat isi map itu, namun aku bisa merasakan beratnya. Map itu terasa seperti sebuah bom waktu yang diletakkan di atas meja kayu yang rapuh. Kinanti kemudian bangkit, memberikan salam hormat sebelum ia melangkah menuju kamar tamu yang telah disiapkan Zahra.
Aku ditinggalkan sendirian bersama kegelapan yang semakin rapat. Aku mencoba meraih map itu, jemariku gemetar. Aku tahu, jika aku membuka ini, hidup kami tidak akan pernah sama lagi. Namun, aku juga sadar bahwa ketidaktahuanku selama ini hanyalah cara egois untuk bertahan hidup.
Aku memejamkan mata, membiarkan kegelapan yang sesungguhnya menyelimuti, dan dalam hening itu, aku mendengar suara langkah Pratama yang baru saja pulang dari bengkel. Ia berjalan dengan langkah berat, langkah seorang lelaki yang sedang membawa seluruh beban dunia di pundaknya tanpa pernah meminta bantuan siapa pun. Besok pagi, rumah ini akan penuh dengan suara, dengan debat, dan dengan keputusan yang mungkin akan mengubah nasib Darul Hikmah selamanya. Dan aku, dengan mataku yang kian tak berdaya, harus menjadi saksi bagi setiap retakan yang akan terjadi.
Aku meraih map itu, mendekapnya ke dada, dan berdoa agar esok pagi, cahaya tidak hanya datang dari matahari, tapi juga dari kejujuran yang akhirnya berani kami hadapi bersama.



